Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
BULAN secara perlahan mengecil menyebabkan permukaan satelit Bumi itu mengeriput dan terjadi beberapa kali gempa. Hal itu terungkap dari hasil analisa gambar yang diambil Lunar Reconaissance Orbiter Bulan (LRO) milik NASA yang dirilis Senin (13/5).
Survei terhadap lebih dari 12 ribu gambar menunjukkan lembah Bulan Mare Frogoris yang berada di dekat Kutub Utara Bulan, salah satu basin terluar yang dianggap sebagai kawasan mati dari sudut pandang geologis, telah mengalami peretakan dan pergeseran.
Berbeda dengan Bumi, Bulan tidak memiliki plat tektonik. Di Bulan, aktivitas tektonik mereka terjadi saat satelit itu secara perlahan kehilangan panas dari saat mereka terbentuk, 4,5 miliar tahun yang lalu.
Hal itu menyebabkan permukaan Bulan mengeriput, sama seperti anggur yang mengeriput menjadi kismis.
Baca juga: Jepang Uji Coba Kereta Peluru Tercepat di Dunia
Karena permukaan Bulan rapuh, pergerakan itu menyebabkan permukaan Bulan pecah saat bagian dalam mereka menyusut, menghasilkan apa yang disebut thrust fault dengan satu permukaan permukaan terdorong naik lebih tinggi dibanding permukaan di sebelahnya.
Sebagai hasilnya, Bulan kini mengurus sekitar 50 meter selama ratusan juta tahun terakhir.
Astronaut Apolo mulai mengukur aktivitas seismik Bulan pada 1960-an dan 1970-an. Mereka menemukan mayoritas aktivitas seismik itu terjadi di dalam Bulan dengan sejumlah kecil terjadi di permukaan.
Analisa NASA itu diterbikan di Nature Geoscience dan mengukur gempa Bulan dangkal yang terekam misi Apollo, menetapkan hubungan antara gempa-gempa itu dan bentuk permukaan Bulan.
"Tampaknya, fault ini masih aktif hingga hari ini," ujar Nicholas Schmerr, asisten profesor geologi dari University of Maryland.
"Anda tidak biasa melihat aktivitas tektonik selain di Bumi. Jadi, sangat menyenangkan melihat fault-fault itu masih menyebabkan gempa di Bulan," imbuhnya. (AFP/OL-2)
Program Artemis tidak hanya bertujuan untuk mendaratkan manusia, tetapi juga membangun fondasi kehadiran jangka panjang di Bulan.
Fenomena astronomi langka akan kembali terjadi: Gerhana Matahari Total diprediksi melintasi sejumlah wilayah Eropa hingga kawasan Arktik pada 12 Agustus 2026.
NASA berupaya menghubungi kembali pengorbit Mars MAVEN yang mendadak diam sejak Desember lalu. Peluang pemulihan menipis setelah kegagalan deteksi terbaru.
BADAN Antariksa Amerika Serikat, NASA, memasuki tahap akhir persiapan misi Artemis II, yang menandai dimulainya kembalinya manusia ke sekitar Bulan setelah lebih dari setengah abad
NASA menyebut durasi totalitas gerhana matahari pada 2 Agustus 2027 diperkirakan mencapai sekitar 6 menit 23 detik.
Proyek ini merupakan tindak lanjut dari rekomendasi sains nasional di Amerika Serikat untuk memahami apakah kita sendirian di alam semesta.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved