Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Luar Negeri Hungaria, Peter Szijjarto menilai Uni Eropa (UE) kini lebih sibuk mempersiapkan skenario perang yang panjang dibanding mencari solusi damai atas konflik Rusia-Ukraina.
Pernyataan ini ia sampaikan usai menghadiri pertemuan para menteri luar negeri di Kopenhagen, Denmark beberapa waktu lalu.
Szijjarto menyebut Komisi Eropa secara praktis telah berubah menjadi Komisi Ukraina karena lebih mendahulukan kepentingan Kyiv daripada kepentingan negara-negara anggota. Kritik itu ia bagikan melalui akun resminya di platform X.
"Pada pertemuan para menteri luar negeri UE di Kopenhagen hari ini, menjadi jelas bahwa Brussel dan sebagian besar negara anggota sedang bersiap untuk perang yang panjang, bukan perdamaian. Mereka ingin mengirim puluhan miliar euro ke Ukraina untuk gaji tentara, drone, senjata, dan operasional negara Ukraina," kata Szijjarto seperti dikutip CNBC, Senin (1/9).
Dia menambahkan bahwa dalam pertemuan tersebut ada tekanan besar untuk mempercepat aksesi Ukraina ke UE, memberlakukan sanksi baru terhadap energi Rusia dan menyediakan dana tambahan sebesar 6 miliar euro (Rp115 triliun) guna memperkuat militer Kyiv. Langkah ini menunjukkan besarnya komitmen finansial Eropa bagi Ukraina.
Hubungan antara Hungaria dan Ukraina memang sudah lama tegang. Situasi semakin memburuk setelah serangan Ukraina terhadap pipa minyak Druzhba, jalur vital yang mengalirkan minyak Rusia dan Kazakhstan ke Slovakia dan Hungaria.
Budapest juga menuduh Kyiv melanggar hak-hak etnis Hungaria di wilayah Transcarpathia, sehingga memperdalam ketegangan kedua negara.
Hungaria konsisten menolak pengiriman senjata ke Ukraina dan berulang kali mengkritik kebijakan sanksi terhadap Moskow, yang dinilai merugikan ekonomi negara anggota UE sendiri.
Selain itu, Budapest juga menolak langkah Ukraina untuk bergabung dengan NATO maupun UE, membuat posisinya berbeda dengan sebagian besar anggota blok tersebut.
Sementara itu, pernyataan berbeda datang dari diplomat tinggi UE lainnya, Kaja Kallas.
Seusai pertemuan di Kopenhagen, dia menegaskan komitmen untuk terus mempersenjatai Ukraina dan meningkatkan tekanan pada Rusia, menandakan mayoritas negara Eropa tetap memilih jalur dukungan militer.
Moskow sendiri sejak awal mengecam dukungan Barat kepada Ukraina. Rusia menyebut hal itu sebagai perang proksi NATO.
Pada Juli lalu, Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov menegaskan bahwa para pemimpin Eropa Barat kembali berusaha menyiapkan benua tersebut untuk perang besar melawan Rusia. (Fer/I-1)
MANTAN prajurit Korps Marinir TNI Angkatan Laut, Satria Arta Kumbara, kembali menjadi sorotan publik setelah menyatakan keinginannya untuk pulang ke Indonesia.
PRESIDEN Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengonfirmasi bahwa pihaknya telah mengajukan tawaran kepada Rusia untuk kembali menggelar perundingan damai.
Uni Eropa mengusulkan sanksi baru terhadap Rusia dengan menargetkan pelabuhan di negara ketiga, termasuk Pelabuhan Karimun di Indonesia, dalam paket sanksi ke-20.
Selain penetapan status teroris bagi IRGC, Uni Eropa juga memperluas daftar sanksi individu. Sebanyak 15 pejabat dari sektor keamanan dan peradilan Iran secara resmi masuk dalam daftar hitam.
PARA menteri luar negeri Uni Eropa untuk pertama kali dalam pertemuan pada Kamis (29/1) menyebut Amerika Serikat sebagai ancaman bagi benua tersebut.
Kremlin sebut Uni Eropa inkompeten dan tolak dialog dengan Kaja Kallas terkait perang Ukraina. Moskow pilih jalur komunikasi langsung dengan AS tanpa melibatkan UE.
Presiden Zelenskyy menyatakan dokumen jaminan keamanan AS-Ukraina siap diteken usai pertemuan trilateral di Abu Dhabi. Isu teritorial masih jadi ganjalan utama.
MEMASUKI awal 2026, dunia dikejutkan oleh tindakan unilateral Amerika Serikat yang sangat drastis di kawasan Karibia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved