Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Suara Pekerja Migran Indonesia dan Filipina usai Kebakaran Hong Kong

Ferdian Ananda Majni
02/12/2025 07:33
Suara Pekerja Migran Indonesia dan Filipina usai Kebakaran Hong Kong
Pelayat meletakkan bunga sebagai bentuk penghormatan kepada para korban di tugu peringatan sementara yang didirikan di luar kompleks apartemen Wang Fuk Court, setelah kebakaran mematikan pada 26 November di Distrik Tai Po, Hong Kong, kemarin.(AFP)

ISAK tangis terdengar di Victoria Park, Hong Kong, pada akhir pekan. Ratusan pekerja migran berduka atas para korban kebakaran terburuk di Hong Kong dalam lebih dari satu abad dan berdoa bagi teman-teman yang hilang.

Banyak yang mendapati diri mereka dalam ketidakpastian setelah bencana tersebut. Setidaknya 10 dari 146 orang yang tewas dalam kebakaran yang menghancurkan gedung-gedung tinggi Wang Fuk Court ialah pekerja migran, segmen pekerja yang sering kali terabaikan.

Menurut penghitungan AFP berdasarkan informasi dari konsulat, puluhan lain belum ditemukan. Hong Kong menjadi rumah bagi hampir 370.000 pekerja rumah tangga migran. Sebagian besar perempuan dari Filipina dan Indonesia menjadi perawat bayi dan lansia di kota dengan populasi yang menua.

Para pekerja migran biasanya libur pada Minggu. Karenanya, doa bersama berlangsung di berbagai lingkungan seluruh kota, Minggu (30/11). Para peserta memberi tahu tentang teman-teman yang hilang dan upaya dukungan bagi para penyintas terkadang tidak memadai.

Yang terakhir

Seorang perempuan Indonesia yang bekerja di Hong Kong selama 15 tahun, Sudarsih, mengatakan dua temannya masih hilang. "Semoga Tuhan memberkahi mereka. Mereka akan segera ditemukan dan dalam keadaan selamat," ujarnya.

Mereka yang hadir di acara di Victoria Park menyanyikan himne dan berdoa di dekat spanduk yang bertuliskan, "Yang terkasih, yang telah tiada. Penghormatan dan penghargaan tertinggi atas kesetiaan dan keberanian para pekerja rumah tangga migran."

Dwi Sayekti, 38, berharap bencana itu menjadi yang pertama dan terakhir. "Semoga di masa mendatang, hal ini tidak terjadi lagi. Dan semua korban jiwa di Tai Po dapat ditemukan," ujarnya dengan suara terbata-bata.

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong merilis pembaruan terkait penanganan warga negara Indonesia (WNI) yang terdampak kebakaran besar itu. Hingga kemarin, sebanyak 35 WNI masih belum berhasil diketahui keberadaannya.

Menurut KJRI Hong Kong, terdapat sekitar 140 WNI yang tinggal di kompleks tersebut. Dari jumlah itu, 95 orang dipastikan selamat, 9 meninggal dunia, 1 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit. 

Rhodora Alcaraz

Di seberang kota, kawasan pusat bisnis Hong Kong, sekitar 100 pekerja Filipina mengadakan pertemuan doa di tempat berkumpul mereka setiap Minggu. "Kami berdoa semoga tidak ada lagi korban jiwa dalam tragedi kebakaran ini," kata Dolores Balladares, Ketua United Filipinos di Hong Kong.

Banyak ucapan selamat ditujukan kepada Rhodora Alcaraz, seorang perempuan muda asal Filipina yang mulai bekerja di Hong Kong hanya beberapa hari sebelum tragedi tersebut. Dalam laporan yang belum diverifikasi tetapi tersebar luas, Alcaraz melindungi bayi majikannya yang berusia tiga bulan dengan tubuhnya ketika kebakaran terjadi.

Ketika petugas pemadam kebakaran menemukan mereka di apartemen yang dipenuhi asap, ia masih menggendong bayi tersebut. Alcaraz dilaporkan dirawat di unit perawatan intensif, meskipun belum dapat mengonfirmasi kondisi terbarunya.

Rekan pekerja migran lain, Michelle Magcale, mengatakan ia merasa sangat sedih dan terpukul setelah mendengar berita tersebut. "Saya tidak bisa mengungkapkan betapa sedihnya saya," kata perempuan berusia 49 tahun itu.

"Atas nama tugasnya, atas nama tanggung jawabnya, ia telah menyelamatkan satu nyawa lagi. Kami bersyukur untuk itu," tambah Magcale.

Balladares menambahkan pihaknya juga memberi penghormatan kepadanya karena ia telah memberikan yang terbaik untuk melindungi keluarga. 

Minta bantuan

Konsulat Manila di Hong Kong mengatakan seorang perempuan bernama Maryan Pascual Esteban tewas dalam kebakaran tersebut. Korban meninggalkan seorang putra berusia 10 tahun dan keluarganya di Cainta, Rizal. Satu warga negara Filipina terluka dan kondisi tujuh lainnya belum diverifikasi.

Menurut juru bicara Badan Koordinasi Migran Asia, Shiela Tebia, lebih dari 50 korban selamat telah meminta bantuan. Tebia mengatakan para perempuan tersebut sangat membutuhkan pakaian, terutama pakaian dalam. 

Ia menambahkan bahwa kartu identitas dan paspor mereka terbakar. Mereka masih beradaptasi dan beberapa bahkan tidak bisa tidur nyenyak. "Mereka juga trauma," kata Tebia.

"Namun terlepas dari kondisi tersebut, mereka tetap perlu mendukung majikan mereka karena majikan mereka juga sedang berduka." Tebia mengatakan konsulat menjanjikan bantuan bagi para korban, tetapi detailnya masih belum jelas.

Langkah awal

Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia, Sringatin, mengatakan bahwa konsulat tidak dapat memberikan informasi tepat waktu. Pihaknya berusaha membuat orang-orang tidak terlalu panik.

Keluarga dari setiap korban yang meninggal akan menerima bantuan pemerintah sebesar HK$200.000 (US$25.700). Namun, imbuh direktur eksekutif di penampungan perempuan migran Bethune House Edwina Antonio, itu hanyalah langkah awal.

"Bagaimana dengan mereka yang selamat?" tanyanya. "(Mereka) yang masih di Hong Kong, mereka kehilangan segalanya."

Antonio mendesak pemerintah untuk mengikutsertakan pekerja migran ketika menawarkan bantuan keuangan. Ini karena mereka sering kali menjadi satu-satunya pencari nafkah keluarga. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya