Headline
Membicarakan seputar Ramadan sampai dinamika geopolitik.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA berabad-abad, manusia percaya bahwa kita memiliki monopoli atas intuisi geometri. Kemampuan mengenali struktur dalam sebuah bentuk, seperti sudut siku-siku, simetri, dan garis sejajar, lama dianggap sebagai tolok ukur kognisi manusia. Namun, sebuah studi terbaru menunjukkan "indera matematika" ini ternyata bukan milik kita sendirian.
Penelitian yang dipimpin para ahli dari University of Tübingen mengungkapkan burung gagak (Carrion crows) mampu mendeteksi keteraturan geometris dalam berbagai bentuk. Temuan ini tidak hanya memamerkan kecerdasan burung, tetapi juga mempertanyakan apakah pemahaman mendalam kita tentang ruang dan bentuk sebenarnya berakar pada evolusi yang dibagikan dengan spesies lain.
Dalam dunia hewan, banyak spesies bisa bernavigasi atau memperkirakan jumlah, namun mereka biasanya "buta" terhadap aturan halus yang mendefinisikan sebuah bentuk. Bahkan babun, kerabat dekat evolusi kita, gagal mengenali pentalateral secara konsisten dalam penelitian sebelumnya.
Hal inilah yang membuat pencapaian burung gagak menjadi sangat istimewa. "Klaim bahwa hal ini spesifik bagi kita manusia, bahwa hanya manusia yang dapat mendeteksi keteraturan geometris, kini telah terpatahkan. Karena setidaknya kita memiliki gagak," ujar Andreas Nieder, peneliti utama studi ini.
Dalam eksperimennya, Nieder melibatkan dua ekor gagak jantan yang dilatih menggunakan layar sentuh. Mereka diberi tugas sederhana namun menantang: memilih satu bentuk yang paling berbeda dari enam pilihan yang ada (odd one out).
Awalnya, burung-burung ini diuji dengan pola mudah seperti mencari bulan sabit di antara kumpulan bintang. Setelah berhasil, tantangan ditingkatkan menjadi bentuk segi empat yang rumit. Peneliti mengubah detail halus, seperti menggeser satu sudut untuk merusak simetri atau sudut siku-siku bentuk tersebut.
Hasilnya sangat mengejutkan. Tanpa pelatihan khusus untuk bentuk-bentuk baru tersebut, kedua gagak berhasil memilih jawaban yang benar dengan akurasi jauh di atas faktor kebetulan. Crow 1 berhasil dalam 50% uji coba, sementara Crow 2 mencapai 60%, angka yang sangat tinggi mengingat peluang menebak secara acak hanya 16,7%.
Analisis statistik mengonfirmasi kemampuan burung-burung ini tidak bergantung pada keakraban. Meskipun bentuk diputar atau diubah ukurannya, gagak tetap mampu mendeteksi "penyusup" dengan lebih mudah ketika bentuk dasarnya mengikuti aturan geometri yang kuat, seperti garis sejajar atau panjang sisi yang sama.
Menariknya, kesulitan yang dialami gagak sering kali serupa dengan manusia. Misalnya, bentuk belah ketupat yang sering mengecoh manusia dalam studi sebelumnya juga sempat membingungkan para gagak. Ini menunjukkan adanya bias persepsi yang serupa dalam menilai bentuk.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances ini menjadi bukti kuat bahwa geometri bukanlah sekadar penemuan budaya manusia atau materi di ruang kelas. Sebaliknya, hal itu adalah insting biologis yang mendalam, sebuah cara memahami keteraturan dunia yang kita bagi bersama makhluk lain di alam semesta. (earth/Z-2)
Filsuf Yunani Plato menulis tentang Socrates yang menantang seorang murid, dengan masalah “menggandakan persegi” sekitar tahun 385 SM.
Menghitung luas lingkaran adalah salah satu konsep dasar dalam matematika yang sering diterapkan dalam berbagai konteks, dalam perhitungan sehari-hari
Rumus Pythagoras adalah salah satu konsep dasar dalam matematika yang dipelajari oleh hampir semua pelajar di seluruh dunia.
Translasi adalah transformasi geometris yang memindahkan setiap titik pada objek dengan jarak yang sama ke arah yang sama.
Mencari tinggi segitiga adalah salah satu konsep dasar dalam geometri yang sangat penting untuk dikuasai.
Riset kognisi terbaru mengungkap hewan mampu bernalar logis. Simak perbedaan cara berpikir hewan vs manusia dan tantangan mengukur kecerdasan mereka.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved