Selasa 17 Januari 2023, 10:57 WIB

Berkaca Kasus George Floyd, Biden Reformasi Kepolisian AS

Cahya Mulyana | Internasional
Berkaca Kasus George Floyd, Biden Reformasi Kepolisian AS

AFP
Video yang menunjukkan bagaimana George Floyd meninggal akibat ditekan lehernya oleh polisi bernama Derek Chauvin.

 

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Joe Biden menyerukan reformasi kepolisian. Dia meminta penghentian teknik yang mematikan termasuk chokehold atau mencekik dengan lengan dalam penangkapan.

Komentar itu ia sampaikan dalam sebuah acara sarapan bersama bertajuk Martin Luther King, Jr. Day oleh National Action Network di Washington DC.

Pernyataan itu menyusul penolakan Rancangan Undang-undang (RUU) Reformasi Kepolisian yang oleh Partai Republik di Senat AS.

"Kita harus melatih ulang polisi. Mengapa polisi harus selalu melepaskan tembakan mematikan? Faktanya adalah, Anda tidak selalu harus menggunakan senjata," katanya dilansir dari New York Post, Selasa (17/1).

Biden menyatakan pihaknya telah mengeluarkan semacam Peraturan Pengganti Undang-Undang (Perppu) pada Mei 2022 tentang reformasi kepolisian. Itu mencakup banyak tindakan yang masuk dalam RUU tersebut.

Baca juga: Pentagon Hentikan Kewajiban Vaksinasi Covid-19 untuk Tentara AS

Tujuannya untuk menghindari perlakuan polisi seperti yang menewaskan George Floyd. Dia merupakan warga kulit hitam yang tewas di tangan polisi kulit putih Derek Chauvin pada 2020 dengan teknik chokehold.

"Saya melakukan satu-satunya hal yang dapat saya lakukan. Saya telah menandatangani perintah eksekutif (Peppu) bersejarah yang menyertakan elemen kunci dari RUU (yang dikenal sebagai George Floyd) di tingkat federal," katanya.

Perintah eksekutif tersebut salah satunya melarang penggunaan chokehold dan membatasi menggerebek rumah warga tanpa surat perintah. Sebelumnya pada 2020, Biden pernah menyampaikan pernyataan mengenai polisi.

Kala itu, ia mengatakan bahwa polisi harus dilatih untuk menembak individu yang mengancam di bagian kaki, bukan jantung.

Komentar itu memicu kecaman Biden terutama dari beberapa kelompok pendukung aparat penegak hukum.

"Komentar tidak bertanggung jawab seperti ini yang menyebabkan masalah yang sebenarnya tidak perlu ada," tulis pendiri organisasi advokasi polisi We Back Blue Melissa Robey.

Polisi AS dilaporkan telah membunuh 1.185 orang sepanjang 2022, menurut analisis data Mapping Police Violence. Kurang dari 10% dari total tersebut melibatkan individu yang tidak bersenjata. (New York Post/Cah/OL-09)

Baca Juga

OZAN KOSE / AFP

Indonesia Kirim Dua Pesawat untuk Bawa Bantuan ke Turki

👤Cahya Mulyana 🕔Kamis 09 Februari 2023, 18:57 WIB
Pemerintah Indonesia juga terus berkoodinasi dengan pemerintah Turki terkait bantuan tahap selanjutnya yang akan diberikan sesuai dengan...
MOHAMMED BADRA / POOL / AFP

Zelensky Minta Jet Tempur Lagi dalam Kunjungan ke Prancis dan Inggris

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Kamis 09 Februari 2023, 16:33 WIB
Kunjungannya ke Prancis membuatnya mengadakan pertemuan makan malam dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang juga dihadiri oleh...
ANTARA FOTO/Fauzan

Restoran di Jerman Berlakukan Denda Jika tak Habiskan Makanan

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 09 Februari 2023, 16:09 WIB
Restoran China Fang di Rhauderfehn, misalnya, akan membebankan biaya tambahan 10 euro (sekitar Rp162.000) kepada para tamu yang menyisakan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya