Headline

Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.

6 Tanda Bahaya Kehamilan dan Pentingnya Deteksi Dini Menurut Pakar

M Iqbal Al Machmudi
25/3/2026 21:21
6 Tanda Bahaya Kehamilan dan Pentingnya Deteksi Dini Menurut Pakar
Tanda Bahaya Kehamilan.(Freepik)

KEGAWATDARURATAN pada ibu hamil tetap menjadi tantangan besar dalam dunia kesehatan yang dapat mengancam keselamatan ibu maupun janin. Kondisi akut seperti perdarahan, kejang, hingga infeksi berat sering kali muncul secara tiba-tiba tanpa gejala awal yang mencolok. Memahami tanda bahaya sejak dini menjadi kunci utama dalam menekan angka kematian ibu (AKI).

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKG) IPB University, Ganot Sumulyo, menjelaskan bahwa kegawatdaruratan maternal adalah kondisi kritis yang memerlukan penanganan medis dalam hitungan menit.

"Kegawatdaruratan pada ibu hamil adalah kondisi mendadak yang mengancam nyawa, misalnya perdarahan, tekanan darah tinggi (preeklamsia), hingga persalinan macet," ujar dr. Ganot dalam keterangannya, Rabu (25/3/2026).

Daftar Tanda Bahaya Kehamilan yang Wajib Diwaspadai

Berdasarkan data World Health Organization (WHO), sebagian besar kasus fatalitas sebenarnya dapat dicegah melalui deteksi dini. Berikut adalah beberapa gejala Red Flag yang mengharuskan ibu hamil segera dibawa ke fasilitas kesehatan:

  • Perdarahan: Gejala nomor satu yang paling krusial. Terjadi di usia kehamilan berapa pun, perdarahan adalah indikasi darurat.
  • Sakit Kepala & Pandangan Kabur: Gejala klasik preeklamsia atau keracunan kehamilan yang dipicu tekanan darah tinggi.
  • Nyeri Perut Hebat: Rasa sakit yang sangat kuat di area perut yang bukan berasal dari kontraksi palsu.
  • Penurunan Gerakan Janin: Indikator kesehatan bayi; jika janin tidak bergerak dalam beberapa jam, segera periksa.
  • Demam dan Sesak Napas: Menandakan adanya infeksi berat atau gangguan fungsi organ.

Pentingnya Antenatal Care (ANC) dan Pemantauan Masa Nifas

Untuk meminimalisir risiko, dr. Ganot menekankan pentingnya pemeriksaan kehamilan rutin atau Antenatal Care (ANC). Sesuai anjuran Kementerian Kesehatan (Kemenkes), ibu hamil wajib melakukan minimal enam kali pemeriksaan selama masa kehamilan.

Pemeriksaan ini tidak hanya mendeteksi posisi janin, tetapi juga memantau tekanan darah dan kondisi metabolik ibu guna mencegah komplikasi seperti eklamsia. Namun, kewaspadaan tidak boleh kendur setelah bayi lahir.

Risiko Masa Nifas hingga 42 Hari

Banyak masyarakat beranggapan risiko hilang setelah persalinan usai. Faktanya, masa nifas hingga 42 hari setelah melahirkan tetap merupakan periode berisiko tinggi. Komplikasi pascapersalinan seperti perdarahan postpartum dan infeksi nifas masih sering terjadi.

“Kenali tanda bahaya sejak dini dan jangan menunda untuk mencari pertolongan medis. Dukungan keluarga juga sangat penting agar ibu hamil dapat menjalani fase ini dengan aman,” pungkas dr. Ganot.

Trimester Fokus Pemeriksaan Utama
Trimester 1 Skrining awal, deteksi kehamilan ektopik, USG pertama.
Trimester 2 Pemantauan pertumbuhan janin dan tekanan darah ibu.
Trimester 3 Kesiapan persalinan dan deteksi posisi janin (sungsang/normal).

Disclaimer: Informasi ini bersifat edukasi. Jika Anda mengalami salah satu gejala di atas, segera hubungi dokter atau layanan gawat darurat terdekat. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya