Headline

Tradisi halal bi halal untuk menyempurnakan ibadah puasa Ramadan.

Fenomena "Career Co-Piloting": Mengapa Gen Z Ajak Orangtua Saat Wawancara Kerja?

Thalatie K Yani
23/3/2026 12:00
Fenomena
Ilustrasi(freepik)

MENCARI pekerjaan di pasar tenaga kerja yang kompetitif memang berat, dan wajar jika seseorang mencari dukungan moral dari orangtua. Namun, studi terbaru menunjukkan Generasi Z (Gen Z) melangkah jauh lebih jauh dari sekadar meminta doa restu.

Sebuah riset dari layanan penyedia resume Zety pada Januari 2026 mengungkapkan tren yang disebut "career co-piloting". Berdasarkan survei terhadap 1.001 pekerja Gen Z (usia 18-27 tahun), ditemukan  15% responden pernah membawa orangtua mereka saat wawancara tatap muka, sementara 20% lainnya membiarkan orangtua menghubungi perekrut atas nama mereka.

Intervensi yang Berisiko Jadi "Red Flag"

Meski niatnya membantu, para psikolog memperingatkan keterlibatan orangtua yang berlebihan justru bisa menjadi bumerang. Dr. Sanam Hafeez, seorang neuropsikolog asal New York, menyebut hal ini sebagai sinyal bahaya bagi pemberi kerja.

"Beberapa perusahaan sebenarnya akan menolak kandidat jika orangtua menghubungi mereka secara langsung, itu adalah red flag yang menandakan orang tersebut belum siap untuk memperjuangkan diri mereka sendiri," ujar Dr. Hafeez.

Lebih dari sekadar prospek kerja, intervensi ini dapat mengikis kepercayaan diri sang anak. "Ketika orang tua terlalu terlibat, hal itu dapat merusak kepercayaan diri kaum muda, bahkan ketika niatnya baik," tambahnya.

Meningkatnya Kecemasan di Kedua Belah Pihak

Dr. Ashok Yerramsetti, seorang psikiater dari Mindpath Health, mencatat tren ini berkaitan erat dengan tingginya tingkat gangguan kecemasan pada Gen Z dan stres pengasuhan (parental burnout) yang juga meningkat.

"Mencari pekerjaan, terutama pekerjaan pertama, adalah tugas bertekanan tinggi. Dengan kecemasan yang tinggi di kedua belah pihak, tidak mengherankan jika orangtua melampaui batas, atau anak dewasa mereka membiarkannya," jelas Dr. Yerramsetti.

Cara Membantu Tanpa Merusak Karier Anak

Para ahli sepakat bahwa dukungan orang tua tetap dibutuhkan, namun harus memiliki batasan yang jelas. Berikut adalah beberapa strategi efektif bagi orang tua:

  • Berbagi Pengalaman, Bukan Mengambil Alih: Dr. Gina Radice-Vella menyarankan orangtua berbagi pengetahuan tentang dunia kerja agar anak bisa menerapkannya sendiri. Dr. Hafeez setuju memberi nasihat negosiasi adalah hal positif, asalkan anak yang melakukannya di ruang wawancara.
  • Dukungan di Balik Layar: Lakukan simulasi wawancara (mock interview) atau membantu menyunting format resume. "Tujuannya adalah membantu mereka menemukan jawaban sendiri, bukan menyuapi mereka dengan jawaban Anda," tegas Dr. Hafeez.
  • Pendengar yang Baik: Terkadang, anak hanya butuh tempat untuk berkeluh kesah tanpa harus diceramahi atau langsung diberikan solusi atas setiap kegagalan.

Intinya, perusahaan mempekerjakan sang anak, bukan orangtuanya. Keberhasilan karier jangka panjang bermula dari kepercayaan anak telah dibesarkan menjadi pribadi yang mampu menghadapi tantangan dunia profesional secara mandiri. (Parents/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya