Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
ARMENIA dan Azerbaijan terlibat pertempuran sengit dalam memperebutkan wilayah Nagorno-Karabakh yang hari ini, Sabtu (3/10) telah memasuki hari keenam.
Pengamat politik internasional Arya Sandhiyudha mengulas ada lima catatan utama terkait situasi ini.
"Pertama, Nagorno-Karabakh ini secara prinsip hukum internasional merupakan bagian dari territorial Azerbaijan. Namun, secara demografik etnik mayoritasnya adalah Armenia. Itulah kenapa konflik ini sudah berusia panjang dan rumit karena ada dua penggunaan logika prinsip yang berbeda, asimetrik," ujarnya dalam sebuah keterangan, Sabtu (3/10).
Baca juga: Rusia dan Turki Koordinasi Stabilkan Nagorno-Karabakh
Peraih Doktor Hubungan Internasional dari Istanbul University, Turki, menjelaskan akar konflik ini.
"Kedua, akar konflik ini berlanjut karena pasca-Uni Soviet runtuh, wilayah itu menuntut kemerdekaan dengan dukungan militer persenjataannya dari Armenia. Maka terjadilah proxy war antara Armenia dan Azerbaijan yang saling bertetangga secara geografis."
Menurut Arya, konflik Nagorno-Karabakh mesti segera disudahi karena sudah sangat banyak jatuh korban.
"Ketiga, konflik ini telah menjadi perang panjang yang menyebabkan 17 25 ribu jiwa terbunuh, 1 juta pengungsi terusir, wilayah Azerbaijan lepas, dan sanksi PBB terhadap Armenia jatuh."
Direktur Eksekutif The Indonesian Democracy Initiative (TIDI) ini juga mengatakan karena wilayah Nagorno Karabakh memiliki nilai strategis membuat konflik ini melibatkan kekuata besar di kawasan, seperti Rusia, Turki, dan Iran.
"Keempat, dalam peta hubungan luar negeri, konflik ini telah melibatkan negara-negara besar di kawasan, di antara sebabnya adalah potensi energi fosil yang luar biasa di wilayah tersebut. Ada Rusia, yang cenderung mendukung Armenia. Ada Turki, yang menggalang dukungan solidaritas dengan Azerbaijan. Selain faktor sejarah, karena ada pipa BTC Baku-Tblisi-Ceyhan yang melintas via Erzurum, untuk penyaluran energi fosil (minyak dan gas alam) antara Laut Kaspia dan Laut Mediteran. Ada Iran, yang secara domestik juga memiliki ketegangan dengan 16 juta imigran asal Azerbaijan di Iran, serta kompetisi energi fosil (minyak dan gas alam) terkait pipa BTP."
Catatan kelima, jelasnya, "Status quo Nagorno Karabakh ini membutuhkan mekanisme multilateral seperti OSCE, Organization for Security and Cooperation in Europe, untuk mencapai skenario terbaik selain perang panjang."
Arya optimistis, melihat adanya mekanisme multilateral yang masih tersedia saat ini tidak akan ada perang besar antara Armenia dan Azerbaijan.
"Negara-negara besar yang terlibat pasti dapat menemukan titik temu kepentingan mereka. Sehingga skenario paling mungkin perang parsial sejenak lalu kembali pada status quo perundingan. Efektivitas diplomasi soal Nagorno Karabakh ini sangat bergantung pada komunikasi dengan negara-negara sekitar yang punya kepentingan, dengan tetap menjaga eksistensi dan dignity kedua negara (Armenia Azerbaijan) di mata internasional," pungkasnya. (OL-1)
Simak kronologi lengkap serangan drone di Bandara Internasional Nakhchivan Azerbaijan (5 Maret 2026) yang memicu ketegangan tinggi di wilayah Kaukasus.
IRAN menyebut bahwa Israel di balik serangan drone terhadap Azerbaijan. Kantor berita Iran, IRNA melaporkan Israel memiliki riwayat melakukan operasi semacam itu untuk timbulkan perpecahan
Menlu Iran Abbas Araghchi bantah serang Azerbaijan. Ia tuding Israel dalangi serangan drone di Bandara Nakhchivan untuk merusak hubungan Teheran dengan tetangga.
Seperti yang kami laporkan sebelumnya, pemerintah Azerbaijan mengatakan dua drone dari Iran mendarat di wilayah Nakhchivan, salah satunya mengenai gedung bandara.
Azerbaijan kecam serangan drone Iran yang hantam Bandara Internasional Nakhchivan. Dua orang terluka dalam serangan ke fasilitas sipil tersebut. Baku ancam balas dendam.
Putin mengatakan kepada Aliyev bahwa dua rudal antipesawat Rusia meledak beberapa meter dari sebuah pesawat penumpang Azerbaijan Airlines, menewaskan 38 orang di dalamnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved