Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
Kerja sama Indonesia dengan Tiongkok telah berusia 74 tahun. Dalam perjalanannya, kedua negara telah mendapatkan manfaat satu sama lain dan besarannya harus terus ditingkatkan.
"Kedua pihak sepakat untuk memperkokoh kerja sama yang saling menguntungkan antara kedua negara. Hubungan bilateral akan terus diperkokoh dengan terus menghormati hukum internasional," kata Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi saat menerima kunjungan Menlu Tiongkok Wang Yi, di Kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Kamis (18/4).
Retno menambahkan Tiongkok adalah salah satu mitra penting ekonomi Indonesia. Beijing merupakan mitra dagang terbesar bagi Jakarta, dengan volume perdagangan mencapai lebih dari US$127 miliar.
Baca juga : Menlu Tiongkok dan Menlu RI Bahas Isu Timur Tengah yang Memanas
Tiongkok juga merupakan salah satu investor asing terbesar dengan nilai investasi lebih dari US$7,4 miliar tahun lalu. Beberapa fokus kerja sama investasi yang akan terus diperkuat, antara lain di bidang hilirisasi industri, pembangunan infrastruktur, manufaktur, transisi energi, serta ketahanan pangan.
Pembahasan kerja sama ekonomi secara lebih detail akan dibahas dalam pertemuan High-Level Dialogue Cooperation Mechanism (HDCM) di Labuan Bajo, NTT, pada Jumat (19/4). "Dari pihak Indonesia akan dipimpin bersama Menko Marves dan Menlu. Sementara dari pihak Tiongkok akan dipimpin oleh Menlu Wang Yi," ujar Retno.
Ia juga mengatakan kunjungan Wang Yi ini akan lebih memperkuat hubungan kedua negara. Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia-Tiongkok akan terus dipupuk dengan semangat kerja sama, saling menghormati dan saling menguntungkan.
Baca juga : Indonesia Hadiri Pertemuan Darurat OKI soal Palestina
Masih dalam konteks kerja sama bilateral, kata Retno, kunjungan Wang Yi ini turut membahas kerja sama penanganan kejahatan lintas batas, terutama daring scam. "Saya sampaikan pentingnya kerja sama kawasan, termasuk dengan Tiongkok
dalam penanganan kejahatan ini, banyak WNI yang menjadi korban. Maka itu mengajak Tiongkok untuk melakukan kerja sama di bidang pencegahan agar korban tidak terus berjatuhan," ungkapnya.(M-3)
Selain itu, lanjut Retno, pihaknya juga membahas beberapa isu kawasan dan dunia dengan Wang Yi. Indonesia menekankan kembali komitmen-nya untuk menjaga stabilitas dan perdamaian di Indo
LEDAKAN hebat di sebuah pabrik bioteknologi di Provinsi Shanxi, Tiongkok Utara, menewaskan delapan orang dan kembali menyoroti persoalan keselamatan kerja
Penggabungan potensi budaya Indonesia yang kaya dengan teknologi maju Tiongkok merupakan formula tepat untuk menembus pasar global.
MoU ini fokus pada dua sektor utama. Yakni energi hijau dan ketahanan pangan.
Pemerintah Tiongkok menyatakan penyesalan atas berakhirnya Perjanjian New START antara AS dan Rusia. Beijing mendesak Washington melanjutkan dialog dengan Moskow.
UNICEF memberikan apresiasi tinggi atas komitmen kepemimpinan Indonesia dalam membangun kualitas generasi masa depan melalui penguatan gizi ibu dan anak.
Industri baja nasional tengah menghadapi tekanan global dan tantangan struktural, termasuk masuknya produk baja impor berharga rendah yang menekan daya saing.
Sejumlah mantan menteri luar negeri menegaskan, keikutsertaan Indonesia tidak lepas dari komitmen lama bangsa ini dalam membela Palestina dan mendorong penyelesaian damai yang adil.
PRESIDEN Prabowo Subianto mengundang para menteri dan wakil menteri luar negeri pemerintahan terdahulu ke Istana Negara, diduga perihal Dewan Perdamaian atau Board of Peace.
MENTERI Luar Negeri (Menlu), Sugiono menjelaskan soal iuran 1 miliar dolar AS atau setara Rp16,82 triliun untuk keanggotaan Dewan Keamanan bukan membership fee
Menlu Sugiono menegaskan menjaga kepentingan nasional harus tetap menjadi prioritas utama dalam setiap langkah kebijakan luar negeri Indonesia.
Menlu Sugiono menegaskan Indonesia akan terus mendorong terciptanya perdamaian serta stabilitas internasional melalui jalur diplomasi dan penguatan kerja sama global.
Sugiono juga menyoroti melemahnya efektivitas tata kelola global dalam merespons krisis yang berkembang semakin cepat dan kompleks.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved