Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Trump Berikan Prioritas ke Riyadh, Buka Babak Baru Relasi AS-Saudi

Ferdian Ananda Majni
20/11/2025 14:01
Trump Berikan Prioritas ke Riyadh, Buka Babak Baru Relasi AS-Saudi
Donald Trump dan MBS.(Al Jazeera)

DALAM jamuan makan malam berdasi hitam di Ruang Timur pada Selasa (18/11) malam untuk menghormati Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, Presiden Donald Trump menyebut dirinya sebagai sahabat terbaik yang pernah dimiliki calon raja dan kerajaan yang akan dipimpinnya.

Kurang dari sehari kemudian, saat berbicara pada forum investasi Saudi-AS di Kennedy Center, Trump kembali menegaskan bahwa kemitraan antara Washington dan Riyadh adalah salah satu yang paling penting di dunia. Ia menyatakan dirinya dan Mohammed membuat aliansi lebih kuat dan lebih berkuasa daripada sebelumnya.

Trump kemudian memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengkritik dua presiden AS sebelumnya, Barack Obama dan Joe Biden. Menurutnya, kedua presiden memiliki hubungan tidak baik dengan kerajaan Saudi yang kaya minyak tetapi menuai kritik atas catatan hak asasi manusia. 

"Anda tidak memiliki hubungan yang baik dengan Barack Hussein Obama. Anda tidak memiliki hubungan yang baik dengan Joe Biden yang mengantuk, tetapi Anda memiliki hubungan yang hebat dengan saya," ujarnya. 

Trump juga mengeklaim bahwa AS di bawah kepemimpinannya telah mengambil Awan Kegelapan dari negara mereka merujuk pada program nuklir Iran. Menurut Trump, ancaman dari Iran telah dihancurkan melalui serangkaian serangan udara pesawat pengebom B-2 pada Juni lalu, meski penilaian ini tidak dikonfirmasi secara independen. 

Kembalinya sebagai presiden ke-47 dianggap memberi ruang bagi Trump untuk membangun kembali hubungan dengan Riyadh sekaligus memperkuat bentuk aliansi yang berbeda dari yang ia gambarkan dalam pidatonya. Sejak awal hubungan AS-Saudi terbentuk pada 1945 melalui Presiden Franklin D. Roosevelt dan Raja Abdulaziz Al Saud.

Kedua negara menjalankan kesepakatan tak tertulis, yakni Saudi menyediakan akses minyak murah dan Washington menawarkan perlindungan militer sambil menutup mata terhadap isu hak asasi manusia. Namun hubungan ini sempat menegang pada era Obama yang mendorong kesepakatan nuklir Iran serta menempatkan hak asasi manusia sebagai prioritas diplomatik. 

Ketegangan kembali meningkat di era Biden, terutama setelah intelijen AS menyimpulkan peran Putra Mahkota dalam pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi, yang dibantah pemerintah Saudi.

Ketika Trump menyatakan bahwa dirinya sahabat terbaik Saudi, klaim itu selaras dengan rekam jejak kebijakan luar negerinya. Sejak masa jabatan pertama pada 2017 dan setelah kembali menjabat delapan tahun kemudian, ia menjadikan Arab Saudi kunjungan luar negeri pertamanya atau mengabaikan tradisi yang biasanya mendahulukan Kanada atau Meksiko.

Dalam kedua kunjungan tersebut, Trump disambut dengan upacara mewah. Sebagai imbalannya, ia memberikan dukungan yang belum pernah terjadi kepada Riyadh, termasuk paket penjualan senjata senilai US$110 miliar, sistem pertahanan THAAD, dan serangkaian kesepakatan yang melampaui prosedur peninjauan Kongres.

Pada kunjungan terbarunya, Riyadh kembali mendapat keuntungan besar, termasuk kesepakatan kerja sama pertahanan senilai US$142 miliar, perjanjian energi nuklir sipil, serta penunjukan kerajaan sebagai sekutu Utama Non-NATO, yang membuka akses lebih besar pada teknologi militer AS.

Trump juga secara terbuka melindungi MBS dari kritik atas kasus Khashoggi. Dalam pertemuan di Oval Office minggu ini, ia menegur seorang jurnalis yang menanyakan isu tersebut kepada Putra Mahkota, sembari menyebut Khashoggi sebagai sosok yang sangat kontroversial dan tidak disukai banyak orang.

Namun di luar hubungan diplomatik resmi, hubungan personal dan bisnis antara keluarga Trump dan kerajaan juga berkembang pesat. Pada bulan ini, Trump Organization mengumumkan proyek-proyek properti bernilai miliaran dolar di Saudi melalui mitra perusahaan lokal, termasuk rencana Trump Tower dan Trump Plaza di Jeddah, serta pembicaraan terkait proyek di kawasan Diriyah Gate.

Perusahaan Trump juga memperoleh pendapatan signifikan dari liga LIV Golf yang didanai Saudi. Selain itu, Dana Investasi Publik Saudi dilaporkan menanamkan US$2 miliar ke perusahaan ekuitas swasta yang didirikan Jared Kushner, meski ia tidak memiliki pengalaman di bidang tersebut.

Meskipun kedekatan ini tidak sepenuhnya dapat dipandang sebagai motivasi utama kebijakan luar negeri AS, hubungan pribadi Trump dengan MBS menonjol jauh melampaui dinamika geopolitik biasa. Trump melihat Putra Mahkota sebagai pemimpin tangguh yang tidak segan menindak perbedaan pendapat. Dalam pandangannya, gaya kepemimpinan MBS mewakili tipe kekuasaan yang ia kagumi.

Aliansi AS-Saudi tetap penting secara strategis. Namun bagi Trump, hubungan yang paling bermakna bukan hanya antara dua negara, melainkan antara dua keluarga yang melihat kekuasaan dengan cara yang serupa, sebagai instrumen untuk memperkokoh kendali politik dan ekonomi. (Independent/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik