Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Tekanan Ekonomi Perparah Ketegangan Politik Iran

Ferdian Ananda Majni
16/1/2026 10:50
Tekanan Ekonomi Perparah Ketegangan Politik Iran
Ilustrasi(Media Sosial X)

IRAN menghadapi tekanan ekonomi terberat dalam sejarah modern setelah nilai tukar rial anjlok ke level terendah sepanjang masa. Turunnya nilai tukar itu memicu lonjakan harga pangan, memperparah kemiskinan dan mendorong gelombang demonstrasi yang kian meluas di tengah melemahnya posisi geopolitik Teheran.

Depresiasi mata uang secara langsung berdampak pada daya beli masyarakat. Sepanjang 2025, nilai rial tercatat merosot sekitar 45% terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini membuat biaya impor, termasuk gandum, minyak goreng dan produk farmasi melonjak tajam, yang kemudian direspons para pedagang dengan kenaikan harga di tingkat konsumen.

Lonjakan harga tersebut mendorong inflasi pangan ke level yang mengkhawatirkan. Menurut perkiraan Gavekal Research, inflasi pangan Iran mencapai sekitar 70% secara tahunan. 

Sejumlah media lokal melaporkan sekitar setengah dari populasi kini mengonsumsi kurang dari standar minimum 2.100 kalori per hari, mencerminkan semakin sulitnya masyarakat memenuhi kebutuhan dasar.

Tekanan ekonomi kian diperparah dengan kekeringan berkepanjangan serta lemahnya tata kelola sumber daya air. Kondisi yang berdampak langsung pada penurunan produksi pangan domestik. 

Di sisi lain, kemarahan publik juga dipicu oleh buruknya pengelolaan sumber daya alam. Pada Desember 2025, pemerintah menyesuaikan skema subsidi bahan bakar minyak (BBM), langkah yang menyebabkan kenaikan harga dan menambah beban biaya bagi rumah tangga maupun pelaku usaha.

Masalah struktural lainnya turut memperberat situasi. Pemadaman listrik yang berkepanjangan dan lemahnya pasar tenaga kerja, menekan aktivitas ekonomi, khususnya usaha kecil dan menengah. Banyak pelaku usaha dilaporkan terpaksa menutup bisnis akibat kondisi tersebut.

Seiring meningkatnya jumlah warga yang jatuh ke dalam kemiskinan, rasa frustrasi publik berkembang menjadi kemarahan terhadap kelompok elite yang dinilai memiliki koneksi politik dan tetap terlindungi dari dampak krisis. Dalam beberapa hari terakhir, gelombang protes menunjukkan tanda-tanda persatuan yang lebih luas dengan tuntutan perubahan politik yang semakin lantang.

Situasi ini tercermin dari langkah langka Grand Bazaar Teheran, yang selama ini dikenal sebagai basis konservatif pendukung pemerintah,  dilaporkan melakukan aksi mogok hampir dua pekan.

Di tengah tekanan domestik, posisi geopolitik Iran juga mengalami pelemahan signifikan. 

Tahun lalu, Presiden Suriah Bashar al-Assad digulingkan, mengakhiri salah satu aliansi strategis utama yang selama ini menopang pengaruh Teheran di kawasan. Iran juga menyaksikan sekutu-sekutunya, Hizbullah dan Hamas, terus dilemahkan oleh serangan di Libanon dan Gaza.

Ketegangan dengan Israel yang berlangsung secara berkala selama dua tahun terakhir mencapai titik kritis ketika Amerika Serikat melancarkan serangan mendadak terhadap fasilitas nuklir utama Iran pada Juni 2025. 

Presiden AS Donald Trump kemudian berulang kali melontarkan ancaman tindakan lanjutan, termasuk pernyataan dukungan terhadap demonstran di Iran.

"Terlepas dari apakah ancaman Trump dianggap kredibel atau tidak, pemerintah Iran kini menghadapi kemungkinan konflik yang nyata," kata Kepala Geoekonomi Timur Tengah, Dina Esfandiary. (Bloomberg/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya