Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Investigasi Ungkap Jejak Inggris dalam Operasi Tentara Bayaran RSF Sudan

Ferdian Ananda Majni
22/12/2025 08:30
Investigasi Ungkap Jejak Inggris dalam Operasi Tentara Bayaran RSF Sudan
Warga Sudan.(Al Jazeera)

TAK jauh dari Stadion Tottenham Hotspur yang megah di London utara, berdiri sebuah blok apartemen yang tampak biasa saja. 

Bangunan bata berwarna krem itu tidak mencolok dan nyaris luput dari perhatian. Namun di balik tampilannya yang sederhana, tersimpan keterkaitan dengan kekerasan brutal yang terjadi ribuan kilometer jauhnya di Afrika.

Sebuah apartemen kecil satu kamar tidur di lantai dua, berlokasi dekat Creighton Road, menurut catatan resmi pemerintah Inggris, memiliki hubungan dengan jaringan perusahaan lintas negara yang terlibat dalam perekrutan besar-besaran tentara bayaran untuk berperang di Sudan

Para pejuang tersebut dikirim untuk mendukung Pasukan Pendukung Cepat atau Rapid Support Forces (RSF), kelompok paramiliter yang dituduh melakukan berbagai kejahatan perang, termasuk genosida.

Ratusan mantan prajurit Kolombia direkrut untuk bertempur bersama RSF, yang selama konflik di Sudan dituduh bertanggung jawab atas pemerkosaan massal, pembantaian berbasis etnis, serta pembunuhan sistematis terhadap perempuan dan anak-anak.

Para tentara bayaran asal Kolombia itu dilaporkan terlibat langsung dalam perebutan kota El Fasher di Sudan barat daya pada akhir Oktober. Pertempuran tersebut memicu kekerasan besar-besaran yang, menurut para analis, telah menewaskan sedikitnya 60 ribu orang.

Di tengah derasnya laporan tentang kekejaman tersebut, sebuah penyelidikan Guardian mengungkap adanya hubungan antara perekrutan tentara bayaran untuk operasi di El Fasher dan sejumlah alamat di London.

Apartemen di kawasan Tottenham itu tercatat atas nama sebuah perusahaan bernama Zeuz Global. Perusahaan tersebut didirikan oleh dua individu yang pekan lalu disebut dan dikenai sanksi oleh Departemen Keuangan Amerika Serikat karena peran mereka dalam merekrut tentara bayaran Kolombia untuk berperang demi RSF.

Kedua orang tersebut, ialah keduanya warga Kolombia berusia sekitar 50-an disebut dalam dokumen Companies House, lembaga pendaftaran perusahaan Inggris, sebagai penduduk Inggris.

Zeuz Global tercatat masih aktif. Sehari setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan sanksi pada 9 Desember, perusahaan itu secara mendadak memindahkan alamat operasionalnya ke pusat kota London. 

Pada 10 Desember, perusahaan tersebut mengumumkan detail alamat baru, dengan kode pos yang merujuk ke One Aldwych, sebuah hotel mewah bintang lima di kawasan Covent Garden.

Namun, baris pertama alamat baru yang dicantumkan Zeuz Global adalah 4dd Aldwych, yang justru sesuai dengan lokasi Hotel Waldorf Hilton, berjarak sekitar 100 meter dari One Aldwych.

Pihak One Aldwych maupun Waldorf Hilton menyatakan tidak memiliki hubungan apa pun dengan Zeuz Global dan mengaku tidak mengetahui alasan perusahaan tersebut menggunakan alamat atau kode pos mereka.

Para pakar menilai situasi ini memunculkan pertanyaan serius tentang bagaimana individu yang secara terbuka dikutuk oleh pemerintah AS atas peran mereka dalam memicu perang saudara di Sudan tampaknya tetap dapat mendirikan dan mengoperasikan perusahaan di Inggris.

Menteri Luar Negeri, Persemakmuran, dan Pembangunan Britania Raya, Yvette Cooper sebelumnya mengecam RSF atas pembunuhan sistematis, penyiksaan dan kekerasan seksual setelah kelompok tersebut merebut El Fasher. Amerika Serikat bahkan telah menuduh RSF melakukan genosida.

Peneliti sekaligus mantan anggota panel ahli PBB untuk Sudan, Mike Lewis mengakatan sangat mengkhawatirkan bahwa individu-individu kunci yang diklaim pemerintah AS mengarahkan pasokan tentara bayaran ini telah mampu mendirikan perusahaan Inggris yang beroperasi dari sebuah flat di London utara dan bahkan mengklaim bahwa mereka berdomisili di Inggris.

Ketika dimintai tanggapan mengenai aktivitas Zeuz Global, Companies House tidak memberikan respons. Lembaga tersebut juga menolak mengonfirmasi apakah individu-individu yang dikenai sanksi itu benar-benar tinggal di Inggris.

Upaya untuk menghubungi Zeuz Global juga tidak membuahkan hasil. Situs web perusahaan, yang dibuat pada Mei, hanya menampilkan keterangan dalam pembangunan tanpa informasi kontak.

Menurut Departemen Keuangan AS, sosok sentral dalam jaringan perekrutan tentara bayaran Kolombia untuk RSF adalah Alvaro Andres Quijano Becerra, warga negara ganda Kolombia-Italia dan pensiunan perwira militer Kolombia yang berbasis di Uni Emirat Arab.

Quijano dituduh memainkan peran utama dalam merekrut mantan tentara Kolombia untuk dikirim ke Sudan melalui agen tenaga kerja yang ia dirikan bersama. Istrinya, Claudia Viviana Oliveros Forero, juga dikenai sanksi karena kepemilikan dan pengelolaan agen tersebut.

Selain itu, seorang warga negara ganda Kolombia-Spanyol bernama Mateo Andres Duque Botero turut dikenai sanksi oleh AS karena mengelola bisnis yang diduga menangani aliran dana dan penggajian bagi jaringan perekrutan tersebut.

"Pada tahun 2024 dan 2025, perusahaan-perusahaan yang berbasis di AS yang terkait dengan Duque terlibat dalam banyak transfer uang, dengan total jutaan dolar AS," demikian pernyataan Departemen Keuangan AS.

Pada 8 April tahun ini, Duque dan Oliveros mendaftarkan sebuah perusahaan di London utara dengan nama ODP8 Ltd, yang kemudian berganti nama menjadi Zeuz Global, dengan modal awal £10 ribu atau US$13.3 ribu.

Tiga hari setelah pendaftaran perusahaan itu, RSF melancarkan serangan ke kamp pengungsi Zamzam dan membantai lebih dari 1.500 warga sipil. Setelah direbut, kamp tersebut diserahkan kepada tentara bayaran Kolombia yang kemudian bersiap melancarkan serangan ke El Fasher, sekitar delapan mil di sebelah utara.

Dokumen Companies House mencatat Duque dan Oliveros sebagai pemilik saham awal, dengan Oliveros terdaftar sebagai individu yang memiliki kendali signifikan atas perusahaan. Oliveros, warga Kolombia berusia 52 tahun, mencantumkan Inggris sebagai negara tempat tinggalnya.

Pada 17 Juli 2025, Duque ditunjuk sebagai direktur perusahaan dan juga tercatat sebagai penduduk Inggris. Para analis menilai perekrutan warga Kolombia telah memberi dampak besar pada dinamika konflik, termasuk pelatihan anak-anak sebagai tentara, serta peran mereka sebagai penembak jitu dan pasukan infanteri.

Mereka juga dilaporkan bertugas sebagai instruktur dan operator drone yakni teknologi yang dinilai berperan penting dalam jatuhnya El Fasher dan pertempuran di wilayah Kordofan yang berbatasan dengan Darfur.

"Perang di Sudan adalah perang berteknologi tinggi, dengan senjata berpemandu dan drone jarak jauh yang menyebabkan kematian warga sipil setiap hari. Senjata-senjata ini membutuhkan bantuan eksternal untuk beroperasi. Kita tahu bahwa operasi tentara bayaran Kolombia telah menjadi komponen utama dari bantuan eksternal ini," kata Lewis.

Ia menambahkan bahwa keterlibatan individu yang dikenai sanksi dalam perusahaan berbasis di London menyoroti lemahnya mekanisme pemeriksaan saat pendirian perusahaan.

"Memiliki perusahaan Inggris seperti ini adalah paspor bagi para penjahat untuk berbisnis dengan pihak-pihak yang sah. Dalam kebanyakan kasus, masih lebih sulit untuk bergabung dengan pusat kebugaran daripada mendirikan perusahaan Inggris," ujarnya.

Akibatnya, lanjut Lewis ada sejarah panjang dan terkenal tentang perusahaan cangkang Inggris yang digunakan untuk menjadi perantara senjata dan bantuan militer kepada aktor-aktor yang dikenai embargo di Sudan, Sudan Selatan, Libya, Korea Utara bahkan kepada ISIS.

Lewis menilai kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang sejauh mana pemerintah Inggris memastikan perusahaan domestik tidak terlibat dalam operasi tentara bayaran ilegal.

Seorang sumber pemerintah Inggris menyatakan bahwa penerapan verifikasi identitas wajib bagi direktur dan individu dengan kendali signifikan akan meningkatkan kejelasan mengenai siapa yang mendirikan dan mengendalikan perusahaan. 

Sumber tersebut menambahkan bahwa kewenangan baru Companies House telah membantu mengatasi data palsu dan memperkuat dukungan bagi kepolisian.

Keterlibatan warga Kolombia di Sudan pertama kali terungkap tahun lalu melalui penyelidikan media Kolombia La Silla Vacia, yang menemukan lebih dari 300 mantan tentara direkrut untuk berperang. Temuan itu memicu permintaan maaf dari Kementerian Luar Negeri Kolombia.

Seorang tentara bayaran baru-baru ini mengonfirmasi kepada Guardian bahwa ia melatih anak-anak di Sudan dan ikut bertempur di El Fasher.

Uni Emirat Arab, yang lama dituduh memasok senjata kepada RSF, juga dikaitkan dengan perekrutan tentara bayaran Kolombia. 

Laporan dari organisasi investigasi Sentry bulan lalu menuduh pengusaha Emirat yang memasok warga Kolombia ke RSF memiliki hubungan dengan pejabat senior UEA, meski tuduhan yang secara konsisten dibantah pemerintah UEA.

Juru bicara pemerintah Inggris menyampaikan bahwa pihaknya menyerukan penghentian segera kekejaman, perlindungan warga sipil, dan penghapusan hambatan akses kemanusiaan oleh semua pihak yang terlibat dalam konflik.

"Kami baru-baru ini memberikan sanksi kepada komandan RSF atas peran mereka dalam kekejaman di El Fasher," tulis mereka. (The Guardian/I-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik