Jumat 04 September 2020, 09:45 WIB

Prancis Kecam AS Terkait Sanksi Terhadap ICC

Faustinus Nua, Haufan Hasyim Salengke | Internasional
Prancis Kecam AS Terkait Sanksi Terhadap ICC

AFP/JURE MAKOVEC
Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian

 

Prancis mengecam pemberlakuan sanksi oleh Amerika Serikat (AS) terhadap kepala jaksa Pengadilan Pidana Internasional (International Criminal Court/ICC) pada Kamis (3/9), dengan mengatakan Washington telah melancarkan serangan serius pada badan global itu.

ICC, pengadilan multilateral khusus yang dibentuk untuk mengadili kasus genosida, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan, telah menjadi isu terbaru yang memecah Eropa dan AS di bawah pimpinan Presiden Donald Trump.

Sejak ICC dikukuhkan, AS tidak pernah mengakui otoritas pengadilan tersebut. Alhasil pemerintahan Trump mengambil langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan memberikan sanksi kepada jaksa penuntutnya, Fatou Bensouda, pada Rabu bersama dengan pejabat senior ICC lainnya.

"Tindakan yang diumumkan pada 2 September merupakan serangan serius pada pengadilan dan negara yang menandatangani Perjanjian Roma. Lalu, di luar ini, ada tantangan terhadap multilateralisme dan independensi peradilan," kata Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian, pada Kamis.

Baca juga: Patung Melania Trump yang Hangus Ada di Pameran Seni Slovenia

Ada 120 negara menandatangani Perjanjian Roma tahun 1998 yang menjadi dasar pembentukan ICC empat tahun kemudian. AS tidak termasuk yang terlibat, tidak seperti mitranya di Barat. Jadi, AS sama dengan beberapa negara lainnya, yaitu Rusia, Tiongkok, dan Israel yang menolak otoritas ICC.

Bereaksi terhadap sanksi AS pada Kamis, Uni Eropa mengatakan akan membela pengadilan terhadap upaya untuk melemahkannya.

"Pengadilan Pidana Internasional sedang menghadapi tantangan eksternal yang terus-menerus dan Uni Eropa berdiri teguh terhadap semua upaya untuk merusak sistem peradilan pidana internasional dengan menghalangi pekerjaan lembaga intinya," kata Peter Stano, juru bicara kepala diplomatik Uni Eropa Josep Borrell.

Human Rights Watch mengatakan bahwa tindakan administrasi Trump menunjukkan 'pengabaian yang mengerikan terhadap korban kejahatan terburuk di dunia'. (AFP/France24/OL-14)

Baca Juga

AFP/Mohammed Abed.

Hamas Ingatkan Israel akan Bayar Mahal akibat Usir Warga Palestina

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 05 Mei 2021, 23:28 WIB
Deif, yang telah berada dalam daftar buronan Israel selama bertahun-tahun, memuji orang-orang yang teguh di Sheikh...
scmp.com

Buang Susu di Saluran Pembuangan Variety Show Tiongkok Kena Sanksi

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 05 Mei 2021, 21:12 WIB
Acara ragam atau "variety show" yang sedang hit di Tiongkok dikenai sanksi akibat skandal membuang susu kemasan dalam jumlah...
buzz-caribbean.com

WhatsApp Luncurkan Ulang Sistem Pembayaran di Brasil

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 05 Mei 2021, 21:00 WIB
Aplikasi pesan instan WhatsApp meluncurkan ulang sistem pembayaran di Brasil, setelah sempat diblokir bank sentral negara tersebut tahun...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Citarum Mulai Harum

  Sudah tiga tahun Sungai Citarum dikeroyok. Sampah mulai berkurang, air terlihat lebih bersih.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya