Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Laporan Resmi Bongkar Kelemahan Keamanan Louvre Usai Perampokan Perhiasan Bersejarah

Thalatie K Yani
07/11/2025 07:42
Laporan Resmi Bongkar Kelemahan Keamanan Louvre Usai Perampokan Perhiasan Bersejarah
Laporan pengadilan Prancis mengkritik kepemimpinan Louvre karena mengabaikan keamanan demi proyek bergengsi, usai perampokan besar.(Media Sosial X)

SEBUAH laporan pengadilan Prancis mengungkapkan kelalaian besar dalam sistem keamanan Museum Louvre setelah terjadinya perampokan siang hari yang mengguncang dunia seni pada 19 Oktober lalu. Empat pelaku berhasil membawa kabur sembilan perhiasan bersejarah dalam waktu kurang dari delapan menit dari salah satu museum paling terkenal di dunia.

Dalam laporan yang dirilis pada Kamis (6/11), Pengadilan Audit Prancis (Court of Accounts) menilai pimpinan Louvre terlalu fokus pada proyek besar dan pembelian karya seni yang menarik perhatian publik. Sedangkan aspek keamanan diabaikan.

“Perampokan ini adalah alarm yang memekakkan telinga,” kata Pierre Moscovici, Presiden Court of Accounts, kepada wartawan. Ia menegaskan manajemen Louvre lebih mementingkan proyek “terlihat dan menarik” seperti pembelian karya seni dan renovasi tata ruang ketimbang pengamanan museum.

Sistem Keamanan Fisik dan Siber Lemah

Laporan tersebut juga membeberkan kelemahan serius dalam perlindungan fisik dan digital Louvre. Ketika para pencuri beraksi, alarm baru berbunyi setelah mereka berhasil memanjat dinding luar dan memecahkan jendela. Empat menit kemudian, mereka sudah melarikan diri membawa harta karun bersejarah.

Direktur Louvre Laurence des Cars mengakui kelemahan pada sistem keamanan sudah diketahui sebelumnya. Pada 2024, Louvre hanya memiliki 432 kamera CCTV untuk mengawasi 465 galeri, meninggalkan 61% area museum tanpa pengawasan visual.

Masalah tidak berhenti di situ. Laporan keamanan siber 2014 dari badan keamanan informasi Prancis (ANSSI) mengungkap kata sandi utama sistem CCTV Louvre hanyalah “LOUVRE”, sedangkan perangkat lunak dari Thales dilindungi dengan password “THALES”. ANSSI kemudian merekomendasikan peningkatan sistem keamanan siber dan penggantian perangkat lunak usang yang berisiko.

Dana Besar untuk Seni, Minim untuk Keamanan

Antara 2018 dan 2024, Louvre menghabiskan sekitar 27 juta euro untuk perawatan, dan 60 juta euro untuk restorasi gedung. Namun, pada periode yang sama, anggaran untuk pembelian karya seni mencapai 105 juta euro, termasuk karya Jean-Honoré Fragonard senilai 5 juta euro pada 2021 dan triptych Fabergé seharga 2,2 juta euro pada 2025.

Laporan itu menilai Louvre perlu lebih transparan terkait harga karya seni yang dibeli, dan memperingatkan agar tidak membeli karya dengan harga lebih tinggi dari harga lelang dua tahun sebelumnya.

Pemerintah Prancis Desak Evaluasi Menyeluruh

Meski laporan ini menyoroti kegagalan besar, tidak ada pejabat Louvre yang diberhentikan. Tawaran pengunduran diri dari Direktur Laurence des Cars ditolak oleh Menteri Kebudayaan Prancis Rachida Dati, yang awalnya membela museum dengan mengatakan, “Langkah keamanan Louvre berfungsi dengan baik.”

Namun, dalam sidang berikutnya, Dati akhirnya mengakui adanya “kegagalan nyata dalam keamanan” dan berjanji mempercepat peningkatan sistem perlindungan sesuai permintaan Presiden Emmanuel Macron. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya