Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
POLUSI udara berpotensi memperpendek harapan hidup anak-anak generasi sekarang. Berdasarkan penelitian yang dirilis Rabu (3/4) ini, dampak terbesar menyasar wilayah Asia Selatan.
Laporan State of Global Air yang diterbitkan Health Effects Intitute berbasis di Amerika Serikat menyatakan, polusi udara menjadi salah satu faktor utama kematian dini di seluruh dunia. Faktor lainnya ialah malaria, kecelakaan di jalan, kekurangan gizi, dan konsumsi alkohol.
Penurunan harapan hidup lebih besar terjadi pada anak-anak di Asia Selatan, yang berpotensi kehilangan masa hidup 30 bulan. Hal itu disebabkan kombinasi polusi udara luar dan udara kotor dalam ruangan. Masih dari studi yang sama, anak-anak di wilayah Asia Timur berpotensi kehilangan harapan hidup sekitar 23 bulan.
Sementara itu, anak-anak yang tinggal di negara-negara maju Asia Pasifik dan Amerika Utara, menghadapi ancaman kehilangan harapan hidup sekitar 20 minggu.
Laporan yang menggunakan data hingga akhir 2017, meyatakan apabila tingkat polusi udara masuk dalam pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), harapan hidup di Bangladesh berpotensi mengalami kenaikan 1,3 tahun. Begitu juga dengan India, Nigeria dan Pakistan yang mengalami kenaikan harapan hidup rata-rata sekitar 1 tahun.
Meskipun sejumlah negara menggencarkan reformasi untuk mengurangi tingkat polusi, Tiongkok tetap menjadi negara dengan tingkat kematian tertinggi akibat polusi udara. Sekitar 852 ribu kasus kematian disebabkan pencemaran udara pada 2017 lalu.
Baca juga: Uni Eropa Kecam Regulasi Baru Brunei Darussalam
Adapun lima negara teratas dengan tingkat kematian tertinggi akibat polusi udara, yaitu Tiongkok, India, Pakistan, Indonesia dan Bangladesh.
Secara keseluruhan, laporan tersebut menggarisbawahi 147 juta tahun harapan hidup sehat hilang sepanjang 2017, disebabkan dampak polusi udara. Polusi udara rumah tangga mayoritas bersumber dari pembakaran batubara, kayu atau arang untuk memasak maupun menghangatkan rumah. Tindakan itu terbilang lumrah di wilayah Asia Selatan, Asia Timur, dan Afrika Sub-Sahara.
Hampir setengah populasi dunia terpapar polusi udara rumah tangga, termasuk 846 juta orang di India dan 452 juta di Tiongkok. Sebuah studi teranyar dari WHO pada Oktober 2018, menemukan fakta paparan udara beracun dari dalam maupun luar ruangan, menyebabkan 600 ribu kasus kematian anak-anak setiap tahun.
Anak-anak berusia di bawah 15 tahun lebih rentan terdampak polusi udara. Pasalnya, mereka bernapas lebih cepat daripada orang dewasa. Dengan begitu daya serap terhadap polutan lebih tinggi, khususnya pada bagian otak dan tubuh yang masih berkembang.
Data Badan Kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan 93% anak-anak di bawah usia 15 tahun menghirup udara berbahaya setiap hari. (AFP/OL-1)
MEDIAINDONESIA.COM, 8 Februari 2026, menurunkan berita berjudul ‘Lebih Awal, Arab Saudi Mulai Terbitkan Visa Haji 2026 Hari Ini’.
PENINGKATAN keamanan pangan membutuhkan kebijakan yang tepat demi mewujudkan kesehatan dan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang lebih baik di masa depan.
Jika langkah-langkah pencegahan dan deteksi dini tidak diperkuat sejak dini, jumlah kasus kanker diprediksi akan meningkat hingga 70% pada 2050.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti penghapusan 11 juta peserta PBI BPJS dan meminta penonaktifan tidak mendadak serta disertai sosialisasi.
INDONESIA turut ambil bagian dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN Muslim Youth Summit (ASEAMYS) 2026 yang digelar di Brisbane Technology Park, Australia, pada 6-7 Februari 2026.
Makan pada saat sahur adalah kunci energi selama puasa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved