Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Tiongkok Catat Lonjakan Tertinggi

Haufan Hasyim Salengke
28/7/2020 04:05
Tiongkok Catat Lonjakan Tertinggi
Tiongkok mencatat 61 kasus virus korona(AFP)

TIONGKOK, kemarin, mencatat 61 kasus virus korona. Itu merupakan angka harian tertinggi sejak April dan didorong klaster di tiga wilayah terpisah yang telah memicu kekhawatiran adanya gelombang baru.

Menurut Komisi Kesehatan Nasional, sebagian besar dari 57 kasus domestik baru ditemukan di wilayah Xinjiang, tempat wabah terjadi tiba-tiba di ibu kota wilayah, Urumqi, pada pertengahan Juli.

Empat belas kasus domestik juga dicatat di provinsi timur laut Liaoning, tempat klaster baru pecah di Kota Dalian pada minggu lalu. Dua kasus lokal ditemukan di provinsi tetangga Jilin di dekat perbatasan Korea Utara. Empat infeksi terakhir yang dikonfi rmasi ialah impor dari luar negeri.

Pihak berwenang Tiongkok telah meluncurkan pengujian massal untuk ratusan ribu orang di kota pelabuhan Dalian. Gelombang kedua pengujian massal juga diluncurkan di Urumqi untuk mendeteksi warga yang sebelumnya dites negatif tidak akurat, menyusul upaya pengujian massal awal bulan ini.

Infeksi baru di Jilin diumumkan hanya beberapa hari setelah Presiden Xi Jinping menyelesaikan tur inspeksi provinsi pekan lalu. Daerah itu mengumumkan empat kasus tanpa gejala baru pada pekan lalu, setelah menyaring para pelancong yang kembali dari Dalian. Wabah itu juga terjadi ketika turnamen sepak bola Liga Super Tiongkok memulai musim yang tertunda.


Kasus di Australia

Australia, kemarin, mencatat jumlah kasus tertinggi sejak pandemi dimulai. Otoritas melaporkan 549 infeksi baru dan jumlah tersebut melewati kasus harian tertinggi pada Maret yang mencapai 459 kasus.

Kasus infeksi dan kematian hampir seluruhnya didorong wabah di Negara Bagian Victoria. Pihak berwenang mengakui gelombang kedua di Melbourne memang lebih parah. Butuh waktu lebih lama untuk menekan lonjakan kasus tersebut dari target yang diharapkan, tetapi pejabat tinggi kesehatan negara bagian itu menyuarakan optimisme bahwa pembatasan sebagian dari 5 juta orang bisa efektif.

Australia telah menghindari dampak terburuk dari pandemi gelombang pertama. Hingga kini otoritas mencatat sekitar 15 ribu kasus secara total atau lebih sedikit ketimbang negara lain.

Namun, wabah gelombang kedua masih terbukti mematikan. Dengan korban jiwa yang meningkat, patut diterapkan kebijakan yang efektif untuk menekan dampak terburuk. “Wabahnya benar-benar fluktuatif. Dalam pengaturan signifikan,” ungkap pejabat dinas kesehatan, Brett Sutton. (AFP/X-11)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya