Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Perang AS-Tiongkok: Mengapa Donald Trump begitu Tertarik pada Mineral Tanah Jarang?

Haufan Hasyim  Salengke
30/10/2025 09:21
Perang AS-Tiongkok: Mengapa Donald Trump begitu Tertarik pada Mineral Tanah Jarang?
Mineral tanah jarang menjadi pusat perang dagang antara AS dan Tiongkok karena peran krusialnya dalam teknologi modern dan militer.(Fox26News)

MINERAL tanah jarang menjadi pusat perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok. Sejak kembali ke Gedung Putih awal tahun ini, Presiden Donald Trump telah menjadikan mineral tanah jarang sebagai salah satu prioritas utamanya.

Pada Maret, atau tiga bulan pascadilantik, Trump bahkan menandatangani perintah eksekutif, di mana ia menggunakan kekuasaan masa perang untuk memobilisasi dan meningkatkan produksi tanah jarang.

Dengan mengacu pada Undang-Undang Produksi Pertahanan (Defense Production Act/DPA) dari era Presiden Harry S. Truman, presiden AS dapat memobilisasi basis industri domestik untuk menyediakan material yang dianggap penting bagi pertahanan nasional.

Kekuasaan masa perang dalam konteks ini merujuk pada bagaimana sumber daya mineral penting menjadi titik sentral dalam kebijakan luar negeri dan strategi militer AS.

Meskipun Truman dan Trump memiliki pendekatan yang berbeda, keduanya sama-sama menunjukkan bagaimana mineral penting telah menjadi fokus strategis dalam kebijakan luar negeri ‘Negeri Paman Sam’. 

Pekan ini, Trump menandatangani beberapa perjanjian dengan sejumlah negara Asia, dengan harapan mendapatkan akses ke mineral tanah jarang. Semua ini untuk melawan dominasi global Tiongkok di sektor ini dan pembatasan ekspor tanah jarang yang baru-baru ini dilakukan Beijing.

Jadi, mengapa mineral-mineral ini begitu penting bagi perekonomian AS? Dan dapatkah Trump mematahkan monopoli Tiongkok?

Mineral tanah jarang menjadi pusat perang dagang antara AS dan Tiongkok lantaran peran krusialnya dalam teknologi modern dan milter, dan Tiongkok mendominasi rantai pasok global. Dominasi Beijing ini memungkinnnya untuk menggunakan tanah jarang sebagai alat tawar, seperti membatasi ekspor, memukul industri AS yang sangat bergantung pada logam tersebut, dan memaksa 'Negeri Paman Sam' mencari sumber pasokan alternatif di negara lain. 

Pada Kamis (16/10), Tiongkok memperluas pembatasan ekspor tanah jarangnya yang menyebabkan Presiden Trump mengancam akan melakukan pembalasan ekonomi. Trump juga menyiratkan bahwa ia akan membatalkan pertemuan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Korea Selatan saat menghadiri pada KTT APEC, Kamis (30/10).

Perselisihan mengenai tanah jarang telah terjadi sebelum pemerintahan saat ini; Selama bertahun-tahun, Tiongkok telah membangun kendali yang hampir total atas mineral-mineral tersebut sebagai bagian dari kebijakan industrinya yang lebih luas.

Tiongkok pertama kali mengumumkan kendali ekspor tanah jarang pada bulan April sebagai tanggapan atas tarif timbal balik (reciprocal tarrif) Trump atas barang-barang Tiongkok yang diumumkan saat itu.

Setelah menyepakati ‘gencatan senjata’ perdagangan di Jenewa, para pejabat AS berharap Tiongkok akan melonggarkan pembatasan ekspor mineral-mineral tersebut.

Apa itu Mineral Tanah Jarang?

Apa itu tanah jarang, dan apakah mineral-mineral itu benar-benar 'langka?' Tanah jarang mencakup 17 unsur logam dalam tabel periodik yang terdiri dari skandium, itrium, dan lantanida.

Nama ‘tanah jarang’ agak keliru, karena bahan-bahan ini ditemukan di seluruh kerak bumi. Jumlahnya lebih melimpah daripada emas, tetapi sulit dan mahal untuk diekstraksi dan diproses, serta merusak lingkungan.

Logam tanah jarang terdapat di mana-mana dalam teknologi sehari-hari, mulai dari ponsel pintar, turbin angin, lampu LED, hingga TV layar datar. Logam ini penting untuk baterai kendaraan listrik, pemindai MRI, dan perawatan kanker.

Sekitar 61% produksi logam tanah jarang yang ditambang berasal dari Tiongkok, menurut Badan Energi Internasional (IEA), dan Tiongkok mengendalikan 92% produksi global dalam tahap pemrosesan.

Kenapa AS sangat Berkepentingan?

Logam tanah jarang juga penting bagi militer AS. Logam ini digunakan dalam jet tempur F-35, kapal selam, laser, satelit, rudal Tomahawk, dan lainnya, menurut catatan penelitian CSIS tahun 2025.

Selama lawatan lima hari lebih ke Asia, Trump memperkuat kesepakatan dengan Australia, Malaysia, Kamboja, dan yang terbaru, Jepang, untuk meningkatkan pasokan tanah jarang dan mineral penting lainnya yang krusial untuk pembuatan baterai, mobil, sistem pertahanan, dan cip komputer.

Serangkaian kesepakatan—bagian dari upaya Washington untuk melawan cengkeraman Beijing di sektor ini—tersebut dilakukan menjelang pertemuan Trump dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Korea Selatan pada KTT APEC, Kamis (30/10).

Kesepakatan tersebut mungkin "sangat diuntungkan karena terhubung dalam perjanjian plurilateral dengan komitmen, pembiayaan, dan pengumpulan sumber daya yang kuat," kata Wendy Cutler, wakil presiden senior di Asia Society Policy Institute. Ia memperkirakan lebih banyak kesepakatan serupa akan menyusul di bawah pemerintahan Trump.

Trump dan Xi diperkirakan akan membahas beberapa isu kontroversial yang telah menghambat perundingan perdagangan yang telah berlangsung lama, termasuk kontrol ekspor tanah jarang Beijing dan ancaman tarif serta pembatasan teknologi Washington.

‘Kemenangan’ terbaru Trump adalah kesepakatan dengan Jepang yang bertujuan mengamankan pasokan mineral penting mentah dan olahan sekaligus menjanjikan pendanaan untuk proyek-proyek tertentu dalam enam bulan ke depan.

Pakta-pakta sebelumnya dengan Australia, Malaysia, dan Thailand juga menguraikan rencana bernilai miliaran dolar, komitmen terhadap praktik perdagangan yang adil, dan untuk menghindari larangan atau kuota ekspor.

Pengendalian ekspor tanah jarang dapat berdampak besar, mengingat AS sangat bergantung pada Tiongkok untuk pasokan tanah jarang. Antara tahun 2020 dan 2023, 70% impor senyawa dan logam tanah jarang AS berasal dari Tiongkok, menurut laporan Survei Geologi AS.

Para pejabat AS memperkirakan Tiongkok akan menunda penerapan kontrol ekspor mineral penting selama setahun sebagai bagian dari kesepakatan perdagangan yang lebih luas, yang sempat mendinginkan reli saham pertambangan.

Butuh Waktu Lama

Dorongan Presiden AS Donald Trump untuk mengamankan kesepakatan pasokan logam tanah jarang di seluruh Asia pada akhirnya akan melemahkan dominasi Tiongkok dalam rantai pasokan global untuk mineral-mineral penting. Namun para analis mengatakan upaya AS tersebut akan memakan waktu bertahun-tahun untuk dapat menekan Beijing secara signifikan dan meningkatkan pasokan Washington.

Meskipun kesepakatan Trump dengan negara-negara tersebut akan memberikan dukungan finansial yang sangat dibutuhkan bagi industri ini dan pada akhirnya dapat menantang cengkeraman Beijing atas logam tanah jarang, para ahli mengatakan upaya tersebut akan mahal dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membuahkan hasil.

“Yang kami coba lakukan sekarang adalah melepaskan diri dari Tiongkok sebagai rantai pasokan utama, tetapi itu akan membutuhkan waktu,” kata Dennis Wilder, mantan pejabat senior intelijen AS yang kini menjadi peneliti senior di Universitas Georgetown.

“Dalam jangka menengah, kami akan melepaskan diri dari rantai pasokan Tiongkok, tetapi dalam jangka pendek, masih ada ketergantungan yang besar pada Tiongkok,” tegas Wilder.

Goldman Sachs memperkirakan tambang logam tanah jarang baru cenderung membutuhkan waktu hingga satu dekade untuk dikembangkan, dengan cadangan yang diketahui untuk unsur-unsur tertentu ‘sangat langka’ di luar Myanmar dan Tiongkok, sementara pembangunan kilang akan memakan waktu sekitar 5 tahun.

Tiongkok mendominasi 69% pangsa pasar pertambangan tanah jarang, 92% penyulingan, dan 98% manufaktur magnet, menurut estimasi Goldman Sachs.

Bagi Brodie Sutherland, CEO Patriot Critical Minerals Corp, pengembang mineral kritis yang berbasis di AS, kesepakatan yang dicapai Trump dengan Australia, Malaysia, Kamboja, dan Jepang merupakan pengubah permainan (game-changer) yang dapat mengurangi kerentanan AS terhadap kontrol ekspor Beijing, menstabilkan harga tanah jarang, dan mempercepat penyulingan serta daur ulang inovatif dalam negeri.

Dengan akses terjamin ke bahan baku dari negara-negara sahabat, perusahaan-perusahaan AS dapat berfokus pada ekstraksi yang efisien, penambangan yang etis, dan pemrosesan bernilai tambah, kata Sutherland. (CNBC/CNN/Al-Jazeera/B-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik