Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
PERUSAHAAN Al-Majd Europe yang dituding berada di balik penerbangan 153 warga Palestina ke Afrika Selatan pada pekan lalu semakin disorot. Inkonsistensi terkait profil publik Al-Majd Europe kian menambah ketidakpastian tentang cara para penumpang dapat meninggalkan Timur Tengah dan pihak yang berada di balik perjalanan mereka.
Dalam pernyataan panjang pada Selasa (18/11) malam waktu setempat, dilansir NBC News, Kamis (20/11), Al-Majd tidak secara langsung mengakui telah mengatur penerbangan tersebut. Di pihak lain, Afrika Selatan menyebutnya sebagai operasi yang jelas-jelas diatur, setelah mendarat di Johannesburg dengan mengejutkan pihak berwenang.
Al-Majd mengatakan bahwa satu-satunya interaksinya dengan otoritas Israel terkait mengoordinasikan pintu keluar dari Gaza. NBC News awalnya menghubungi Al-Majd Europe pada Selasa melalui email yang tercantum di situs webnya tetapi tidak mendapat tanggapan.
Lokasinya hanya terdaftar sebagai Sheikh Jarrah, Jerusalem. Petanya menunjukkan bangunan di belakang rumah sakit dan Konsulat Inggris. Analisis NBC News terhadap keberadaan daringnya mengungkapkan sejumlah inkonsistensi.
Al-Majd mengeklaim bahwa mereka ialah organisasi kemanusiaan didirikan pada 2010 di Jerman. Akan tetapi, perusahaan berita di Amerika Serikat (AS) itu tidak menemukan bukti bahwa situs web mereka sudah ada sebelum Februari tahun ini.
Akun Facebook dan X mereka juga dibuat tahun ini. Organisasi tersebut tidak ditemukan pula dalam daftar administrasi pajak Jerman.
Foto yang tampil di halaman tentang yang menunjukkan bangunan dengan tanda Al-Majd dan Kubah Batu Jerusalem di latar belakang merupakan hasil rekayasa AI. Situs web tersebut memiliki beberapa unggahan blog dengan ringkasan bergaya studi kasus tentang kegiatan amal yang diklaimnya selama perang di Suriah dan gempa bumi di Turki. Meskipun situs web ini dibuat tahun ini, postingan blognya berasal dari 2023.
Salah satu studi kasus yang tercantum menunjukkan foto seorang perempuan bernama Mona Farouk. Katanya, ia meninggalkan Suriah ke negara tetangga Libanon pada 2013 kemudian membutuhkan bantuan Al-Majd pada 2014 untuk melarikan diri dari pertempuran lagi.
Pencarian gambar mengarah ke artikel Middle East Eye tahun lalu dengan foto yang sama. Menurut kantor berita tersebut, gambar berasal dari jurnalisnya sendiri. Artikel tersebut menyebut perempuan dalam foto tersebut sebagai Abeer Khayat yang meninggalkan Suriah pada 2012.
Situs web tersebut memiliki halaman syarat dan ketentuan yang menyatakan bahwa entitas penyelenggara untuk Program Migrasi Sukarela untuk meninggalkan Jalur Gaza ialah Talent Globus. Perusahaan tersebut terdaftar di Estonia pada 2024 oleh seseorang bernama Tomer Janar Lind.
Surat kabar Haaretz, Israel, melaporkan pada Minggu (16/11) bahwa organisasi tersebut dipimpin seorang warga negara Israel-Estonia bernama Tomer Janar Lind. Harian tersebut melaporkan bahwa Lind bekerja sama dengan unit di militer Israel yang bertugas memindahkan paksa warga Palestina dari Gaza untuk memfasilitasi beberapa penerbangan semacam itu.
Unit itu, yang bernama Biro Emigrasi Sukarela, dibentuk pada awal 2025 di bawah Kementerian Pertahanan Israel untuk menerapkan kebijakan mengusir warga Palestina dari tanah air mereka. Lind tidak menyangkal telah mengatur penerbangan untuk warga Palestina tetapi menolak untuk membocorkan informasi lebih lanjut.
NBC News lantas menghubungi akun dengan nama yang sama di LinkedIn. Registrasi bisnis Britania Raya menunjukkan Lind sebagai direktur di dua perusahaan yang telah bubar dan satu perusahaan aktif dengan tagihan yang jatuh tempo. Tidak satu pun dari perusahaan tersebut tampaknya terkait dengan Talent Globus.
Situs web Talent Globus mencantumkan empat karyawan, tiga di antaranya ditampilkan dengan gambar stok yang tersedia daring. Bagian tentang perusahaan tersebut menyatakan bahwa perusahaan tersebut telah berdiri selama satu dekade. Anehnya, catatan menyebutkan bahwa perusahaan didirikan pada 2024. Nomor telepon yang tercantum tidak aktif saat dihubungi.
Dalam rilis pernyataannya, Al-Majd ingin, "Menanggapi secara langsung tuduhan palsu dan disinformasi yang disebarkan oleh pihak-pihak dengan kepentingan politik yang jelas untuk merampas kebebasan memilih rakyat Gaza." Pihaknya menepis punya hubungan dengan Mossad Israel atau badan intelijen lain. Perusahaan mengeklaim keberadaannya didirikan oleh para pengungsi yang melarikan diri dari rezim diktator, termasuk pengungsi dari pemerintahan Hamas di Gaza.
Pernyataan tersebut tidak secara langsung menyebutkan warga Palestina yang tiba di Afrika Selatan minggu lalu atau inkonsistensi di situs webnya. NBC News menghubungi Al-Majd untuk klarifikasi lebih lanjut.
Kantor berita Jerman, DW, Kamis (20/11), juga menyelisik situs web Al-Majd yang menggunakan foto-foto individu dari situasi krisis lain dan mengeklaimnya sebagai milik mereka. Alamat IP situs web tersebut, dan dengan demikian lokasi aslinya, disembunyikan oleh perangkat lunak privasi.
Tombol donasi di situs web tidak berfungsi. Riset terhadap berbagai pelacak bitcoin--jumlah uang yang telah dibelanjakan dan diterima suatu akun--menunjukkan bahwa Al-Majd hanya pernah menerima mata uang kripto senilai sekitar US$106 melalui akun bitcoin yang terdaftar untuk donasi. Padahal, Al-Majd mengaku bekerja dengan donasi untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Para penumpang Palestina yang bepergian dengan Al-Majd ke Afrika Selatan mengatakan kepada wartawan Al Jazeera bahwa mereka membayar antara US$1.500 dan US$2.000. Yang menarik, uang tersebut dikirim ke rekening yang mereka sebut sebagai rekening pribadi. Pertanyaan yang DW kirimkan ke alamat email di situs web Al-Majd tidak dijawab.
Fakta lain terkait perusahaan penyewaan pesawat, Fly Yo, berbasis di Rumania, dan Kibris Turkish Airlines, berbasis di Siprus, yang membawa warga Palestina ke Afrika Selatan. Ternyata kedua perusahaan penyewaan pesawat itu milik warga Israel.
Kementerian Pertahanan Israel, yang bertanggung jawab atas urusan resmi Israel di Gaza, diminta konfirmasi tentang koneksi apa pun dengan Al-Majd Eropa. Sayangnya, tidak ada balasan jawaban.
"Laporan tentang orang-orang yang diterbangkan ke tujuan yang terkadang tidak diketahui oleh Al-Majd sangat meresahkan," kata Tania Hary, direktur eksekutif Gisha, lembaga nirlaba Israel yang mengadvokasi kebebasan bergerak Palestina. "Tampaknya entitas swasta yang dipertanyakan ini memanfaatkan keputusasaan masyarakat dan mulai diam-diam memenuhi visi Israel untuk memindahkan warga Palestina."
Akhirnya, DW berhasil menghubungi seorang pria bernama Omar yang nomornya tercantum di situs web Al-Majd sebagai kontak. DW tidak dapat memverifikasi secara independen bahwa ia bekerja untuk Al-Majd. Dalam wawancara melalui WhatsApp, ia mengaku orang Palestina yang tinggal di Jerusalem tetapi tidak bersedia memberikan detail lebih lanjut, termasuk nama belakangnya, karena alasan keamanan.
Ia mengatakan bahwa spekulasi tentang hubungan Al-Majd dengan pemerintah Israel disebarkan oleh dua kelompok yaitu kelompok pejuang Hamas dan Otoritas Palestina yang memerintah Tepi Barat yang diduduki. Ia menyiratkan bahwa kedua kelompok ini tidak ingin orang-orang meninggalkan Gaza. DW tidak dapat memverifikasi klaim ini secara independen.
Omar juga mengatakan bahwa, untuk membawa orang-orang keluar dari Gaza dan menuju bandara di Israel, Al-Majd harus berhubungan dengan Koordinator Kegiatan Pemerintah Israel di Wilayah Teritori (COGAT) yang menjalankan bisnis resmi Israel di Gaza. COGAT juga merupakan bagian dari Kementerian Pertahanan Israel.
"Saya membantu rakyat saya di Gaza dan ini bukan emigrasi," tegas Omar. "Saya membantu orang-orang yang ingin hidup, bukan mati, di Gaza."
Namun Omar menolak menjawab pertanyaan yang lebih menantang, semisal koneksinya dengan Lind, bagaimana ia menghubungi perusahaan carter internasional milik Israel, dan mengapa tautan di situs web Al-Majd tidak berfungsi. Ia juga tidak mau menjelaskan kondisi keuangan Al-Majd. Ia pun mengaku tidak ingat jumlah warga Palestina yang telah meninggalkan Gaza bersama Al-Majd.
Tidak ada angka resmi tentang jumlah warga Palestina yang meninggalkan Gaza. Yang pasti, pemindahan paksa suatu populasi merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan berdasarkan hukum internasional. (I-2)
TEKA-TEKI mengenai pesawat yang tiba di Afrika Selatan membawa lebih dari 150 warga Palestina semakin rumit pada Rabu (19/11).
Para penumpang kemudian mengatakan kepada media bahwa perjalanan mereka diatur kelompok bernama Al-Majd Europe, yang mengeklaim menyediakan evakuasi kemanusiaan.
TEKA-TEKI mengenai pesawat yang tiba di Afrika Selatan membawa lebih dari 150 warga Palestina semakin rumit pada Rabu (19/11).
Para penumpang kemudian mengatakan kepada media bahwa perjalanan mereka diatur kelompok bernama Al-Majd Europe, yang mengeklaim menyediakan evakuasi kemanusiaan.
Kisah pengungsi Gaza yang tiba di Afrika Selatan tanpa dokumen lengkap. Mereka menempuh perjalanan lebih dari 24 jam melalui skema evakuasi tertutup.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved