Headline
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.
Kumpulan Berita DPR RI
PERNAHKAH Anda merasa tenang saat mendengar kicau burung atau terpesona oleh ritme suara jangkrik di malam hari? Sebuah studi terbaru mengungkapkan ketertarikan tersebut bukanlah kebetulan budaya semata, melainkan berakar pada biologi yang kita bagikan dengan dunia hewan.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science ini menemukan manusia cenderung menyukai jenis suara yang sama dengan suara yang dipilih hewan saat mencari pasangan. Temuan ini mendefinisikan ulang konsep "keindahan" suara sebagai sesuatu yang lebih mendalam daripada sekadar pengaruh tradisi manusia.
Logan James dari McGill University melakukan riset menggunakan gim daring yang berisi 110 pasang rekaman suara hewan. Sebanyak 4.196 responden diminta memilih suara mana yang menurut mereka lebih menarik. Hasilnya, para pendengar berulang kali memilih panggilan yang memang sudah diketahui disukai oleh hewan dari spesies tersebut.
Pola ini tidak hanya ditemukan pada satu kelompok hewan, tetapi membentang luas mulai dari serangga dan katak hingga burung dan mamalia. Kesamaan pilihan ini pun terjadi dengan sangat cepat, yang memperlemah kemungkinan bahwa responden hanya menebak-nebak secara acak.
Dalam biologi, fenomena ini disebut sebagai "bias sensorik". Ini adalah kecenderungan persepsi bawaan yang mengarahkan perhatian pada fitur suara tertentu. Jika spesies yang berbeda memiliki struktur saraf pendengaran yang serupa, maka nada tertentu, seperti nada yang lebih dalam atau trinitas bunyi yang kaya, dapat menyenangkan telinga yang berbeda pula.
Data menunjukkan tren yang jelas: manusia sangat tertarik pada panggilan bernada rendah serta suara yang memiliki "hiasan" akustik ekstra, seperti klik atau getaran cepat (trill). Fitur-fitur tambahan ini berfungsi menarik perhatian dan memisahkan sinyal suara dari kebisingan latar belakang.
Temuan ini memberikan dasar ilmiah bagi pernyataan provokatif naturalis Charles Darwin dalam bukunya pada 1871.
“Mereka memiliki selera terhadap keindahan yang hampir sama dengan yang kita miliki,” tulis Darwin mengenai hewan lebih dari seabad yang lalu.
Melalui angka-angka statistik, James dan koleganya membuktikan klaim lama tersebut bukan sekadar intuisi. Menariknya, latar belakang pendidikan musik formal tidak banyak memengaruhi pilihan responden. Hal ini menunjukkan daya tarik suara ini lebih bersifat naluriah daripada hasil pelatihan.
Meskipun ada tumpang tindih yang nyata, para peneliti memperingatkan agar tidak menganggap kecantikan suara bekerja dengan cara yang persis sama di mana-mana. Manusia dan hewan mungkin menyukai suara yang sama, namun mereka tidak mendengarnya untuk alasan yang sama atau mengharapkan hasil yang serupa.
Ke depannya, para peneliti berencana memodifikasi rekaman suara tersebut secara langsung, menambah atau menghapus elemen tertentu, untuk melihat apakah daya tariknya berubah. Jika fitur yang sama terus menang, maka teori tentang biologi bersama dalam estetika suara akan semakin kuat.
Pada akhirnya, pola ini tidak menghapus keunikan budaya manusia. Namun membuat konsep keindahan terdengar jauh lebih tua dan lebih luas dibagikan di antara penghuni planet ini. (Earth/Z-2)
Ilmuwan mengungkap rahasia kecerdasan kelompok pada semut, burung, dan ikan. Simak bagaimana aturan sederhana menciptakan perilaku terorganisir di alam.
Peneliti Nagoya University mengungkap bagaimana tikus hutan membuat keputusan sulit saat mencari makan. Pilih kualitas atau kecepatan demi nyawa?
Dengan meniru dan mengintegrasikan mekanisme sensor alami hewan, alat seismik masa depan dapat menjadi lebih sensitif dan akurat dalam memberikan peringatan dini gempa.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved