Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
PENINGKATAN jumlah individu dalam spektrum autisme secara global menjadi tantangan bagi Indonesia. Terutama di tengah masih terbatasnya pemahaman masyarakat, tingginya stigma, serta akses informasi berbasis sains yang belum merata.
Hal tersebut disampaikan dalam Festival Peduli Autisme 2026 yang digelar di Pesona Square, Sabtu (4/4). Dalam acara itu, Konsultan Neurologi Anak dari Klinik Utama Anak Pintar Indonesia, Arifianto memaparkan sejumlah fakta medis terkait autisme, mulai dari diagnosis hingga penanganan.
Berdasarkan survei Peduli ASD, banyak kasus autisme di Indonesia terlambat didiagnosis. Bahkan, sebagian keluarga membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menerima kondisi anak.
Menurut Arifianto, diagnosis dini menjadi kunci penting dalam penanganan autisme. Ia menegaskan bahwa orang tua memiliki peran awal dalam mengenali tanda-tanda perkembangan anak, sebelum kemudian diagnosis ditegakkan oleh tenaga medis.
“Orang tua berperan menentukan apakah anak perlu dibawa ke dokter. Saat ini, hal tersebut terbantu dengan adanya Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) yang dapat digunakan untuk memantau perkembangan anak,” ujarnya.
Ia menjelaskan, buku KIA memuat parameter yang dapat mendeteksi dini adanya gangguan atau keterlambatan perkembangan. Keterlambatan diagnosis, kata dia, akan berdampak pada lambatnya intervensi yang diperlukan.
“Jika diagnosis terlambat, intervensi juga terlambat, sehingga penanganan anak menjadi lebih sulit,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Arifianto juga meluruskan informasi yang beredar terkait vaksin. Ia menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan vaksin menyebabkan autisme atau penyakit berat lainnya.
“Tidak ada bukti vaksin menimbulkan penyakit berat. Efek yang muncul biasanya memiliki penyebab lain, seperti kondisi medis pendamping,” jelasnya.
Selain diagnosis, Arifianto juga menjelaskan perbedaan antara tantrum dan meltdown pada anak dengan autisme. Tantrum terjadi karena keinginan yang tidak terpenuhi, sedangkan meltdown disebabkan oleh overstimulasi akibat gangguan pemrosesan sensorik.
Penanganan keduanya berbeda. Tantrum membutuhkan pendekatan pengasuhan agar tidak menjadi pola perilaku, sementara meltdown memerlukan penanganan khusus dengan menenangkan anak di lingkungan yang minim stimulasi.
“Anak yang mengalami meltdown perlu dibawa ke ruang yang tenang. Pendekatannya harus personal dan tidak boleh diabaikan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya fasilitas publik menyediakan ruang sensori khusus bagi anak dengan autisme. Ruang tersebut harus memenuhi standar tertentu, seperti desain warna, ukuran ruangan, dan sistem peredam suara.
Festival ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat serta mendorong lingkungan yang lebih inklusif bagi penyandang autisme di Indonesia. (Z-10)
Dokter spesialis anak peringatkan risiko konten AI dan game online. Pemerintah resmi batasi akses digital anak melalui PP Tunas mulai 28 Maret 2026.
Imunisasi adalah salah satu cara terbaik untuk melindungi kesehatan anak dari penyakit yang bisa berisiko mengancam jiwa. Namun, apakah ada hubungan antara imunisasi dan kecerdasan anak?
BANYAK anak suka bermain gim online, padahal gim daring kerap disebut berdampak pada tumbuh kembang anak. Lalu bagaimana sikap orangtua?
Figur ibu sering menjadi sorotan utama dalam pengasuhan anak. Namun, peran ayah yang tidak optimal—atau bahkan absen—justru bisa menimbulkan dampak serius pada perkembangan anak.
PARA ayah diharapkan berkesempatan untuk mengantar anaknya di hari pertama sekolah. Hal itu disebut penting untuk membantu meningkatkan perkembangan emosi, sosial, dan kognitif anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved