Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Paparan Banner dan Konten Visual Rentan Tingkatkan Risiko Bunuh Diri

M Iqbal Al Machmudi
05/4/2026 20:10
Paparan Banner dan Konten Visual Rentan Tingkatkan Risiko Bunuh Diri
Ilustrasi(Dok Istimewa)

BALIHO besar promosi film Aku Harus Mati mulai ditertibkan. Baliho tersebut dinilai dapat mengganggu kesehatan jiwa seseorang.

Psikiater Lahargo Kembaren menjelaskan bunuh diri termasuk penyebab kematian utama terutama pada kelompok usia muda. Angka ini menunjukkan bahwa suicidal behavior bukan fenomena langka.

"Di sekitar kita, banyak orang yang kelihatannya baik-baik saja tapi sesungguhnya sedang berjuang diam-diam sunyi untuk tetap bertahan hidup. Mereka tampak tenang, tetapi di dalam pikirannya sedang terjadi peperangan yang berat," kata Lahargo, Minggu (5/4).

Ia menjelaskan dalam psikologi suicidologi, dikenal istilah suicide contagion atau copycat suicide, yaitu perilaku bunuh diri yang dipicu oleh paparan informasi, gambar, cerita, atau pemberitaan tentang kematian.

Fenomena tersebut dikenal sebagai werther effect. Artinya, saat seseorang yang rentan secara psikologis terus-menerus terpapar pesan seperti aku harus mati, gambar kematian, visual menyeramkan, atau dramatisasi hopelessness.

"Maka pesan tersebut dapat memperkuat skema kognitif negatif yang sudah ada di dalam pikirannya," ujar Lahargo.

Ia mencontohkan ketika seseorang sudah terpapar konten visual, maka ia dapat berpikir bahwa kematian merupakan jalan keluarnya tanpa pilihan lain.

Paparan kata atau gambar dapat mengaktifkan pikiran yang sejenis. Judul film pada sebuah baliho seperti Aku Harus Mati dapat memicu activation of death-related thoughts. Pada orang sehat, mungkin efeknya kecil. Namun pada individu dengan depresi berat, ide bunuh diri, atau gangguan kecemasan, ini bisa menjadi trigger atau yang disebut priming effect.

Pada depresi, seseorang sering memiliki automatic thoughts seperti merasa tidak berharga, hidup telah usai, atau sebagainya. Sebuah banner dengan kalimat tersebut bisa memperkuat keyakinan maladaptif ini.

"Remaja dan individu yang sedang berada dalam distress emosional cenderung lebih sugestibel. Paparan visual dramatis meningkatkan risiko imitasi perilaku.  Ini terutama berbahaya pada usia muda yang mudah sekali terpicu dengan hal yang visual," pungkasnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik