Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
TEHERAN pada Senin (11/4) mempertanyakan keinginan Washington dalam mencapai kesepakatan untuk memulihkan perjanjian nuklir 2015. Masih ada poin-poin penting yang belum terselesaikan setelah pembicaraan dihentikan bulan lalu.
Iran telah terlibat selama satu tahun dalam negosiasi dengan Prancis, Jerman, Inggris, Rusia, dan Tiongkok secara langsung, dan Amerika Serikat secara tidak langsung untuk menghidupkan kembali kesepakatan, yang dikenal secara resmi sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA). Negosiasi di ibu kota Austria, Wina, bertujuan mengembalikan Amerika Serikat ke kesepakatan nuklir, termasuk pencabutan sanksi terhadap Iran, dan memastikan kepatuhan penuh Teheran terhadap komitmennya.
"Kami benar-benar tidak tahu kami akan mendapatkan kesepakatan atau tidak, karena Amerika Serikat belum menunjukkan keinginan yang diperlukan untuk mencapai kesepakatan," kata juru bicara kementerian luar negeri Iran Saeed Khatibzadeh. "Yang tersisa hanyalah keputusan Washington," tambahnya.
Baca juga: 77% Evangelis Percaya Iran Gunakan Nuklir untuk Hapus Israel
Awal bulan ini, rekan Khatibzadeh di Departemen Luar Negeri Amerika Serikat Ned Price mengatakan bahwa Teheran tidak memberikan jalan untuk membuat kesepakatan menjadi mungkin. Namun Washington masih percaya ada peluang untuk mengatasi perbedaan yang tersisa.
"Semua komponen tekanan maksimum harus dihilangkan," kata Khatibzadeh. "Sayangnya, Amerika Serikat berusaha mempertahankan beberapa elemen tekanan maksimum," tambahnya.
Pembicaraan telah dihentikan sejak 11 Maret setelah Rusia menuntut jaminan bahwa sanksi Barat yang dijatuhkan setelah invasi 24 Februari ke Ukraina tidak akan merusak perdagangannya dengan Iran. Beberapa hari kemudian, Moskow mengatakan telah menerima jaminan yang diperlukan.
Baca juga: Iran Jatuhkan Sanksi pada 24 Pejabat AS Atas Tuduhan Terorisme dan Pelanggaran HAM
Di antara poin-poin penting yang mencuat yaitu permintaan Teheran untuk menghapus Pengawal Revolusi, lengan ideologis militer Iran, dari daftar teror AS. Bulan lalu, perunding AS Rob Malley mengatakan Pengawal Revolusi akan tetap dikenakan sanksi oleh hukum Amerika bahkan jika terjadi kesepakatan.
"Yang penting bagi kami yaitu manfaat tertentu bagi rakyat Iran dari pencabutan sanksi," kata Khatibzadeh. (AFP/OL-14)
USKUP Agung Katolik untuk dinas militer AS mengatakan bahwa secara moral dapat diterima untuk tidak mematuhi perintah jika pasukan menganggap perintah bertentangan dengan hati nurani mereka.
PRESIDEN Donald Trump memperjelas selama berbulan-bulan bahkan mungkin bertahun-tahun bahwa ia termotivasi secara unik oleh keinginan untuk memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian.
Perdana Menteri Store menegaskan bahwa pemerintah Norwegia tidak memiliki kewenangan dalam penentuan penerima Hadiah Nobel Perdamaian.
Pasca-COP30, Indonesia dan Brasil perlu memperkuat poros kepemimpinan Global South melalui diplomasi aktif.
North American Aerospace Defense Command (NORAD) mengumumkan bahwa sejumlah pesawatnya akan segera tiba di Pituffik Space Base, Greenland.
Putra Donald Trump adalah salah satu investor di tambang 'unsur tanah jarang' pertama di pulau Arktik tersebut.
TIONGKOK menolak usulan Presiden Donald Trump untuk perundingan pengendalian senjata nuklir sebagai tidak masuk akal. Apa alasannya?
PERLOMBAAN nuklir baru dimulai. Kini AS harus bersiap menghadapi dua pesaing sekaligus di saat kehilangan keunggulan industri dan ekonominya.
Di Xinjiang barat jauh, citra satelit dan analisis ahli menunjukkan bahwa Tiongkok dengan cepat memperluas lokasi uji coba nuklir bersejarah.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan keberhasilan uji coba rudal jelajah bertenaga nuklir Burevestnik, di tengah meningkatnya serangan udara di Ukraina.
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menyatakan siap mendukung kesepakatan Donald Trump dan Kim Jong Un terkait pembekuan produksi senjata nuklir Korea Utara.
Peimpin Korea Utara, Kim Jong Un, serukan percepatan perluasan kemampuan senjata nuklir di negaranya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved