Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Papan Reklame di London Soroti Dugaan Peran UEA dalam Perang Sudan

Ferdian Ananda Majni
22/12/2025 08:43
Papan Reklame di London Soroti Dugaan Peran UEA dalam Perang Sudan
RSF.(Al Jazeera)

PAPAN reklame digital berukuran raksasa yang menyoroti dugaan peran Uni Emirat Arab (UEA) dalam perang Sudan kini terpampang mencolok di pusat Kota London, Inggris.

Iklan tersebut diputar berulang setiap 80 detik tanpa henti, siang dan malam. Visual utamanya menampilkan gambar buatan kecerdasan buatan (AI) berupa seorang perempuan muda yang tengah berswafoto di kolam renang tanpa batas, dengan latar cakrawala Dubai.

Namun, tampilan layar ponsel dalam foto tersebut justru memperlihatkan pemandangan kehancuran akibat perang di Sudan, bukan panorama salah satu dari tujuh emirat itu. 

Dengan penanda lokasi bertuliskan Dubai, UEA, papan reklame tersebut memuat pesan "Foto selfie Anda tidak akan terlihat sebagus ini setelah Anda mengetahui apa yang mereka lakukan di Sudan,".

Gambar serupa juga diproyeksikan ke sisi sebuah kendaraan van yang berkeliling kawasan pusat kota London.

Kampanye ini diprakarsai oleh organisasi nirlaba Avaaz, yang bertujuan meningkatkan kesadaran publik tentang dugaan keterlibatan UEA dalam konflik Sudan, khususnya dukungannya terhada Rapid Support Forces (RSF) atau Pasukan Pendukung Cepat, kelompok paramiliter yang dituduh melakukan tindakan genosida.

Papan reklame tersebut dilengkapi dengan kode QR yang mengarahkan pemindainya ke sejumlah laporan investigatif mengenai peran UEA di Sudan, termasuk liputan dari Middle East Eye, The Guardian, dan The New York Times.

UEA secara konsisten membantah memberikan dukungan kepada RSF. Baru-baru ini, pemerintah Emirat menyatakan bahwa laporan Middle East Eye mengenai dugaan penggunaan pangkalan mereka di Bosaso, Somalia didasarkan pada rekayasa.

Namun demikian, berbagai indikasi keterlibatan UEA terus bermunculan selama konflik berlangsung.

Data pelacakan penerbangan, nomor seri persenjataan, kesaksian dari berbagai sumber di Timur Tengah dan Afrika, keterangan diplomat di Eropa dan Amerika Serikat, serta bukti rekaman video, menunjukkan bahwa UEA telah mengirimkan senjata dan bentuk dukungan lainnya kepada RSF. Kelompok ini dipimpin oleh Mohamed Hamdan Dagalo, yang diketahui memiliki hubungan lama dengan Abu Dhabi.

Rantai pasokan untuk RSF disebut melintasi wilayah-wilayah yang dikuasai sekutu dan mitra UEA, termasuk Libya selatan, Chad, Republik Afrika Tengah serta wilayah Puntland dan Somaliland di Somalia.

Sejumlah diplomat internasional mengatakan kepada Middle East Eye bahwa keterlibatan UEA dalam perang Sudan merupakan rahasia umum di kalangan komunitas diplomatik. 

Namun, kemampuan lobi Abu Dhabi yang kuat dinilai telah melindungi mereka dari kecaman terbuka maupun konsekuensi nyata.

Kampanye Avaaz ini secara khusus menyoroti kontras tajam antara citra UEA sebagai tujuan wisata mewah global dan perannya dalam konflik Sudan. Perang yang pecah pada April 2023 itu telah berkembang menjadi krisis kemanusiaan terbesar di dunia.

"Jika Uni Emirat Arab ingin mempertahankan reputasi Dubai sebagai destinasi utama untuk liburan mewah, mereka harus mengakhiri segala dukungan kepada milisi genosida yang melakukan kekejaman di Sudan. Bukti yang semakin banyak tentang peran mereka dalam pertumpahan darah tidak akan selamanya luput dari perhatian konsumen," kata Slseorang juru bicara Avaaz kepada Middle East Eye.

Pada Kamis lalu, media Emirat melaporkan bahwa hotel-hotel di UEA telah menerima lebih dari 23 juta tamu selama sembilan bulan pertama tahun 2025. Sektor pariwisata dan perjalanan dilaporkan menyumbang sekitar 70 miliar dolar AS terhadap produk domestik bruto emirat.

Departemen ekonomi dan pariwisata setempat mencatat lebih dari satu juta wisatawan dari Inggris mengunjungi Dubai tahun ini. Secara keseluruhan, UEA memiliki lebih dari 200 hotel mewah.

"Dubai sangat memikat, jujur saja," kata seorang warga London kepada para aktivis, dalam unggahan yang dibagikan Avaaz pada Jumat sore. 

"Saya tidak pernah mengaitkan Dubai dengan perang," ucapanya.

"Sungguh mengerikan," tambah orang lain. 

"Saya rasa saya tidak akan pergi ke Dubai sekarang," ujarnya.

Survei menunjukkan bahwa lebih dari separuh warga Inggris, atau sekitar 55 persen, percaya bahwa pemerintah Inggris seharusnya memprioritaskan pencegahan penggunaan senjata buatan Inggris di Sudan, meskipun langkah tersebut berpotensi merusak hubungan diplomatik dengan UEA.

RSF berakar dari milisi Janjaweed yang digunakan oleh rezim otoriter Sudan di bawah Omar al-Bashir pada awal abad ke-21 untuk menumpas pemberontakan di Darfur. Kelompok ini kemudian dilembagakan sebagai bagian dari negara dan militer Sudan pada 2013.

Namun pada April 2023, RSF memisahkan diri dari Angkatan Bersenjata Sudan atau Sudanese Armed Forces (SAF). Sejak saat itu, kedua pihak terlibat dalam konflik bersenjata yang telah memaksa lebih dari 14 juta warga Sudan mengungsi.

SAF, yang juga dituduh melakukan pelanggaran berat, diketahui menerima dukungan dari Mesir dan Turki. (Middleeasteye/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik