Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Setahun Assad Jatuh, Presiden Suriah Sharaa Janji Lebih Adil

Ferdian Ananda Majni
09/12/2025 19:00
Setahun Assad Jatuh, Presiden Suriah Sharaa Janji Lebih Adil
Ahmad al-Sharaa.(Al Jazeera)

PULUHAN ribu warga Suriah turun ke jalan memperingati satu tahun runtuhnya rezim Bashar al-Assad. Presiden Ahmed al-Sharaa menegaskan komitmen memulai fase baru yang lebih adil dan inklusif bagi seluruh kelompok masyarakat.

Aliansi Islamis yang dipimpin Sharaa melancarkan ofensif cepat pada akhir November tahun lalu dan merebut Damaskus pada 8 Desember. Operasi itu mengakhiri lebih dari 50 tahun kekuasaan keluarga Assad dan menutup bab perang saudara yang berlangsung lebih dari satu dekade.

Warga kembali memadati jalan-jalan ibu kota dan sejumlah kota besar lain. Banyak yang membawa bendera Suriah. Masjid-masjid di kawasan Kota Tua mengumandangkan salat subuh sebagai penanda dimulai peringatan, menurut laporan koresponden AFP.

Dalam pidatonya, Sharaa menyatakan pemutusan total dari warisan masa lalu. "Hari ini, dengan fajar kebebasan, kami mendeklarasikan pemutusan bersejarah dengan warisan itu, pembongkaran total ilusi kepalsuan, dan keberangkatan permanen dari era despotisme dan tirani, mengawali fajar baru yang cerah, fajar yang didirikan atas keadilan, kebajikan, dan koeksistensi damai," katanya.

Pernyataan itu disambut perayaan di seluruh negeri dengan kembang api dan nyanyian revolusioner yang menggema di berbagai kota.

Sharaa juga menegaskan kembali komitmen terhadap mekanisme keadilan transisi. Ia menilai akuntabilitas mutlak diperlukan untuk memastikan semua pelaku pelanggaran hukum dan kejahatan terhadap warga dapat diproses secara sah.

Namun demikian, pergantian kekuasaan yang rapuh ini tetap dibayangi kekerasan sektarian, termasuk insiden mematikan di wilayah pesisir yang didominasi komunitas Alawi serta bentrokan di Sweida yang mayoritas penduduknya berasal dari kelompok Druze. 

Pemerintah menyatakan telah membuka investigasi terhadap sejumlah personel yang diduga terlibat.

Perang saudara yang meletus pada 2011 akibat penindasan brutal terhadap protes pro-demokrasi menyebabkan lebih dari 500 ribu orang tewas dan jutaan lain mengungsi. Ribuan warga masih hilang, sebagian besar setelah ditahan di penjara-penjara rezim sebelumnya, sementara keluarga mereka masih menantikan keadilan.

Keajaiban

Bagi sebagian masyarakat, perubahan setahun terakhir terasa luar biasa. "Yang terjadi selama setahun terakhir terasa seperti keajaiban," ujar Iyad Burghol, seorang dokter berusia 44, seraya menyinggung dukungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Sharaa.

Meski warga membutuhkan layanan dasar seperti listrik setelah bertahun-tahun perang dan krisis ekonomi, Burghol menekankan bahwa yang terpenting baginya adalah perdamaian sipil.

Di tingkat internasional, Sharaa berhasil memperbaiki citra diplomatik Suriah dan memperoleh kelonggaran sanksi. Namun, tantangan domestik tetap besar: membangun kembali institusi negara, memastikan keamanan, memulihkan kepercayaan publik, serta menjaga kohesi sosial dalam masyarakat yang terbelah.

Usai salat subuh di Masjid Umayyah di Damaskus, Sharaa menegaskan perlunya persatuan nasional. "Fase saat ini membutuhkan penyatuan upaya seluruh warga negara untuk membangun Suriah yang kuat, memperkuat stabilitasnya, menjaga kedaulatannya, dan mencapai masa depan yang sesuai dengan pengorbanan rakyatnya," ucapnya.

Ghaith Tarbin, seorang pekerja kemanusiaan berusia 50 tahun, menyampaikan harapannya agar pemerintah memberi prioritas pada perdamaian sipil.

Tantangan ke Depan

Otoritas baru mengumumkan sejumlah proyek investasi besar, termasuk untuk sektor infrastruktur. Namun mayoritas warga belum merasakan perubahan signifikan.

Aspek keamanan juga tetap rawan, sementara kritik muncul terkait tudingan marginalisasi terhadap kelompok minoritas. Sejumlah kalangan mendorong desentralisasi atau penentuan nasib sendiri, tetapi gagasan itu ditolak tegas oleh Sharaa yang bersikeras mempertahankan struktur negara terpusat.

Amnesty International menilai bahwa respons pemerintah terhadap pelanggaran serius sejak berkuasa akan menjadi indikator penting terhadap komitmen mereka menegakkan keadilan dan transparansi. 

Sementara itu, Human Rights Watch menyebut pemerintah telah menunjukkan langkah positif di beberapa sektor, namun belum mampu menghentikan kekerasan yang terus berlangsung.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengingatkan bahwa proses yang sedang berlangsung bukan sekadar transisi politik, tetapi juga kesempatan untuk membangun kembali komunitas yang hancur dan menyembuhkan perpecahan yang mendalam serta menciptakan Suriah di mana seluruh warganya dapat hidup dengan aman, setara dan bermartabat.

Tidak semua wilayah merayakan peringatan tersebut. Di Jableh, kota pesisir, banyak toko tutup setelah seorang tokoh spiritual Alawi terkemuka menyerukan boikot terhadap perayaan sebagai bentuk protes terhadap otoritas baru.

Di timur laut, yang dikuasai otoritas Kurdi, pemerintah daerah melarang pertemuan publik pada hari peringatan dengan alasan keamanan. Berdasarkan kesepakatan Maret lalu, lembaga-lembaga administrasi Kurdi akan diintegrasikan ke dalam pemerintah pusat sebelum akhir tahun, tetapi implementasinya berjalan lambat.

Dalam pernyataan terpisah, otoritas Kurdi mendukung peringatan setahun kejatuhan Assad, tetapi mengecam video yang memperlihatkan personel Kementerian Pertahanan menyatakan bahwa mereka akan memasuki wilayah timur laut.

Operasi militer Israel dan tuntutan pembentukan zona demiliterisasi di wilayah selatan Suriah menjadi tantangan tambahan bagi pemerintahan baru, meskipun negosiasi keamanan antara kedua pihak terus berlangsung. (AFP/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik