Headline
Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.
Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.
Kumpulan Berita DPR RI
Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) menegaskan bahwa campak bukanlah penyakit baru. Meski sudah lama dikenal di dunia medis, penyakit ini masih sering disalahartikan masyarakat, termasuk tertukar dengan rubella karena sama-sama menimbulkan ruam pada kulit.
Dokter spesialis penyakit dalam dari PAPDI, Adityo Susilo, mengatakan campak berbeda sepenuhnya dari Covid-19 maupun rubella. Menurut dia, campak telah lama menjadi penyakit infeksi yang terus dipantau secara global, sehingga tidak bisa disamakan dengan penyakit baru seperti Covid-19 yang disebabkan virus SARS-CoV-2.
“Campak ini bukan penyakit baru. Sudah ada sejak lama dan terus dipantau di seluruh dunia,” ujar Adityo dilansir dari Antara, Selasa (31/3).
Adityo menjelaskan, campak disebabkan oleh virus dari kelompok Morbillivirus atau rubeola. Virus ini berbeda dengan rubella, yang kerap disebut sebagai campak Jerman. Kesamaan berupa ruam kulit, kata dia, menjadi alasan utama mengapa dua penyakit ini masih sering tertukar di masyarakat.
Padahal, campak memiliki ciri khas yang tidak ditemukan pada rubella, yakni bercak koplik, bercak putih kebiruan di bagian dalam pipi. Selain itu, campak juga identik dengan tiga gejala utama yang dikenal sebagai “tiga C”, yaitu batuk (cough), pilek (coryza), dan mata merah (conjunctivitis).
“Rubella itu berbeda. Campak yang kita maksud adalah rubeola. Keduanya sama-sama ada ruam, tapi penyebab dan karakteristiknya tidak sama,” kata dia.
Ia menambahkan, perbedaan campak dan rubella tidak hanya terlihat dari gejalanya, tetapi juga dari dampaknya. Rubella cenderung lebih ringan, namun berbahaya bagi ibu hamil karena dapat memicu gangguan pada janin. Sementara itu, campak tidak bersifat teratogenik, tetapi tetap dapat memicu komplikasi serius, terutama pada orang dengan imunitas rendah.
PAPDI mengingatkan, pemahaman yang keliru soal campak dan rubella dapat berdampak pada keterlambatan deteksi maupun penanganan. Karena itu, masyarakat diminta lebih cermat mengenali gejala dan karakteristik masing-masing penyakit agar respons medis bisa dilakukan secara tepat.
“Kalau kita bisa membedakan dengan benar, maka deteksi dan penanganannya juga bisa lebih tepat,” ujar Adityo. (Ant/Z-10)
Rumah Eropa modern adalah pilihan yang baik bagi mereka yang ingin merasakan kemewahan klasik dengan kenyamanan modern dalam satu konsep.
Cacar monyet, merupakan penyakit yang masih menjadi perhatian di Indonesia, terutama setelah merebaknya wabah global pada tahun 2022
Industri drama Korea terus memikat jutaan penonton global dengan kualitas cerita yang memukau, akting luar biasa, dan produksi berkualitas tinggi.
Martha Tilaar Spa Express Pangkalan Bun melengkapi eksistensi dan memperluas jangkauan layanan Martha Tilaar Spa di seluruh kota Kalimantan sebagai destinasi spa khas Indonesia.
MENPAREKRAF Sandiaga Salahuddin Uno menghidupkan kembali UMKM New Makassar Mall, Sulsel dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Penyakit ini disebabkan virus yang menular melalui percikan air liur saat batuk atau bersin, kontak langsung dengan penderita, atau benda yang terkontaminasi virus.
ORANTUA diharapkan agar tetap mewaspadai ruam pada anak karena itu merupakan salah satu gejala dari campak/rubella
Campak, atau dikenal juga sebagai rubeola, adalah infeksi virus yang sangat menular, terutama pada anak-anak.
Sekitar 80% kebutaan di Indonesia disebabkan oleh katarak. Operasi menjadi satu-satunya cara untuk memulihkan penglihatan pasien.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes dr Maxi Rein Rondonuwu mengatakan bahwa 65% penyandang disabilitas di dunia disebabkan oleh faktor gangguan pendengaran.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved