Headline

Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.

Metode Wayang GenB Kemas Pengetahuan Transisi Energi Jadi Narasi Kreatif

Indrastuti
17/3/2026 20:42
Metode Wayang GenB Kemas Pengetahuan Transisi Energi Jadi Narasi Kreatif
Ilustrasi(Dok Istimewa)

KELOMPOK marginal dan anak-anak yang tinggal di kawasan dengan tingkat polusi tinggi sering kali menjadi pihak paling terdampak krisis iklim. Sayangnya, mereka memiliki akses terbatas pada pengetahuan mitigasi dan adaptasi krisis iklim, termasuk transisi energi berkeadilan.

Menjawab tantangan tersebut, Generasi Energi Bersih (GenB) Indonesia bersama Youth for Energy Southeast Asia (Y4E-SEA) menggelar kegiatan Amplify (Awareness Movement on Planet, Low-carbon Living, Impact, Future and Youth) yang diikuti 40 anak di Taman Baca Amalia, Tangerang Selatan.

Amplify ialah inisiatif pemberdayaan dan advokasi iklim yang dipimpin kaum muda untuk memperkuat kesadaran lingkungan dan literasi energi terbarukan pada anak-anak yang tinggal di kawasan kumuh, lingkungan rentan, dan komunitas berpenghasilan rendah di seluruh Asia Tenggara. National Chairperson GenB Indonesia Ilham Maulana menjelaskan program itu lahir dari pemahaman generasi muda di komunitas marginal paling terpapar degradasi lingkungan, limbah, dan risiko iklim.

"Melalui metode Wayang GenB, materi transisi energi yang kompleks dikemas menjadi narasi kreatif dan pertunjukan seni yang mudah dicerna anak-anak," ucapnya, Selasa (17/3/2026).

Selain pertunjukan wayang, ke-40 partisipan terlibat langsung dalam sesi interaktif merakit dinamo sederhana untuk memahami prinsip dasar energi listrik, menyusun puzzle lingkungan, hingga mengubah sampah plastik kemasan jadi ecopot yang bermanfaat guna menggali kreativitas sejak dini.

Menurut Ilham, inklusivitas menjadi hal yang penting dalam pendidikan iklim. "Pendidikan iklim dan transisi energi harus bisa diakses siapa pun, baik melalui jalur formal maupun melalui pendekatan komunitas seperti ini. Ini investasi jangka panjang untuk membuat bumi lebih lestari dan memastikan tidak ada satu pun anak tertinggal dalam mendapatkan hak edukasi iklim," tegas Ilham.

Kehadiran program ini disambut hangat oleh komunitas setempat. Bu Yati, pengelola Taman Baca Amalia, menyampaikan apresiasi mendalam atas inisiatif yang membawa metode belajar baru bagi anak-anak didiknya.

"Kami amat berterima kasih dengan kegiatan ini karena memberi manfaat nyata bagi anak-anak di sini. Selain edukasi yang seru, bantuan donasi berupa buku-buku literasi energi dan iklim sangat berharga bagi kami. Ini menambah khazanah koleksi buku di taman baca ini dan jadi sumber ilmu baru bagi anak-anak untuk lebih mencintai bumi," ujar Bu Yati.

Didukung Institute for Essential Services Reform (IESR) dan Yayasan Indonesia Bebas Emisi, Amplify dirancang sebagai model yang dapat direplikasi dan disesuaikan dengan konteks lokal di berbagai negara Asia Tenggara. Clean Energy Hub Coordinator IESR Irwan Sarifudin mendukung penuh gerakan tersebut.

"Kami sangat mendukung upaya membumikan isu transisi energi ke level akar rumput. Membekali anak-anak di kawasan rentan dengan pengetahuan energi bersih adalah kunci memastikan transisi energi yang adil dan berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat," ungkap Irwan.

Kegiatan ini ditutup dengan sesi emosional yakni anak-anak menuliskan Janji untuk Bumi sebagai komitmen pribadi mereka untuk masa depan lebih hijau, diikuti pemberian donasi literasi dan buka puasa bersama. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya