Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Trump Rapat Darurat, Maduro Tegaskan Tidak Mau Perdamaian ala Budak!

Dhika Kusuma Winata
02/12/2025 14:20
Trump Rapat Darurat, Maduro Tegaskan Tidak Mau Perdamaian ala Budak!
Presiden Venezuela Nicolas Maduro (dua dari kiri).(AFP/ Venezuelan Presidency)

KETEGANGAN antara Amerika Serikat dengan Venezuela kembali memuncak setelah Presiden AS Donald Trump memanggil jajaran pejabat keamanan nasionalnya ke Oval Office, Senin waktu setempat atau Selasa (2/12) WIB. Rapat tersebut berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran akan kemungkinan aksi militer AS.

 

Sementara itu, Presiden Venezuela Nicolas Maduro,menolak keras konsep yang ditawarkan Washington. Maduro menyebut tawaran AS bak perdamaian ala budak.

 

Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengonfirmasi Trump menggelar pertemuan tingkat tinggi terkait situasi Venezuela. “Presiden akan bertemu dengan tim keamanan nasionalnya mengenai isu ini dan banyak hal lain,” ujarnya.

 

Dia menolak menjelaskan soal Trump akan mengambil keputusan final setelah berbulan-bulan ketegangan dengan Caracas, termasuk kemungkinan pengerahan pasukan AS. “Ada berbagai opsi yang tersedia bagi presiden,” katanya.

 

Sebaliknya, Maduro mengerahkan massa pendukung di Caracas dan menyampaikan pesan menantang di tengah desakan internasional. “Kami menginginkan perdamaian, tapi perdamaian dengan kedaulatan, kesetaraan, dan kebebasan. Kami tidak mau damai ala budak, atau damai ala koloni," ucap Maduro.

 

AS telah mengirim kapal induk terbesar di dunia milik mereka beserta armada pendukung ke kawasan Karibia. Militer Negeri Paman Sam juga menggencarkan pengeboman terhadap kapal yang dicurigai mengangkut narkotika.

 

Washington mengklaim operasi tersebut bertujuan menekan jaringan perdagangan narkoba sedangkan Caracas menuduh AS ingin menggulingkan pemerintahan Maduro.

 

Sebelumnya, Trump mengungkapkan dia sudah berbicara langsung dengan Maduro  namun menolak memberi rincian. “Saya tidak bisa bilang pembicaraan itu baik atau buruk. Itu hanya sebuah panggilan telepon,” ujarnya.

 

Media AS seperti The New York Times dan Wall Street Journal melaporkan kedua pemimpin sempat membahas kemungkinan pertemuan, bahkan isu amnesti jika Maduro bersedia mundur. AS juga disebut menawarkan Maduro kesempatan pergi ke Rusia atau negara lain.

 

AS menuduh Maduro memimpin Kartel Matahari dan mengumumkan hadiah US$50 juta (sekitar Rp830 miliar) bagi siapa pun yang dapat menangkapnya. Tuduhan itu dibantah Venezuela. (AFP/M-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Bintang Krisanti
Berita Lainnya