Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

FBI Ikut Memburu Peretas Akun Twitter Milik Sejumlah Tokoh

Faustinus Nua
17/7/2020 16:50
FBI Ikut Memburu Peretas Akun Twitter Milik Sejumlah Tokoh
Akun twitter sejumlah tokoh terkelan dihack dan tengah diselidiki FBI bagaimana mereka meretasnya.(AFP)

KANTOR FBI San Francisco menyampaikan bahwa pihaknya tengah menyelidiki peretasan akun Twitter milik sejumlah tokoh terkenal. Penyelidikan itu selain untuk memburu peretas, juga untuk mengetahui cara peretas mengakses sistem internal milik Twitter yang mempunyai keamanan tingkat tinggi.

"Pada saat ini, akun tampaknya telah digunakan untuk penipuan cryptocurrency. Kami menyarankan masyarakat untuk tidak menjadi korban penipuan ini dengan mengirimkan cryptocurrency atau uang sehubungan dengan kejadian ini. Karena penyelidikan ini sedang berlangsung, kami tidak akan membuat komentar lebih lanjut saat ini," kata FBI dalam sebuah pernyataan yang dilansir Aljazeera.

Peretasan yang terjadi pada Rabu (15/7) itu menyasar sejumlah tokoh seperti kandidat presiden AS Joe Biden, bintang reality TV Kim Kardashian, mantan Presiden AS Barack Obama hingga miliarder Elon Musk dan lainnya. Untuk sementara, modus peretasan itu masih terkait penipuan untuk meminta mata uang digital seperti bitcoin.

Sementara, dalam pernyataan terpisah pada Jumat (17/7), Twitter menyampaikan sekitar 130 akun menjadi sasaran peretas. Untuk sebagian kecil dari profil, para peretas dapat memperoleh kendali dan kemudian mengirim Tweet dari akun-akun itu.

Twitter terus menilai apakah peretas dapat mengakses data pribadi dari akun yang ditargetkan. Mengingat hal itu sangat membahayakan dan membuatkan penggunanya khawatir.

Senator AS Ed Markey khawatir terkait serangan seperti itu di masa depan. Menurutnya hal itu harus diwaspadai agar tidak terulang dengan motif yang lebih kejam lagi.

"Sementara skema ini tampaknya bermotivasi finansial. Bayangkan jika aktor-aktor jahat ini memiliki niat berbeda untuk menggunakan suara-suara yang kuat untuk menyebarkan disinformasi yang berpotensi mengganggu pemilihan kita, mengganggu pasar saham, atau mengganggu hubungan internasional kita," kata senator Demokrat itu.

Kekhawatiran juga datang dari tokoh dan politisi AS lainnya. Mereka mendorong perusahaan media sosial itu untuk menghentikan ulah peretas. Sistema keamanan juga perlu ditinkatkan untuk menghindari terjadi kejadian yang sama, secara khusus menjelang Pilpres AS November nanti. (Aljazeera/OL-13)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Muhamad Fauzi
Berita Lainnya