Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
DI tengah dinamika geopolitik global tahun 2026 yang semakin rumit, tantangan dalam menjaga perdamaian antarbangsa kini melampaui sekadar diplomasi politik di meja perundingan. Polarisasi ideologi, sengketa wilayah, dan kesenjangan akses teknologi antarnegara sering kali memicu sentimen eksklusivitas yang merambat hingga ke akar rumput melalui ruang digital tanpa batas.
Sebagai bagian dari komunitas global, Indonesia dihadapkan pada kenyataan bahwa perdamaian yang berkelanjutan hanya dapat terwujud jika setiap individu memiliki fondasi empati dan penghormatan terhadap perbedaan bangsa, budaya, maupun keyakinan. Menanggapi kondisi di masyarakat, Redea Institute, yang menaungi jaringan Sekolah HighScope Indonesia, berkomitmen menanamkan serta menerapkan nilai-nilai toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan kepada seluruh siswa sejak dini.
Toleransi sering kali dianggap hal yang sepele, padahal ketidakhadirannya dapat berdampak negatif. Banyak permasalahan di era ini berakar dari kurangnya rasa saling menghargai, baik terhadap sesama maupun perbedaan yang ada. Kurangnya pemahaman akan keberagaman dapat memicu konflik, perpecahan, serta menurunnya sikap toleran dalam kehidupan bermasyarakat.
"Jadi, anak-anak pergi ke sekolah bukan hanya untuk mendapatkan nilai, tetapi juga untuk mempraktikkan nilai-nilai kehidupan, seperti saling menghormati dan bertanggung jawab serta membangun keterampilan hidup seperti kolaborasi dan penyelesaian masalah," ujar Antarina SF Amir, Founder dan CEO Redea Institute, dalam keterangan resmi, Senin (9/3).
Berpijak pada keyakinan bahwa pendidikan terbaik yaitu mensimulasikan kehidupan nyata (real-life), Redea Institute menyelenggarakan kegiatan lintas agama yang bertajuk PTR (Peace, Tolerance, Respect) di Sekolah HighScope Indonesia. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin tahunan sekolah yang bertujuan membangun sikap menghormati sesama manusia dan makhluk hidup untuk menciptakan kehidupan yang damai dan berkelanjutan.
Tahun ini, PTR mengusung tema Membangun Sikap Menghormati Sesama Manusia dan Makhluk Hidup untuk Menciptakan Kehidupan yang Damai dan Berkelanjutan. Tema ini dipilih untuk menginspirasi siswa agar menerapkan sikap saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari serta berkontribusi dalam menciptakan perdamaian yang berkelanjutan. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan membawa dampak positif bagi seluruh umat beragama dalam masyarakat.
Program PTR merupakan manifestasi nyata upaya mempromosikan kehidupan madani melalui internalisasi sikap toleransi serta apresiasi terhadap kontribusi luhur setiap agama bagi kemanusiaan. Sejak 2004, PTR diselenggarakan secara konsisten setiap Ramadan dengan merangkul keberagaman dan melibatkan seluruh siswa, baik Muslim maupun pemeluk Kristen Protestan, Katolik, Hindu, dan Budha. (I-2)
Mendagri Tito Karnavian menghadiri perayaan Imlek dan Cap Go Meh 2026 di Singkawang. Ia mengapresiasi semangat toleransi dan kebersamaan masyarakat lintas etnis dan agama.
Menag Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya kebhinnekaan sebagai fondasi utama dalam menjaga keutuhan bangsa saat menghadiri Penganugerahan Harmony Award 2025
Kegiatan yang digelar Indonesia Conference Religion and Peace (ICRP) bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah tersebut bertujuan untuk menumbuhkan rasa toleransi
DIREKTUR Imparsial Ardi Manto Adiputra mengkritik aksi intoleransi berupa perusakan terhadap rumah doa umat kristen di Kelurahan Padang Sarai, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang,
Bhinneka Tunggal Ika: Cara Jitu Merawat Persatuan! Bhinneka Tunggal Ika: Pelajari cara menerapkan semboyan persatuan Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Klik untuk tips & contoh nyata!
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved