GELOMBANG kekerasan yang melibatkan agen penegak hukum federal Amerika Serikat kembali memicu kemarahan publik. Pada Kamis (8/1/2026) waktu setempat, agen Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE) menembak dua orang di Portland, Oregon. Insiden berdarah ini terjadi hanya berselang satu hari setelah peristiwa mematikan serupa yang melibatkan agen federal di Minnesota.
Dua korban, yang diidentifikasi sebagai seorang pria dan seorang wanita, segera dilarikan ke rumah sakit terdekat setelah ditemukan dengan luka tembak serius. Hingga laporan ini diturunkan, kondisi medis keduanya masih belum dipastikan oleh pihak otoritas kesehatan setempat.
Kronologi Penembakan di Portland
Kepolisian Portland mengonfirmasi adanya keterlibatan agen federal dalam insiden tersebut. Penembakan mulai terdeteksi setelah salah satu korban menghubungi layanan darurat 911 untuk meminta bantuan medis segera.
"Pada pukul 14.24, petugas menerima laporan bahwa seorang pria yang tertembak menelepon meminta bantuan di area Northeast 146th Avenue dan East Burnside. Petugas yang merespons menemukan seorang pria dan wanita dengan luka tembak," tulis pernyataan resmi Kepolisian Portland, Jumat (9/1/2026).
Kepala Polisi Portland, Bob Day, menegaskan bahwa personelnya tidak terlibat dalam operasi federal tersebut. Ia juga mengimbau warga untuk tetap tenang, mengingat suasana emosional yang sedang tinggi menyusul penembakan Renee Nicole Good (37) oleh agen ICE di Minnesota sehari sebelumnya.
Klaim Bela Diri dan Kaitan dengan Jaringan Geng Venezuela
Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) merilis pernyataan bahwa agen patroli perbatasan sedang melakukan penghentian kendaraan yang ditargetkan pada pukul 14.19. DHS mengklaim penumpang kendaraan tersebut adalah target imigran ilegal yang berafiliasi dengan jaringan kriminal transnasional.
Pihak DHS menyebutkan bahwa target merupakan seorang imigran asal Venezuela yang diduga terkait dengan geng motor kejam Tren de Aragua. Kelompok ini disebut terlibat dalam serangkaian aksi prostitusi transnasional dan penembakan di wilayah Portland baru-baru ini.
Menurut versi DHS, saat agen memperkenalkan diri, pengemudi kendaraan mencoba melakukan perlawanan dengan cara "mempersenjatai" kendaraan atau mencoba menabrak petugas. "Karena takut akan keselamatan nyawanya, seorang agen melepaskan tembakan untuk membela diri," tulis pernyataan DHS tersebut.
Ketidakpastian Informasi dan Penyelidikan FBI
Meskipun DHS memberikan rincian spesifik mengenai status imigrasi dan keterlibatan geng, Kepala Polisi Bob Day memberikan catatan berbeda. Day menyatakan bahwa pihaknya belum memiliki bukti kuat apakah insiden ini benar-benar terkait dengan masalah imigrasi.
Selain itu, kepolisian setempat juga belum bisa mengonfirmasi klaim DHS mengenai upaya pengemudi yang ingin menabrak petugas. Saat ini, Biro Investigasi Federal (FBI) telah mengambil alih komando penyelidikan untuk memastikan transparansi dalam kasus penembakan oleh agen federal ini.
Respons Politik: Wali Kota Tuntut ICE Angkat Kaki
Insiden ini memicu reaksi keras dari pucuk pimpinan Oregon. Gubernur Oregon, Tina Kotek, mengecam peristiwa tersebut dan menyebutnya sebagai dampak dari kebijakan imigrasi yang dianggapnya sembrono di bawah pemerintahan saat ini.
Wali Kota Portland, Keith Wilson, mengambil langkah lebih jauh dengan menuntut penghentian total operasi ICE di wilayahnya. Ia menegaskan bahwa keselamatan warga dan perlindungan konstitusional harus menjadi prioritas utama.
"Kita tidak bisa tinggal diam sementara perlindungan konstitusional terkikis dan pertumpahan darah meningkat. Portland bukanlah tempat pelatihan bagi agen-agen militer," tegas Wilson.
Wilson secara resmi menyerukan agar ICE menghentikan seluruh aktivitas operasional di Portland hingga investigasi independen yang menyeluruh selesai dilakukan. "Komunitas kami berhak mendapatkan jawaban dan rasa aman," pungkasnya. (Metrotvnews/I-1)
