Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Universitas PGRI Sumatera Barat Beri Pelatihan Pengenalan Produk Olahan Dasar Pangan Laut

Syarief Oebaidillah
09/3/2026 21:08
Universitas PGRI Sumatera Barat Beri Pelatihan Pengenalan Produk Olahan Dasar Pangan Laut
Ilustrasi(Dok Istimewa)

KEMENDIKTISAINTEK melalui program Mahasiswa Berdampak mengerahkan 10.000 mahasiswa untuk bergotong royong turun langsung berkontribusi dalam upaya pemulihan dampak bencana di Sumatera, melakukan aktivitas pemberdayaan masyarakat di lokasi terdampak bencana Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Terkait hal tersebut, Universitas PGRI Sumatera Barat  terpilih menjadi salah satu Perguruan tinggi pelaksana dengan empat proposal dari 203 proposal yang didanai  Kemendiktisaintek tersebut. 

Menurut Mareta Kemala Sari selaku Ketua Tim dari program Pendampingan Peningkatan Ketahanan Ekonomi Masyarakat Pengolah Produk Pangan Hasil Kelautan, guna penguatan kapasitas dan kemandirian pasca bencana, kegiatan ini merupakan kegiatan kolaborasi antar Organisasi kemahasiswaan.

Sebagai anggota tim, terdiri dari HIMA Kewirausahaan bekerjasama dengan HIMA Pendidikan Ekonomi, HIMA Pendidikan Akuntansi, HIMA Pendidikan Informatika dan Komunitas Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia Fakultas Ekonomi dan Bisnis. 

Dalam keterangannya, Mareta Kemala Sari yang juga Dosen Kewirausahaan Universitas PGRI Sumatera Barat  mengutarakan target kegiatan ini mendampingi kelompok perempuan dari nelayan pengolah dan kalangan ibu PKK Kelurahan Pasie Nan Tigo,Kota  Padang, Sumatera Barat guna  memiliki produk olahan pangan yang lebih berdaya saing.

"Langkah yang dilakukan oleh mahasiswa kami  adalah melakukan pemetaan wilayah untuk mengetahui potensi wilayah tersebut. Dari hasil pemetaan ditemukan wilayah ini kaya akan hasil laut berupa cumi, udang, ikan tuna, teri, baledang dari nelayan tangkap, sementara di nelayan olah, ragam potensi ini diolah menjadi produk palai bada, " ungkap Mareta. 

Hal tersebut merupakan produk kearifan lokal berbahan dasar teri dengan berbagai rempah rempah potensi wilayah. Diluar Sumatera Barat, palai bada dikenal dengan istilah pepes ikan.

Adapun cara pengolahan palai bada ini mengaduk ikan teri basah dengan rempah seperti parutan kelapa dan bumbu-bumbu lainnya seperti bawang merah, kemiri, cabai merah, bawang putih, daun kunyit, kunyit, dan garam. Setelah bahan-bahan tersedia, semua bahan tersebut dicampur lalu dibungkus dengan daun pisang, kemudian dibakar di atas bara api.

Palai bada merupakan kuliner basah yang hanya bertahan dua  hari sehingga mahasiswa memberikan edukasi untuk menggunakan vacum sealer khusus makanan, dan freezer agar produk ini bisa bertahan lebih lama.
" Dukungan alat dan teknologi ini diberikan melalui pendanaan program mahasiswa berdampak Kemendiktisaintek," ungkap Mareta.

Pihaknya juga melibatkan pakar pengolah pangan hasil kelautan dari Dinas perikanan dan kelautan."Bersama ibu Camellia dari Dinas Perikanan dan Kelautan  kami memperkenalkan inovasi palai bada kering, yang memiliki umur simpan lebih panjang untuk target perluasan pasar,"imbuh Mareta. 

Mareta menukas untuk palai bada kering siap untuk dikirim keluar Sumatera Barat dengan packaging aluminium foil. Namun tanpa melakukan perubahan bentuk palai bada basah didukung dengan pengemasan vacum sealer dan penyimpanan berupa freezer. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya