Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Mengapa Rusia Menentang Rencana Diskusi Senjata Nuklir Jepang?

Haufan Hasyim Salengke
21/12/2025 14:07
Mengapa Rusia Menentang Rencana Diskusi Senjata Nuklir Jepang?
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Andrey Rudenko.(Sputnik)

KETEGANGAN di kawasan Asia Timur terancam meningkat setelah Rusia melontarkan peringatan keras terhadap Jepang. Moskow menegaskan bahwa pengabaian sikap non-nuklir yang selama ini dipegang teguh oleh Tokyo hanya akan memperburuk situasi keamanan di kawasan tersebut.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Andrey Rudenko, menyatakan bahwa posisi Rusia terhadap isu ini sangat tegas dan negatif. Menurutnya, langkah menuju militerisasi nuklir oleh Jepang akan memicu reaksi balasan dari negara-negara tetangga yang merasa terancam.

"Kami yakin militerisasi Jepang hanya akan memperburuk situasi di Asia Timur Laut dan akan memprovokasi tindakan balasan yang sesuai dari negara-negara yang terancam oleh militerisasi tersebut," tegas Rudenko dalam wawancara dengan kantor berita TASS, Sabtu (20/12) waktu setempat, seperti dikutip Russia Today.

Perdebatan di Internal Tokyo

Polemik ini mencuat setelah Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, dilaporkan mempertimbangkan untuk memulai diskusi dengan sekutu-sekutunya mengenai revisi "Tiga Prinsip Non-Nuklir". Prinsip yang dipegang Jepang sejak pasca-Perang Dunia II tersebut mencakup janji untuk tidak memiliki, tidak memproduksi, dan tidak mengizinkan masuknya senjata nuklir ke wilayah Jepang.

Takaichi menilai bahwa larangan pengerahan senjata nuklir AS di tanah Jepang justru melemahkan daya tangkal (deterrence) nuklir Amerika Serikat di kawasan tersebut. Perdebatan semakin memanas ketika seorang pejabat senior di kantor PM Jepang sempat melontarkan pernyataan kontroversial kepada media, yang menyarankan agar Jepang secara mandiri memiliki senjata nuklir demi menghadapi lingkungan keamanan yang kian memburuk.

Komitmen Konstitusional

Menanggapi kegaduhan tersebut, Sekretaris Kabinet Jepang, Minoru Kihara, segera melakukan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa kebijakan nuklir Jepang tidak berubah dan pemerintah tetap berkomitmen penuh pada prinsip-prinsip non-nuklir.

Identitas Jepang sebagai satu-satunya negara di dunia yang pernah mengalami serangan bom atom (Hiroshima dan Nagasaki pada 1945) menjadikan isu nuklir sangat sensitif bagi publik domestik. Selama puluhan tahun, Jepang memilih untuk berlindung di bawah 'payung nuklir' Amerika Serikat alih-alih mengembangkan arsenalnya sendiri. (B-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya