Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH laporan kasus medis yang tidak biasa menimpa seorang pemuda berusia 20 tahun di Tiongkok. Pria tersebut mengalami reaksi kekebalan tubuh yang sangat agresif setelah membuat tato berbentuk salib merah di lehernya, tepat di bawah jakun.
Tiga bulan setelah prosedur tato, tinta merah tersebut perlahan menghilang. Namun, kondisi itu diikuti dengan munculnya benjolan keras di kedua sisi leher yang terus membesar. Di tempat tinta tato sebelumnya berada, muncul luka cekung dan borok berisi jaringan mati yang merembeskan campuran serum dan darah, kondisi yang secara medis dikenal sebagai ulkus "nekrotik".
Lima bulan pasca-tato, pasien akhirnya mencari bantuan medis. Awalnya, dokter meresepkan antibiotik dan kortikosteroid topikal, namun tidak ada perbaikan. Pemeriksaan fisik lebih lanjut mengungkap adanya pembengkakan kelenjar getah bening yang keras di bawah rahang.
Hasil pemindaian MRI dan CT scan menunjukkan temuan yang mengkhawatirkan, massa di leher berukuran hingga 4,9 x 3,5 cm dan adanya penggumpalan darah pada dua vena jugularis (pembuluh darah utama di leher). Karena kondisi pasien memburuk dengan cepat, tim medis segera memutuskan untuk melakukan tindakan bedah.
Dokter mengangkat ulkus serta massa tersebut, mengikat vena yang tersumbat untuk mencegah komplikasi aliran darah, dan melakukan rekonstruksi leher menggunakan jaringan yang diambil dari paha pasien.
Berdasarkan tes imunohistokimia, dokter mendiagnosis pasien menderita necrotizing granulomatous lymphadenitis. Istilah ini merujuk pada kondisi di mana sel-sel imun membentuk "dinding" di sekitar material asing atau infeksi, yang dalam kasus ini dipicu oleh prosedur tato.
"Temuan ini secara kolektif mendukung diagnosis limfadenitis granulomatosa nekrotikan," tulis para dokter dalam laporan tersebut.
Meskipun tinta merah sudah hilang dan tidak bisa diperiksa langsung, dokter mencatat bahwa logam berat seperti merkuri dan kadmium, serta pewarna organik merah dalam pigmen tato, sering kali memicu respons imun yang tertunda.
Kasus ini menjadi sangat unik karena merupakan kasus kedua yang pernah dilaporkan di dunia mengenai nekrosis (kematian jaringan) setelah pembuatan tato. Selain sangat agresif, luka nekrotik pada pasien ini menyebar sangat dalam ke lapisan kulit.
Dokter menduga ada tiga kemungkinan penyebab keparahan ini:
"Laporan ini memperluas spektrum patologi yang terkait dengan tato," pungkas tim dokter. Beruntung, setelah menjalani operasi dan terapi hormon jangka pendek, pasien dilaporkan pulih sepenuhnya. (Live Science/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved