Headline
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Kumpulan Berita DPR RI
PERNAHKAN Anda membayangkan jika telinga manusia berada di lutut? Bagi jangkrik, hal ini bukan sekadar imajinasi, melainkan fakta biologis yang luar biasa.
Serangga dari ordo Orthoptera ini memiliki sistem pendengaran yang jauh berbeda dari mamalia, di mana organ pendengarannya justru terletak di bagian kaki.
Berbeda dengan manusia yang memiliki daun telinga di kepala, organ pendengaran jangkrik terletak di kaki depan, tepatnya di bawah sendi lutut pada bagian yang disebut tibia. Struktur unik ini dikenal sebagai organ timpani.
Menurut riset yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences, organ ini berupa membran tipis yang berfungsi mirip dengan gendang telinga manusia. Membran ini akan bergetar saat menangkap gelombang suara dari lingkungan sekitar.
Info Menarik: Struktur internal pada kaki jangkrik bekerja menyerupai koklea (rumah siput) pada manusia, termasuk memiliki mekanisme penguatan frekuensi tertentu yang sangat presisi.
Proses jangkrik mendengar melibatkan mekanisme yang sangat kompleks namun efisien. Studi morfologi yang dimuat di Journal of Experimental Biology mengungkap bahwa getaran pada membran timpani diteruskan melalui sistem saluran udara internal menuju reseptor saraf khusus.
Sistem ini memungkinkan jangkrik mendeteksi suara dengan frekuensi spesifik, terutama kicauan sesamanya untuk keperluan reproduksi. Data eksperimental menunjukkan bahwa beberapa spesies jangkrik mampu mendeteksi frekuensi antara 2 hingga 8 kilohertz, rentang yang sesuai dengan suara panggilan kawin.
Secara biologis, penempatan telinga di kaki memberikan keuntungan evolusioner yang besar bagi kelangsungan hidup jangkrik di alam liar:
Keunikan ini juga menarik perhatian dunia rekayasa teknologi. Ilmuwan mempelajari mekanisme pendengaran jangkrik untuk mengembangkan sensor akustik mini berpresisi tinggi. Struktur yang kompak namun sangat sensitif pada kaki jangkrik dinilai berpotensi diaplikasikan dalam teknologi mikrofon skala kecil hingga sistem navigasi robot masa depan.
Temuan ini menegaskan bahwa evolusi sering menghadirkan solusi tak terduga. Pada jangkrik, kemampuan mendengar tidak terletak di kepala, melainkan di lutut, sebuah adaptasi cerdas yang memastikan mereka tetap eksis selama jutaan tahun. (Z-10)
Sumber: Proceedings of the National Academy of Sciences, Journal of Experimental Biology, University of Cambridge Department of Zoology.
Selama sepuluh tahun terakhir, koki dan ilmuwan nutrisi mencari sumber protein yang ramah lingkungan. Salah satu kandidatnya adalah jangkrik, yang kini diolah menjadi tepung serbaguna.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved