Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Bukan Sekadar Isu Kesehatan, Ledakan Populasi Lansia Jadi Tantangan Makroekonomi Baru

Rahmatul Fajri
27/3/2026 19:40
Bukan Sekadar Isu Kesehatan, Ledakan Populasi Lansia Jadi Tantangan Makroekonomi Baru
Ilustrasi(Freepik.com)

INDONESIA tengah menghadapi ancaman "Silent Crisis" atau krisis tersembunyi seiring dengan transisi demografi yang cepat. Populasi lanjut usia (lansia) di tanah air diproyeksikan melonjak drastis dari 33,7 juta jiwa pada 2023 menjadi 52,7 juta jiwa pada tahun 2050, sebuah fenomena yang berpotensi melumpuhkan sistem kesehatan dan stabilitas ekonomi nasional.

Lonjakan ini membawa beban penyakit tidak menular (NCDs) yang berat. Data Riskesdas menunjukkan prevalensi hipertensi telah mencapai 34,1%, ditambah dengan tantangan diabetes tipe 2 dan estimasi 1,2 juta kasus demensia.

Fildzah Cindra Yunita dari Indonesia-NIHR Global Health Research Centre for NCDs and Environmental Change menyoroti bahwa satu dari empat lansia di Indonesia kini hidup dengan penyakit kronis.

"Ini bukan sekadar isu kesehatan, tetapi tekanan sistemik terhadap keluarga dan sistem kesehatan. Banyak kasus terlambat terdeteksi karena sistem kita masih cenderung reaktif. Kita butuh deteksi dini berbasis komunitas dan pemanfaatan teknologi digital untuk pemantauan berkelanjutan," ujar Fildzah melalui keterangannya, Jumat (27/3/2026).

Krisis ini bukan hanya soal medis, melainkan ancaman makroekonomi. Riset Boston Consulting Group (BCG) mengungkapkan bahwa krisis pengasuh di Asia-Pasifik dapat membahayakan PDB hingga USD 250 miliar pada tahun 2035.

Di Indonesia, fenomena employee-caregivers atau karyawan yang merangkap sebagai pengasuh orang tua di rumah menjadi tantangan unik. Tanpa dukungan sistematis, Indonesia berisiko menghadapi eksodus tenaga kerja produktif yang terpaksa meninggalkan dunia kerja demi merawat keluarga, yang pada akhirnya mengganggu produktivitas nasional.

Menjawab tantangan tersebut, platform kesehatan digital Aurelif hadir sebagai pionir ekosistem perawatan jangka panjang (long-term care) terintegrasi. Platform yang dinobatkan sebagai “Innovation of 2025” oleh FKUI ini mengembangkan solusi berbasis AI dan data untuk menghubungkan keluarga, fasilitas kesehatan, hingga pemerintah.

Direktur Aurelif Najla Claryssa menekankan bahwa tantangan penuaan populasi adalah masalah skala infrastruktur. Saat ini, rasio kemampuan merawat keluarga kian menurun akibat tekanan ekonomi.

"Kita perlu memperkuat sistem agar mampu mengimbangi laju populasi lansia. Aurelif menyederhanakan beban operasional pengasuh melalui fitur asesmen otomatis, manajemen tugas harian, hingga sistem deteksi darurat cerdas," jelas Najla.

Ia menambahkan bahwa teknologi hadir untuk mengembalikan fokus keluarga pada aspek paling mendasar, yakni empati dan kualitas hidup orang tua, tanpa terjebak dalam kebingungan administratif medis.

Menjelang peluncuran besar (grand launching) bersama Kementerian Kesehatan RI, Aurelif membuka akses awal bagi pihak-pihak yang membutuhkan melalui kanal komunikasi resmi mereka. Investasi pada teknologi perawatan kini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk menjaga ketahanan ekonomi dan taraf kesehatan masyarakat Indonesia di masa depan. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya