Kamis 26 November 2020, 14:49 WIB

Skotlandia Gratiskan Seluruh Produk Menstruasi

Atikah Ishmah Winahyu | Internasional
Skotlandia Gratiskan Seluruh Produk Menstruasi

AFP
Seorang perempuan melintasi kawasan pertokoan di Edinburgh, Skotlandia.

 

SKOTLANDIA akhirnya menyediakan produk menstruasi gratis bagi warganya. Menyusul persetujuan parlemen Skotlandia terhadap Rancangan Undang-Undang (RUU) terkait penyediaan produk menstruasi gratis.

Kebijakan ini akan mewajibkan pemerintah daerah untuk memberikan warga akses gratis pada barang keperluan menstruasi, seperti tampon dan pembalut. Anggota parlemen dari oposisi Partai Buruh gencar mengkampanyekan upaya melawan ‘kemiskinan menstruasi’.

Tepatnya saat seseorang membutuhkan produk sanitasi, namun tidak mampu membeli. Dibutuhkan regulasi khusus untuk menyokong kebijakan yang praktis dan progresif, khususnya di masa pandemi covid-19.

Baca juga: Lawan Kemiskinan Selandia Baru Sediakan Pembalut Gratis

"Menstruasi tidak berhenti karena pandemi. Upaya untuk meningkatkan akses ke tampon, pembalut dan kebutuhan yang dapat digunakan kembali, sangat penting," tutur anggota parlemen tersebut.

RUU tersebut disahkan dengan suara 121-0, setelah memenangkan dukungan dari pemerintah Skotlandia. Serta, partai oposisi lain di badan legislatif Edinburgh.

Menteri Pertama Skotlandia Nicola Sturgeon menyatakan dukungan terhadap regulasi yang dinilai sebagai terobosan. Sekaligus, menggambarkan terobosan itu kebijakan penting bagi kaum perempuan.

Baca juga: Positif Covid-19, Pangeran Charles Isolasi Diri di Skotlandia

Di bawah beleid tersebut, pemerintah Skotlandia harus menetapkan langkah terkait akses produk menstruasi gratis untuk publik. Termasuk, sekolah dan kampus harus menyediakan produk menstruasi di kamar mandi.

Sekretaris Komunitas Aileen Campbell dari Partai Nasional Skotlandia mengapresiasi pengesahan RUU sebagai momen penting untuk kesetaraan gender.

Berdasarkan survei pada 2017, sekitar 10% perempuan berusia 14-21 tahun di Inggris tidak mampu membeli produk menstruasi. Kemudian, 15% perempuan kesulitan untuk membeli produk tersebut.(APNews/OL-11)

Baca Juga

AFP/SIPHIWE SIBEKO

Afsel Bayar 2,5 Kali Lebih Tinggi dari UE untuk Vaksin Korona

👤Nur Aivanni 🕔Jumat 22 Januari 2021, 08:05 WIB
Seorang pejabat senior kesehatan mengatakan dosis tersebut masing-masing akan menelan biaya US$5,25 (4,32 euro), sementara anggota UE hanya...
AFP/Mandel Ngan

Biden akan Perpanjang Perjanjian New START

👤Nur Aivanni 🕔Jumat 22 Januari 2021, 07:29 WIB
Amerika Serikat bermaksud untuk mengupayakan perpanjangan New START, perjanjian pengurangan senjata nuklir antara AS dengan...
AFP/Tolga Akmen

Sempat Naik, Bursa Saham Inggris Kembali Merosot

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 22 Januari 2021, 07:00 WIB
Pada perdagangan Kamis waktu setempat, indeks acuan FTSE 100 di Bursa Efek London ditutup melemah 0,31% ke level 6.715,42...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya