Minggu 13 Juni 2021, 16:56 WIB

Tiongkok Sebut Negara G-7 Tak Bisa Lagi Mendikte Negara Lain

Nur Aivanni | Internasional
Tiongkok Sebut Negara G-7 Tak Bisa Lagi Mendikte Negara Lain

Stefan Rousseau / POOL / AFP
Di sela KTT G-7, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson (kanan) menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in

 

TIONGKOK dengan tegas memperingatkan para pemimpin Kelompok Tujuh (G-7) bahwa kini kewenangan G-7 untuk memtuskan nasib dunia sudah lama berlalu.

Pertnyataan disampaikan Tiongkok dalam merespons sikap negara-negara demokrasi terkaya di dunia yang tengah berupaya untuk menandingi Tiongkok.

"Hari-hari ketika keputusan global didikte oleh sekelompok kecil negara sudah lama berlalu," kata Juru Bicara Kedutaan Besar  (Kedubes)Tiongkok di London. Inggris, Minggu (13/6).

"Kami selalu percaya bahwa negara, besar atau kecil, kuat atau lemah, miskin atau kaya, adalah sama, dan bahwa urusan dunia harus ditangani melalui konsultasi oleh semua negara," tambahnya.

Kebangkitan kembali Tiongkok sebagai kekuatan global terkemuka dianggap sebagai salah satu peristiwa geopolitik paling signifikan akhir-akhir ini, di samping jatuhnya Uni Soviet pada tahun 1991 yang mengakhiri Perang Dingin.

Para pemimpin G-7 telah menggelar pertemuan di Inggris. Mereka tengah membahas untuk merespons terkait sikap tegas Presiden Tiongkok Xi Jinping seiring kembangkitan ekonomi dan kekuatan militer Tiongkok yang luar biasa dalam 40 tahun terakhir.  

Para pemimpin G7 – Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Jerman, Italia, Prancis, dan Jepang – ingin menggunakan pertemuan mereka di Inggris untuk menunjukkan kepada dunia bahwa negara-negara demokrasi terkaya tersebut dapat menawarkan alternatif bagi pengaruh Tiongkok yang semakin besar.

Menurut sebuah sumber, Perdana Menteri (PM) Kanada Justin Trudeau memimpin diskusi G-7 tengah membahas berbagai hal terkait Tiongkok pada Sabtu (12/6).

PM Kanada meminta para pemimpin G-7 untuk bangkit dengan pendekatan terpadu dalam menghadapi tantangan yang ditimbulkan Beijing.

G-7 berencana untuk menawarkan skema infrastruktur kepada negara-negara berkembang yang dapat menyaingi "Belt and Road Initiative" milik Tiongkok yang bernilai triliun dolar. (Straits Times/Nur/OL-09)

Baca Juga

AFP

Topan In-Fa Terjang Pusat Bisnis Tiongkok dan Shanghai

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 25 Juli 2021, 18:32 WIB
Topan In-fa menerjang pusat bisnis Tiongkok, Shanghai, dan daerah sekitarnya di pesisir pada Minggu...
AFP/Thomas Coex

Macron Tuntut Penjelasan Israel Terkait Spyware Pegasus

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 25 Juli 2021, 18:29 WIB
Tuntutan itu disampaikan Macron saat  ia melakukan pembicaraan dengan Bennett melalui telepon, Sabtu...
MI/ROMMY PUJIANTO

Enam Warga India Tewas Tersambar Petir

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 25 Juli 2021, 18:25 WIB
Sedikitnya enam warga India tewas dan sejumlah lainnya mengalami luka akibat disambar petir di Negara Bagian Madhya Pradesh, menurut...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Pegasus Spyware, Senjata Pembungkam Wartawan

 Konsorsium media internasional bersama Amnesty International melaporkan lebih dari 50 ribu nomor telepon menjadi target spyware Pegasus.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya