Headline
Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.
Kumpulan Berita DPR RI
BANYAK keluarga di Indonesia masih menjadikan Susu Kental Manis (SKM) sebagai minuman susu harian, terutama saat sarapan. Padahal, produk tersebut sebenarnya tidak dirancang untuk dikonsumsi sebagai pengganti susu karena kandungan gulanya jauh lebih tinggi dibandingkan susu segar maupun susu Ultra High Temperature (UHT).
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Karina Rahmadia Ekawidyani, mengatakan bahwa SKM merupakan produk olahan susu yang dibuat dengan mengurangi kadar air dan menambahkan gula dalam jumlah besar, yakni sekitar 40%-50%. Karena itu, mengonsumsi SKM setiap hari bisa menimbulkan risiko kesehatan.
"Karena komposisi susunya sudah jauh lebih rendah, kandungan protein dan lemaknya juga tidak sesuai jika dikonsumsi sebagai susu harian, maka kalau dijadikan susu minum utama, ada risiko kesehatan," kata Karina dalam keterangannya, Rabu (25/3).
Menurut Karina, dibandingkan susu segar dan susu UHT, kandungan gizi SKM relatif lebih rendah. Meski tetap mengandung lemak dan protein, jumlahnya belum mencukupi kebutuhan gizi harian, sehingga anggapan bahwa produk ini setara dengan susu minum tidak tepat.
Ia menjelaskan bahwa hampir setengah kandungan SKM adalah gula. Dalam satu takaran saji sekitar 30 gram atau setara tiga sendok makan, terdapat kurang lebih 15 gram gula. Sementara itu, batas konsumsi gula harian yang dianjurkan dalam pedoman gizi seimbang adalah 50 gram.
“Artinya, jika seseorang mengonsumsi sekitar sembilan sendok makan SKM dalam sehari, jumlah tersebut sudah mencapai batas konsumsi gula harian,” jelasnya.
Oleh karena itu, masyarakat diharapkan untuk selalu memperhatikan takaran saji pada kemasan dan menggunakan sendok takar agar konsumsi gula tetap terkontrol.
Ia menegaskan bahwa fungsi utama SKM adalah sebagai pemanis atau pelengkap rasa pada makanan dan minuman, bukan sebagai pengganti susu konsumsi sehari-hari, apalagi bagi anak-anak.
Saat bulan puasa, minuman manis memang sering dipilih saat berbuka. Namun, Karina mengingatkan agar penggunaan SKM tetap dibatasi.
“Kalau sudah menggunakan SKM yang tinggi gula, sebaiknya tidak menambahkan gula pasir atau sirup lagi agar asupan gula tetap seimbang," pungkasnya. (Z-10)
Setelah tidur malam, kadar glukosa dalam tubuh menurun. Padahal, otak membutuhkan glukosa sebagai sumber energi utama untuk berpikir dan berkonsentrasi.
Sarapan sering dianggap sebagai fondasi penting untuk memulai hari. Namun, dibalik kepraktisannya, ada sejumlah menu sarapan yang populer namun berisiko bagi kesehatan ginjal.
Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan ini berkaitan dengan gangguan metabolisme, penurunan fungsi otak. Serta dapat meningkatnya risiko penyakit jantung.
Shakira Aminah mengatakan kesehatan dan gizi adalah kunci agar anak dapat berprestasi.
Sarapan adalah waktu makan yang sangat penting, terutama bagi mereka yang ingin menjaga kestabilan kadar gula darah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved