Senin 27 Juli 2020, 09:54 WIB

Jerman Tolak Usulan Trump Terima Kembali Rusia di G7

Basuki Eka Purnama | Internasional
Jerman Tolak Usulan Trump Terima Kembali Rusia di G7

AFP/EVARISTO SA
Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas.

 

JERMAN menolak usul Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengundang Presiden Rusia Vladimir Putin kembali ke kelompok tujuh negara dengan ekonomi paling maju (G7). Hal itu ditegaskan Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas.

Maas mengungkapkan penolakan itu dalam wawancara dengan surat kabar Rheinische Post, Senin (27/7).

Trump, Juni lalu, mengangkat prospek untuk kembali memperluas keanggotaan G7 dengan memasukkan Rusia, yang dikeluarkan dari kelompok itu pada 2014 terkait pencaplokan wilayah Krimea di Ukraina oleh Moskow.

Baca juga: Bendera AS Diturunkan di Konsulat di Chengdu

Maas mengatakan kepada Rheinishce Post bahwa ia tidak melihat ada peluang membiarkan Rusia masuk kembali menjadi anggota G7 karena tidak ada kemajuan berarti dalam penyelesaian konflik di Krimea serta di Ukraina timur.

Rusia sendiri mungkin bisa menjadi penyumbang terbesar dengan menjadi bagian dari G7 lagi dengan berkontribusi pada penyelesaian damai dalam
konflik Ukraina, kata Maas.

Rusia masih menjadi anggota G20, kelompok lebih luas yang mencakup negara-negara dengan ekonomi menuju maju.

"G7 dan G20 adalah dua format yang dikoordinasikan secara bijaksana. Kita tidak lagi perlu G11 atau G12," kata Maas.

Ia merujuk pernyataannya itu pada usul Trump untuk tidak hanya mengundang Rusia, tetapi juga negara-negara lain, ke pertemuan G7.

Maas menggambarkan hubungan dengan Rusia sebagai ikatan 'yang saat ini sulit' pada banyak bidang.

"Tapi kita juga tahu bahwa kita butuh Rusia untuk menyelesaikan konflik-konflik, seperti di Suriah, Libia, dan Ukraina. Upaya itu tidak akan berhasil dengan menolak Rusia, hanya bisa dengan memasukkan Rusia," kata Maas.

Jerman, yang mulai 1 Juli mengambil alih jabatan sebagai ketua Uni Eropa, posisi yang digilir setiap enam bulan, telah mengambil peranan sebagai penengah konflik Libia, juga Ukraina.

"Tapi, Rusia juga harus memberikan kontribusinya, yang sangat lambat di Ukraina," pungkas Maas. (Ant/OL-1)

Baca Juga

AFP

Panglima AL Jerman Mundur Atas Pernyataan Kontroversial Krisis Ukraina

👤Nur Aivanni 🕔Minggu 23 Januari 2022, 07:20 WIB
KEPALA Angkatan Laut Jerman Kay-Achim Schoenbach telah mengundurkan diri menyusul pernyataan kontroversial mengenai krisis di...
AFP/Sam Yeh

Kasus Covid-19 di Taiwan Malonjak 70 Karyawan di Taoyuan Positif

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 23 Januari 2022, 07:05 WIB
TAIWAN mengalami lonjakan kasus COVID-19 pada Sabtu (22/1) setelah 70 karyawan pabrik elektronik di zona perdagangan bebas Kota Taoyuan,...
Biro Pers Setpres

Jokowi Sayangkan Kekerasan di Myanmar Terus Berlanjut

👤Dhika Kusuma Winata 🕔Minggu 23 Januari 2022, 00:11 WIB
Jokowi menegaskan otoritas militer Myanmar harus memberikan akses terhadap Utusan Khusus Ketua...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya