Headline

Serangan terhadap pasukan perdamaian melanggar hukum internasional.

Campak bukan Rubella, Ini Perbedaan Pentingnya!

 Gana Buana
31/3/2026 16:41
Campak bukan Rubella, Ini Perbedaan Pentingnya!
Campak bukan penyakit baru dan berbeda dari rubella maupun covid-19.(Freepik)

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) menegaskan bahwa campak bukanlah penyakit baru. Meski sudah lama dikenal di dunia medis, penyakit ini masih sering disalahartikan masyarakat, termasuk tertukar dengan rubella karena sama-sama menimbulkan ruam pada kulit.

Dokter spesialis penyakit dalam dari PAPDI, Adityo Susilo, mengatakan campak berbeda sepenuhnya dari Covid-19 maupun rubella. Menurut dia, campak telah lama menjadi penyakit infeksi yang terus dipantau secara global, sehingga tidak bisa disamakan dengan penyakit baru seperti Covid-19 yang disebabkan virus SARS-CoV-2.

“Campak ini bukan penyakit baru. Sudah ada sejak lama dan terus dipantau di seluruh dunia,” ujar Adityo dilansir dari Antara, Selasa (31/3).

Adityo menjelaskan, campak disebabkan oleh virus dari kelompok Morbillivirus atau rubeola. Virus ini berbeda dengan rubella, yang kerap disebut sebagai campak Jerman. Kesamaan berupa ruam kulit, kata dia, menjadi alasan utama mengapa dua penyakit ini masih sering tertukar di masyarakat.

Padahal, campak memiliki ciri khas yang tidak ditemukan pada rubella, yakni bercak koplik, bercak putih kebiruan di bagian dalam pipi. Selain itu, campak juga identik dengan tiga gejala utama yang dikenal sebagai “tiga C”, yaitu batuk (cough), pilek (coryza), dan mata merah (conjunctivitis).

“Rubella itu berbeda. Campak yang kita maksud adalah rubeola. Keduanya sama-sama ada ruam, tapi penyebab dan karakteristiknya tidak sama,” kata dia.

Ia menambahkan, perbedaan campak dan rubella tidak hanya terlihat dari gejalanya, tetapi juga dari dampaknya. Rubella cenderung lebih ringan, namun berbahaya bagi ibu hamil karena dapat memicu gangguan pada janin. Sementara itu, campak tidak bersifat teratogenik, tetapi tetap dapat memicu komplikasi serius, terutama pada orang dengan imunitas rendah.

PAPDI mengingatkan, pemahaman yang keliru soal campak dan rubella dapat berdampak pada keterlambatan deteksi maupun penanganan. Karena itu, masyarakat diminta lebih cermat mengenali gejala dan karakteristik masing-masing penyakit agar respons medis bisa dilakukan secara tepat.

“Kalau kita bisa membedakan dengan benar, maka deteksi dan penanganannya juga bisa lebih tepat,” ujar Adityo. (Ant/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya