Headline
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Kumpulan Berita DPR RI
TANTRUM merupakan hal yang umum terjadi pada anak, terutama di usia balita dan prasekolah. Kondisi ini biasanya muncul saat anak merasa lapar, lelah, frustrasi, atau menginginkan sesuatu. Dalam batas tertentu, tantrum merupakan bagian dari proses perkembangan emosional anak.
Namun, orangtua perlu waspada apabila tantrum terjadi terlalu sering, berlangsung lama, atau disertai perilaku agresif. Mengutip dari laman Hello Sehat, tantrum berlebihan dapat menjadi tanda adanya masalah pada perkembangan atau kesehatan mental anak.
Setiap anak memiliki tingkat emosi yang berbeda. Ada yang jarang tantrum, ada pula yang lebih ekspresif. Meski begitu, frekuensi yang terlalu sering patut menjadi perhatian.
Pada anak prasekolah yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, orangtua bisa mengamati apakah anak mengalami tantrum sekitar 10-20 kali dalam sebulan atau bahkan lebih dari lima kali dalam sehari selama beberapa hari berturut-turut.
Jika pola ini terjadi, ada kemungkinan anak berisiko mengalami gangguan emosional yang lebih serius.
Pada anak dengan perkembangan emosional yang wajar, amukan biasanya mereda setelah beberapa waktu dan episode berikutnya cenderung lebih singkat. Sebaliknya, pada anak dengan masalah mental tertentu, durasi tantrum bisa berlangsung lama dan konsisten, bahkan tanpa tanda-tanda mereda.
Sebagian anak mungkin menendang atau memukul saat tantrum. Namun, bila perilaku agresif seperti memukul, mencubit, menendang, atau melempar barang terjadi berulang kali dan membahayakan orang di sekitarnya, kondisi ini sudah termasuk tidak normal.
Dalam beberapa kasus, keluarga bahkan kesulitan menenangkan anak hingga harus menghindar demi melindungi diri. Tantrum yang disertai kekerasan fisik berulang perlu segera mendapatkan perhatian khusus.
Tanda yang lebih serius adalah ketika anak menyakiti dirinya sendiri saat marah. Misalnya menggigit tangan, mencakar kulit, membenturkan kepala ke dinding, atau menendang benda keras hingga berisiko cedera.
Perilaku ini dapat mengindikasikan adanya gangguan emosional yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut.
Tantrum umumnya terjadi karena anak ingin mendapatkan perhatian atau sesuatu yang diinginkan. Pada usia tertentu, anak memang belum mampu mengendalikan emosinya sendiri sehingga membutuhkan bantuan orangtua untuk menenangkan diri.
Namun, orangtua perlu berhati-hati agar tidak selalu menuruti keinginan anak setiap kali ia mengamuk. Jika tidak, anak bisa menjadikan tantrum sebagai “alat” untuk mencapai keinginannya.
Saat anak sudah tenang, penting untuk memberikan penjelasan bahwa setiap perilaku memiliki konsekuensi. Biasanya, ketika memasuki usia sekolah, anak mulai memahami dampak dari tindakannya terhadap lingkungan sosialnya.
Selain faktor perkembangan, tantrum berlebihan juga bisa berkaitan dengan kondisi kesehatan mental tertentu.
- Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), yang membuat anak impulsif dan sulit mengontrol emosi.
- Autism Spectrum Disorder (ASD), yang menyebabkan kesulitan komunikasi dan regulasi emosi.
- Gangguan kecemasan, yang membuat anak bereaksi berlebihan terhadap situasi yang dianggap menakutkan.
- Oppositional Defiant Disorder (ODD), ditandai dengan perilaku menentang dan mudah marah.
- Gangguan suasana hati, seperti depresi atau bipolar pada anak, yang memicu perubahan emosi ekstrem.
Meski demikian, tidak semua anak yang sering tantrum pasti mengalami gangguan mental. Evaluasi lebih lanjut oleh tenaga profesional diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
Orangtua disarankan berkonsultasi dengan psikolog atau dokter spesialis anak apabila tantrum terjadi hampir setiap hari, berlangsung lama, membahayakan diri sendiri maupun orang lain, serta mengganggu aktivitas sehari-hari anak.
Deteksi dan penanganan sejak dini dapat membantu anak belajar mengelola emosinya dengan lebih sehat. (E-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved