Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
Demonstrasi memprotes ketentuan berhijab Iran dalam kasus kematian Mahsa Amini tidak hanya bergolak di dalam negeri. Sejumlah kelompok diaspora Iran dan aktivis di Athena, Berlin, Brussels, Istanbul, Madrid, Paris, hingga New York turut menggelar demonstrasi.
Pada Senin (26/9), para pengunjuk rasa berkumpul di pusat kota Paris. Aksi yang sudah digelar dua hari berturut-turut ini dimulai dari Trocadero Square di pusat Paris.
Beberapa demonstran meneriakkan kemarahan mereka terhadap Pemerintah Iran serta menentang kepimimpinan Ayatollah Ali Khamenei. Demonstran bergerak menuju Kedubes Iran. Polisi dengan baju besi anti huru hara memblokade jalan pengunjuk rasa.
"Pada beberapa kesempatan kelompok mencoba menerobos penghalang jalan yang didirikan di dekat kedutaan Iran. Polisi menggunakan, gas air mata untuk mengusir mereka," pernyataan polisi Paris.
Polisi Paris mengklaim ada 4.000 massa demonstrasi. Satu orang dilaporkan ditangkap dan satu petugas kepolisian terluka.
Sementara di Iran, demonstrasi terus meluas di hari ke-10 kematian Amini. Setidaknya 41 orang tewas di beberapa kota di Iran akibat bentrokan antara pedemo dan aparat keamanan selama demo berlangsung.
Kelompok HAM IHR berbasis di Oslo bahkan melaporkan korban tewas demonstrasi Amini bertambah menjadi 57 tahun. Namun, organisasi itu menekankan pemadaman internet menjadikan semakin sulit mengonfirmasi korban tewas akibat demonstrasi di Iran.
Iran juga telah menangkap ratusan demonstran, aktivis reformis, hingga jurnalis di tengah demonstrasi yang sebagian besar terjadi pada malam hari ini.
Pusat kerusuhan terjadi di wilayah Kurdistan Iran, kampung halaman Amini. Ratusan perempuan Iran yang ikut berdemo di sejumlah kota bahkan melepas jilbab mereka sambil berteriak matilah diktator dalam demonstrasi itu sebagai bentuk solidaritas terhadap Amini.
Amini, 22, meninggal dunia di rumah sakit pada Jumat (16/9) setelah tiga hari koma. Perempuan asal Kota Saghez, Kurdistan, ini koma tak lama usai ditahan oleh polisi moral Iran di Teheran karena tidak memakai kerudung atau hijab sesuai aturan yang berlaku.
Amini ditangkap ketika tengah melancong ke ibu kota karena dinilai melanggar aturan hijab. Media lokal dan kelompok pemerhati HAM mencatat Amini menderita beberapa luka pukulan di kepala. Pihak keluarga juga mengklaim polisi memukuli Amini saat mengangkutnya dengan mobil polisi ke penjara. (AFP/OL-12)
Donald Trump kembali mengeraskan sikap terhadap Iran.Trump menyebut pergantian rezim di Teheran sebagai solusi terbaik
Presiden Donald Trump mengancam akan mengerahkan kekuatan militer besar jika negosiasi nuklir dengan Iran gagal. AS kirim kapal induk ke Timur Tengah.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memperingatkan Iran soal konsekuensi sangat traumatis jika gagal mencapai kesepakatan nuklir.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan Teheran tak akan tunduk pada tuntutan berlebihan AS terkait program nuklir, di tengah negosiasi dan meningkatnya ketegangan kawasan.
Iran peringati 47 tahun Revolusi Islam 1979. Presiden Pezeshkian tegaskan menolak agresi AS, namun tetap siap dialog dan verifikasi program nuklir damai.
Presiden Donald Trump menyatakan Iran ingin membuat kesepakatan nuklir baru. Ia memperingatkan Teheran akan "bodoh" jika menolak tawaran tersebut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved