Jumat 14 Agustus 2020, 17:26 WIB

AS-Tiongkok Disebut Kembali ke Meja Perundingan

Faustinus Nua | Internasional
AS-Tiongkok Disebut Kembali ke Meja Perundingan

AFP/Nicolas Asfouri
Presiden AS Donald Trump saat bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping akhir 2019 lalu.

 

NEGOSIATOR Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok dijadwalkan kembali membahas kesepakatan perdagangan fase satu yang ditandatangani awal tahun ini. Tepatnya sebelum pandemi covid-19 menghantam ekonomi dunia dan hubungan antara kedua negara memburuk.

Kesepakatan Washington dan Beijing pada Januari mewakili gencatan senjata parsial dalam perang dagang selama berbulan-bulan. Dalam kesepakatan itu, Tiongkok diwajibkan mengimpor tambahan produk AS senilai US$ 200 miliar selama dua tahun. Mulai dari produk otomotif, mesin, minyak, hingga produk pertanian.

Akan tetapi pembelian produk AS disebut masih jauh dari target. Presiden AS Donald Trump telah meningkatkan retorika terhadap Tiongkok jelang pemilihan presiden pada November mendatang. Hal itu menimbulkan pertanyaan tentang nasib kesepakatan bilateral, serta kemungkinan fase kedua gencatan senjata.

Baca juga: Tiongkok-AS Ingatkan Potensi Konflik

"Hasil pembicaraan perdagangan akan memberi sinyal, jika kedua belah pihak bersedia untuk terus mempertahankan kesepakatan. Itu akan menandakan apakah hubungan akan semakin memburuk," tutur Iris Pang, kepala ekonom untuk Tiongkok di ING.

Sejauh ini, otoritas AS dan Tiongkok belum mengkonfirmasi perihal rencana perundingan tersebut. Namun, kesepakatan sebelummya mengamanatkan pertemuan setiap enam bulan, yang seharusnya dilaksanakan pada Sabtu besok.

Meski ketegangan memanas dan kedua negara terguncang pandemi, namun kalangan analis menilai pembicaraan tidak akan menghasilkan perubahan besar. Apabila terjadi sesuatu, Washington digadang-gadang menjadi katalisator.

Baca juga: Tiongkok Ingin Ubah Nasib Taiwan Seperti Hong Kong

"Sampai sekarang, Tiongkok relatif pasif dan AS relatif aktif.  Menurut saya, tidak banyak perubahan dari Tiongkok dalam hal perdagangan, kerja sama atau pembukaan pasar. Kuncinya masih ada di pihak AS," pungkas Raymond Yeung, kepala ekonom untuk Tiongkok di ANZ.

Ketegangan antara kedua negara kian memburuk, setelah Washington dan Beijing saling berdebat tentang covid-19. Belum lagi tindakan keras Tiongkok terhadap Hong Kong, yang direspons AS dengan sanksi. Pemerintahan Trump bahkan melarang raksasa internet Tiongkok, yakni TikTok dan WeChat, beroperasi di Negeri Paman Sam.(CNA/OL-11)

 

Baca Juga

STRINGER / AFP

Ukraina Bantah Sabotase Pangkalan Udara Rusia di Krimea

👤Cahya Mulyana 🕔Rabu 10 Agustus 2022, 08:51 WIB
Rusia memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap Krimea akan memicu pembalasan besar-besaran dari militer...
Ist/DPR

BKSAP Desak Dewan Keamanan PBB Bentuk Pasukan Perdamaian untuk Palestina

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 10 Agustus 2022, 07:43 WIB
Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Fadli Zon mengutuk keras serangan terbaru Israel kepada warga...
AFP/Hector RETAMAL

Varian Omikron Muncul Lagi di Xinjiang dan Tibet saat Puncak Liburan

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 09 Agustus 2022, 23:30 WIB
Selama 1-21 Juli 2022, Xinjiang telah menerima 25,5 juta wisatawan atau naik 15,7% jika dibandingkan dengan periode yang sama...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya