Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Jerman Selidiki Dugaan Penipuan Tes Covid-19

Basuki Eka Purnama
30/5/2021 11:08
Jerman Selidiki Dugaan Penipuan Tes Covid-19
Warga mengantre untuk mengikuti tes covid-19 di Stuttgart, Jerman.(AFP/THOMAS KIENZLE)

JAKSA di sejumlah negara bagian Jerman telah mulai menggelar penyelidikan terhadap perusahaan yang menawarkan tes covid-19 gratis setelah adanya laporan bahwa mereka menggelembungkan angka positif virus korona demi mendapatkan lebih banyak uang dari pemerintah.

Jaksa telah merazia sebuah perusahaan di Kota Bochum, Jumat (28/5), menurut laporan surat kabar Suddeutsche Zietung sementara di Kota Leubeck, jaksa telah memulai penyelidikan mengenai dugaan penipuan.

Di Cologne, otoritas melakukan sidak ke sebuah pusat tes covid-19 dan di Kota Munster, izin sebuah perusahaan yang mengoperasikan 50 pusat pengujian covid-19 dicabut.

Baca juga: Warga Brasil Turun ke Jalan Mengecam Bolsonaro

Dalam upaya meningkatkan pengujian covid-19, pemerintah Jerman telah menggratiskan pengujian selama beberapa pekan terakhir, memberikan bayaran sebesar 18 euro (sekitar Rp314 ribu) kepada perusahaan untuk setiap tes yang mereka lakukan.

Namun, menurut penyelidikan gabungan yang dilakukan sejumlah media, pusat pengujian tidap perlu memberikan dokumen untuk membuktikan berapa banyak orang yang mereka uji untuk mendapatkan kompensasi dari pemerintah dan beberapa perusahaan telah menggelembungkan angka itu.

"Mereka hanya mengirimkan angka pengujian tanpa bukti apa pun dan mereka kemudian mendapatkan uang dari pemerintah," ungkap laporan bersama yang dirilis oleh stasiun televisi NDR dan WDR serta surat kabar Suddeutsche Zeitung.

Sebagai bagian dari penyelidikan mereka, wartawan menghitung jumlah orang yang masuk ke sebuah pusat pengujian covid-19 dan membandingkan jumlahnya dengan angka yang mereka laporkan ke pemerintah untuk mendapatkan uang pengganti.

Berdasarkan hal itu, sebuah pusat pengujian melaporkan 422 tes ketika yang datang hanya sekitar 100 orang. Pusat pengujian lainnya mengaku telah menguji 1.743 orang padahal hanya kurang dari 550 orang yang datang. (AFP/OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya