Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Rusia Puji Strategi Keamanan Nasional Baru Trump, Sebut Sejalan dengan Visi Moskow

Thalatie K Yani
08/12/2025 05:56
Rusia Puji Strategi Keamanan Nasional Baru Trump, Sebut Sejalan dengan Visi Moskow
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump(White House)

RUSIA menyambut positif Strategi Keamanan Nasional (National Security Strategy/NSS) baru yang dirilis Presiden Amerika Serikat Donald Trump minggu ini. Dokumen setebal 33 halaman itu dinilai “sejalan” dengan visi Moskow, terutama karena tidak menempatkan Rusia sebagai ancaman bagi AS.

“Koreksi yang kami lihat… sebagian besar konsisten dengan pandangan kami,” ujar juru bicara Kremlin Dmitry Peskov dalam wawancara yang dipublikasikan kantor berita negara Rusia, Tass. “Kami menganggap ini sebagai langkah positif,” tambahnya. Namun, ia menegaskan Moskow masih akan menganalisis dokumen tersebut sebelum menarik kesimpulan lebih jauh.

Strategi baru itu menyebut Eropa tengah menghadapi “penghapusan peradaban” dan menyoroti isu pengaruh asing, migrasi massal, serta apa yang digambarkan sebagai praktik “sensor” oleh Uni Eropa (UE). Beberapa pejabat dan analis UE mengkritik arah strategi tersebut, terutama karena dinilai memakai bahasa yang mirip dengan retorika Kremlin dan terlalu menitikberatkan pada isu kebebasan berpendapat.

Nada yang lebih lunak terhadap Rusia menimbulkan kekhawatiran di kalangan pejabat UE, terutama di tengah upaya mendorong berakhirnya perang di Ukraina. Dokumen itu juga menyalahkan UE karena dianggap menghambat upaya AS mengakhiri konflik dan menyebut Washington harus “mengembalikan stabilitas strategis dengan Rusia” demi menstabilkan perekonomian Eropa.

Laporan tersebut juga tampak mendukung upaya memengaruhi kebijakan di Eropa, menyatakan  prioritas AS harus mencakup “perlawanan terhadap arah Eropa saat ini di dalam negara-negara Eropa”. Selain itu, NSS menyerukan pemulihan “identitas Barat” dan memperingatkan Eropa akan menjadi “tak dikenali dalam 20 tahun atau kurang” akibat persoalan ekonomi dan ancaman “penghapusan peradaban”.

Dokumen itu kontras ketika membahas “partai-partai patriotik Eropa”, yang disebut sebagai kekuatan positif. Disebutkan “Amerika mendorong sekutu politiknya di Eropa untuk memajukan kebangkitan semangat ini.”

Berhati-Hati

Di tengah pembahasan kesepakatan damai Ukraina antara UE dan pemerintahan Trump, beberapa pejabat Eropa menyampaikan sikap hati-hati. Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, menegaskan: “AS akan tetap menjadi sekutu paling penting dalam aliansi NATO. Namun, saya percaya isu kebebasan berbicara dan organisasi masyarakat bebas kami tidak seharusnya masuk [dalam strategi], setidaknya jika menyangkut Jerman.”

Perdana Menteri Polandia Donald Tusk, dalam unggahan media sosial untuk “teman-teman Amerika”, menekankan bahwa “Eropa adalah sekutu terdekat kalian, bukan masalah kalian,” sambil mengingatkan keduanya memiliki “musuh bersama”. Ia menambahkan, “Ini satu-satunya strategi yang masuk akal bagi keamanan bersama. Kecuali jika ada yang berubah.”

Sementara itu, mantan Perdana Menteri Swedia Carl Bildt menilai dokumen tersebut “menempatkan dirinya di kanan ekstrem dari ekstrem kanan”. Strategi tersebut juga menyoroti hubungan pemerintahan Trump dengan AfD di Jerman, partai yang diklasifikasikan sebagai sayap kanan ekstrem oleh intelijen Jerman. Selain mendorong pesan “America First”, NSS menyebut AS berniat menargetkan kapal yang diduga membawa narkotika di Laut Karibia dan Pasifik timur, serta mempertimbangkan tindakan militer di Venezuela. Dokumen itu juga mendesak peningkatan belanja pertahanan dari Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Taiwan.

Dari dalam negeri AS, kritik keras datang dari Partai Demokrat. Jason Crow, anggota Kongres dari Colorado, menyebut strategi itu “katastrofis bagi posisi Amerika di dunia”. Sementara Gregory Meeks dari New York menilai dokumen tersebut “menghapus kepemimpinan AS yang berbasis nilai selama puluhan tahun”. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik