Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Thailand-Kamboja Saling Tuduh Serang Warga Sipil, Upaya Intervensi Trump Ditolak

Ferdian Ananda Majni
11/12/2025 15:43
Thailand-Kamboja Saling Tuduh Serang Warga Sipil, Upaya Intervensi Trump Ditolak
Presiden AS Donald Trump.(Xinhua)

THAILAND dan Kamboja kembali terlibat saling tuding terkait serangan di kawasan perbatasan yang diperebutkan, dengan kedua pihak mengeklaim lawan menargetkan warga sipil. Di tengah meningkatnya ketegangan, keinginan Presiden AS Donald Trump untuk kembali melakukan intervensi mendapat penolakan.

Menurut pejabat dari kedua negara, sedikitnya 15 orang dilaporkan meninggal dalam rangkaian pertempuran terbaru. Lebih dari 500 ribu orang telah meninggalkan rumah mereka di wilayah perbatasan, tempat jet tempur, tank, hingga drone digunakan dalam operasi masing-masing pihak.

Bentrokan yang pecah sejak Senin itu kini bereskalasi menjadi salah satu konfrontasi paling intens sejak Juli, ketika Trump turut campur tangan untuk menghentikan pertempuran.

AS Ingin Campur Tangan

Dalam pidato Selasa (9/12) malam waktu AS, Trump menyatakan tekadnya untuk meredakan konflik yang kembali memanas.

"Saya benci mengatakan ini, yang bernama Kamboja-Thailand, dan itu dimulai hari ini, dan besok saya harus melakukan panggilan telepon," kata Trump.

"Siapa lagi yang bisa mengatakan, Saya akan menelepon dan menghentikan perang antara dua negara yang sangat kuat, Thailand dan Kamboja?," ucapnya.

Ia kemudian menegaskan bahwa percakapan resmi dengan kedua negara dijadwalkan pada Kamis (11/12).

"Saya pikir saya bisa membuat mereka berhenti berperang," katanya pada Rabu (10/12) waktu setempat. 

"Saya pikir saya dijadwalkan untuk berbicara dengan mereka besok," lanjutnya.

Harus diselesaikan secara langsung 

Namun, Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menyatakan bahwa persoalan ini harus diselesaikan oleh kedua negara secara langsung.

"Para pemimpin nasional lainnya mungkin memiliki niat baik dalam menginginkan perdamaian," kata Anutin.

"Tidak bisa sesederhana mengangkat telepon dan menelepon. Harus ada janji temu yang tepat dan poin-poin pembicaraan yang disepakati," ucapnya.

Militer Thailand juga menegaskan tujuan operasinya yang berfokus pada melumpuhkan kemampuan militer Kamboja.

Kamboja Klaim Bertahan, Malaysia Dorong Negosiasi

Sejumlah pejabat senior Kamboja menyampaikan bahwa tindakan mereka murni bersifat defensif dan pemerintah siap untuk kembali ke meja perundingan demi meredakan ketegangan.

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, yang tahun ini membantu menengahi kesepakatan gencatan senjata bersama AS dan Tiongkok, mengaku telah berbicara dengan pimpinan kedua negara pada Selasa (9/12).

Meski belum ada titik temu, ia menilai kedua belah pihak menunjukkan keterbukaan untuk melanjutkan negosiasi guna meredakan ketegangan.

Roket, Jet Tempur dan Serangan Drone

Militer Thailand menyebut pertempuran pada Rabu (10/12) berlangsung di 16 garis kontak berbeda. Mereka melaporkan serangan roket dari pasukan Kamboja yang mendarat di sekitar Rumah Sakit Phanom Dong Rak di provinsi Surin, memaksa evakuasi mendadak.

Thailand juga menuduh Kamboja menggunakan drone untuk menjatuhkan bom, roket BM-21, serta mengerahkan tank di beberapa titik, termasuk di dekat kompleks Kuil Preah Vihear abad ke-11 yang menjadi salah satu pemicu sengketa berkepanjangan.

Sebaliknya, militer Kamboja menuding Thailand melancarkan tembakan artileri, mortir, serta mengoperasikan drone bersenjata yang menghantam kawasan permukiman. Jet tempur F-16 Thailand disebut memasuki wilayah udara Kamboja berkali-kali dan menjatuhkan bom di dekat zona sipil.

"Pasukan Kamboja telah berjuang dengan gigih melawan musuh yang maju dan telah teguh dalam peran mereka melindungi integritas teritorial Kamboja," tulis kementerian pertahanan dalam pernyataan resmi.

Korban Tewas Meningkat, Warga Bertahan di Zona Bahaya

Ketegangan terus meningkat sejak bulan lalu, setelah Thailand menangguhkan langkah de-eskalasi menyusul luka parah seorang prajurit akibat ranjau darat yang menurut Bangkok dipasang oleh Kamboja. Phnom Penh membantah tuduhan tersebut.

Dalam pertempuran terbaru, pemerintah Kamboja melaporkan sedikitnya 10 warga sipil tewas dan 46 orang lainnya luka-luka. Di pihak Thailand, lima tentara tewas dan 68 orang mengalami luka.

Ratusan ribu orang telah dievakuasi, tetapi sebagian warga memilih bertahan.

"Saya harus tinggal di sini," kata Wuttikrai Chimngarm, yang bersembunyi di balik bunker darurat di provinsi Buriram.

"Saya kepala desa, jika bukan saya, lalu siapa? Siapa yang akan melindungi rumah dan barang-barang penduduk desa dari penjarah?" pungkasnya. (ABC/Fer/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik