Headline

Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.

Terapi Cahaya dan Suara, Harapan Baru Melawan Alzheimer Tanpa Obat-obatan

Thalatie K Yani
18/2/2026 11:31
Terapi Cahaya dan Suara, Harapan Baru Melawan Alzheimer Tanpa Obat-obatan
Peneliti kembangkan kacamata khusus dengan frekuensi 40 Hz untuk memperlambat pikun pada pasien Alzheimer. (Annabelle Singer/Georgia Tech)

DUNIA medis sedang menanti sebuah terobosan besar dalam penanganan Alzheimer. Bukan dalam bentuk pil atau suntikan, melainkan melalui stimulasi sensorik berupa cahaya berkedip dan suara klik yang cepat. Inovasi ini dikembangkan oleh Annabelle Singer, profesor bio-medis di Georgia Institute of Technology dan Emory University.

Di laboratoriumnya di Atlanta, Singer berusaha memecahkan kode memori pasien Alzheimer. Ia menggunakan perangkat yang menyerupai kacamata ski dan headphone untuk mengirimkan stimulasi cahaya dan suara pada frekuensi 40 Hz, sekitar lima kali lebih cepat dari lampu strobo biasa.

Mengapa Bukan Obat-obatan?

Pendekatan Singer tergolong radikal di tengah industri farmasi yang menggelontorkan miliaran dolar untuk terapi obat. Menurutnya, obat-obatan Alzheimer saat ini sering kali memiliki efek samping serius dengan tingkat kemanjuran yang belum optimal.

"Mayoritas penelitian Alzheimer fokus pada skala molekuler, bagaimana protein menumpuk. Kami bertanya, bagaimana perilaku listrik neuron untuk menghasilkan memori dan bagaimana pola itu berubah pada pasien Alzheimer?" ujar Singer.

Uji klinis awal menunjukkan hasil menjanjikan. Stimulasi selama satu jam setiap hari berpotensi memperlambat penurunan kognitif dan penyusutan volume otak di area vital memori. "Kami tidak tahu apakah kami bisa mengembalikan ingatan yang sudah hilang. Sebaliknya, yang kami tuju adalah memperlambat penurunan yang terus berlanjut," tambahnya.

Dari Panggung Teater ke Laboratorium Saraf

Uniknya, inspirasi Singer berasal dari kecintaannya pada tata cahaya teater saat remaja. Ia menyadari bahwa cahaya dan suara dapat menciptakan pengalaman yang terkendali, sebuah prinsip yang kini ia terapkan untuk memengaruhi aktivitas saraf di hippocampus, pusat memori otak.

James Lah, Direktur Program Neurologi Kognitif di Emory University, yang berkolaborasi dalam studi awal, menyebut teknologi ini sangat menarik. "Kami melihat perubahan pola konektivitas listrik yang sangat menarik pada pasien setelah terpapar kedipan ini," ungkap Lah.

Menanti Hasil Uji Klinis Fase 3

Saat ini, uji klinis Fase 3 yang melibatkan hampir 700 pasien di 70 lokasi di Amerika Serikat tengah berlangsung di bawah koordinasi Cognito Therapeutics. Hasilnya diharapkan keluar akhir tahun ini.

Urgensi penemuan ini sangat nyata. Saat ini, lebih dari 7 juta warga Amerika berusia 65 tahun ke atas mengidap Alzheimer, angka yang diperkirakan melonjak menjadi 13,8 juta pada 2060. Secara global, WHO mencatat sekitar 57 juta orang menderita demensia.

Jika berhasil, alat ini akan menjadi alternatif yang jauh lebih murah dan aman dibandingkan obat-obatan terbaru seperti lecanemab atau donanemab yang dibanderol sekitar Rp470 juta per tahun dan berisiko menyebabkan pendarahan otak.

"Jika kita memiliki intervensi yang sangat aman dan berisiko rendah, saya pikir itu akan mengubah segalanya," pungkas Singer. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya