Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
KEBIASAAN menyemprotkan parfum di area leher kerap dilakukan agar aroma bertahan lebih lama. Namun, praktik ini belakangan menimbulkan kekhawatiran karena dinilai berpotensi memengaruhi kelenjar tiroid dan dikaitkan dengan risiko gangguan hormon.
Pakar Multiomics Cancer IPB University, Agil Wahyu Wicaksono, menjelaskan bahwa secara ilmiah terdapat indikasi hubungan antara penggunaan parfum dan gangguan kelenjar tiroid, meskipun kaitannya dengan kanker tiroid belum terbukti secara langsung.
“Berdasarkan sebuah studi tinjauan sistematis, kebiasaan menyemprotkan parfum, termasuk di area leher, berkaitan dengan risiko gangguan kelenjar tiroid. Adapun hubungan dengan kanker tiroid masih bersifat hipotesis dan belum terbukti secara langsung,” kata Agil dalam keterangannya dikutip pada Rabu (18/3).
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University itu memaparkan, parfum atau cologne umumnya mengandung bahan kimia seperti phthalates, parabens, dan triclosan. Bahan-bahan tersebut berpotensi mengganggu sistem hormonal atau sebagai endocrine disruptors.
“Beberapa penelitian menunjukkan bahwa triclosan dapat memengaruhi fungsi hormon tiroid, sementara sejumlah paraben juga berdampak pada keseimbangan sistem endokrin tubuh,” terangnya.
Agil menambahkan, bahan-bahan tersebut dapat diserap melalui kulit. Tingkat penyerapan dipengaruhi oleh area pemakaian, frekuensi, serta durasi penggunaan.
“Area leher secara anatomis berada dekat dengan kelenjar tiroid dan memiliki kulit yang relatif tipis, sehingga paparan phthalates, paraben, dan triclosan yang berulang di lokasi ini secara teoritis dapat meningkatkan peluang efek zat tersebut secara lokal maupun sistemik,” jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa dampak tersebut tidak terjadi secara instan dan umumnya berlangsung perlahan. Tidak semua pengguna parfum juga akan mengalami gangguan kesehatan.
“Tidak berarti setiap orang yang memakai parfum akan sakit. Namun, pemakaian berlebihan dan terus-menerus selama bertahun-tahun dapat meningkatkan risiko gangguan hormon, terutama pada ibu hamil, anak-anak dan remaja, serta orang dengan gangguan hormon sebelumnya,” ujar Agil.
Untuk meminimalkan risiko kesehatan jangka panjang, ia menyarankan masyarakat tetap bijak dalam menggunakan parfum. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Langkah-langkah sederhana ini diharapkan dapat mengurangi paparan zat kimia berbahaya ke organ-organ sensitif di dalam tubuh tanpa harus meninggalkan gaya hidup sehari-hari. (Z-10)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved