Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
OTORITAS Korea Selatan melaporkan pada Selasa (4/8) sebanyak 14 orang tewas dan lebih dari 1.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka karena hujan deras selama 42 hari berturut-turut yang memicu banjir dan tanah longsor di negara itu. Hujan deras yang melanda negara itu menjadi yang terpanjang Korea Selatan dalam tujuh tahun terakir.
Dikutip CNA, para korban tewas diantaranya termasuk 3 warga Selandia Baru yang merupakan satu keluarga. Mereka ditemukan tewas pada hari Senin setelah tanah longsor melanda penginapan liburan di negara Gapyeong, timur laut Seoul.
Mereka adalah seorang wanita yang diyakini berusia 65 tahun, putrinya yang berusia 36 tahun dan cucunya yang berusia 3 tahun. Kementerian Luar Negeri Selandia Baru pun sudah diberitahu dan akan mengirim bantuan konsuler.
Presiden Moon Jae-in menyatakan keprihatinannya terhadap warga dan pekerja publik yang tengah memerangi pandemi covid-19. Mengingat di tengah pandemi yang mengancam kesehatan masyarakat, mereka juga harus menghadapi 42 hari hujan mosum yang menurut para pejabat cuaca merupakan panjang sejak tahun 2013.
"Saya menyerukan pemeriksaan pencegahan dan tindakan pencegahan proaktif ke tingkat yang bisa dianggap lebih jauh," kata Moon seperti dilansir CNA.
Baca juga : Tidak Ingin Monopoli, Tiongkok Siap Bagikan Vaksin Covid-19
Dia juga mendesak upaya serius untuk mencegah bertambahnya korban tewas. Untuk itu otoritas diminta bertindak cepat mencegah tanah longsor atau mengevakuasi orang, bahkan dalam kasus-kasus yang cukup berbahaya.
Dilaporkan kantor berita Yonhap pada Selasa, sebagian besar jalan dan jembatan yang banjir di sepanjang Sungai Han di pusat Seoul sudah mulai beroperasi. Lalu lintas dan infrastruktu yang sempat terbengkalai sudah diperbaiki.
Hujan deras, juga melanda Tiongkok, Thailand, Myanmar, dan India dalam beberapa hari terakhir. Negara-negara itu juga mengalami banjir meski tak separah Korea Selatan.
Di negara tetangga Korea Utara, media pemerintah memperingatkan kemungkinan banjir. Lantaran beberapa daerah juga mengalami hujan lebat dan diprediksi akan digenangi air setinggi setengah meter.
"Semua sektor ekonomi nasional, termasuk sektor pertanian, mengambil langkah-langkah untuk mencegah kerusakan akibat hujan lebat," kata kantor berita negara KCNA pada Selasa.(CAN/OL-2)
Bencana yang terjadi dengan demikian bukan sarana memecah belah umat, apalagi provokasi gerakan-gerakan antikeindonesiaan.
Perubahan iklim global kini menjadi realitas ilmiah yang tidak terbantahkan dan berdampak langsung pada meningkatnya risiko bencana di berbagai wilayah, termasuk Sumatra.
GERAKAN Pemuda (GP) Ansor kembali mendistribusikan bantuan terhadap korban terdampak bencana banjir di Kabupaten Pekalongan.
Grup UT akan terus memantau perkembangan situasi di wilayah terdampak serta memperkuat sinergi dan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah
Peninjauan banjir Pekalongan dilakukan untuk memastikan keselamatan warga terdampak sekaligus mengecek kesiapan penanganan banjir secara berlapis.
Berdasarkan penelusuran Media Indonesia, Sabtu (17/1) di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh misalnya, ratusan ribu penyintas banjir masih krisis kebutuhan dasar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved