Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA berabad-abad, kemampuan untuk berpikir logis dianggap sebagai garis demarkasi yang memisahkan manusia dari makhluk lainnya. Namun, memasuki tahun 2026, berbagai riset kognisi modern mulai meruntuhkan tembok eksklusivitas tersebut. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa banyak hewan tidak hanya bertindak berdasarkan insting, tetapi juga mampu melakukan penalaran logis dasar dalam mengambil keputusan.
Artikel analisis yang merujuk pada laporan The Conversation dan Medical Xpress menjelaskan bahwa manusia dan hewan sering kali mencapai hasil akhir yang sama dalam tugas logika, namun proses mental di baliknya bisa sangat berbeda. Satu perilaku mungkin terlihat identik, tetapi mekanisme saraf yang menggerakkannya memiliki jalur evolusi yang unik.
Salah satu tolok ukur utama dalam riset kognisi adalah kemampuan yang disebut transitive inference. Ini adalah kemampuan untuk menarik kesimpulan tidak langsung. Secara matematis, jika A > B dan B > C, maka secara otomatis A > C.
Mengejutkannya, kemampuan ini tidak hanya ditemukan pada primata besar. Berbagai penelitian menunjukkan spesies berikut mampu melakukan penalaran serupa:
Namun, para ilmuwan memberikan catatan penting. Lolos dalam tes perilaku bukan berarti hewan tersebut memahami logika abstrak. Ada kemungkinan mereka mengandalkan ingatan asosiatif atau pengenalan pola yang sangat tajam daripada penalaran simbolik seperti manusia.
Banyak tes kecerdasan hewan dirancang berdasarkan kemampuan manusia (seperti bahasa). Hal ini sering kali membuat hewan terlihat "kurang cerdas" padahal tes tersebut tidak relevan dengan cara mereka berinteraksi dengan dunia.
Live Science menyoroti bahwa kecerdasan hewan tidak bisa diukur dengan satu standar tunggal. Evolusi membentuk otak sesuai dengan kebutuhan lingkungan. Beberapa spesies unggul dalam memori spasial (mengetahui lokasi ribuan benih yang disimpan), sementara yang lain unggul dalam kerja sama sosial atau penggunaan alat.
Tantangan terbesar dalam riset kognisi adalah membedakan antara respons yang lahir dari logika sadar dengan mekanisme belajar sederhana (trial and error). Hingga saat ini, para peneliti terus mengembangkan metode tes yang lebih "adil" bagi hewan, yang disesuaikan dengan anatomi dan kebutuhan biologis mereka.
Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa kera besar memiliki kemampuan untuk merencanakan tindakan berdasarkan kondisi yang belum terjadi. Mereka mampu membedakan antara realitas dan sesuatu yang bersifat imajiner. Ini adalah ciri kognitif tingkat tinggi yang sebelumnya diklaim hanya milik Homo sapiens.
Temuan ini memperkuat teori bahwa kecerdasan adalah spektrum, bukan sebuah tangga di mana manusia berada di puncak paling atas sendirian. Logika hadir dalam banyak bentuk, tergantung pada kebutuhan untuk bertahan hidup.
Manusia dan hewan memang sama-sama bisa berpikir logis, namun dengan cara yang berbeda secara fundamental. Pintar itu bersifat kontekstual. Memahami bahwa hewan memiliki logika sendiri membantu kita lebih menghargai keanekaragaman hayati dan kompleksitas evolusi otak di bumi.
(Medical Xpress, Live Science/H-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved