Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Satu dari 100 Bayi Berisiko Penyakit Jantung Bawaan, Skrining Dini Harus Dilakukan

Atalya Puspa    
16/2/2026 20:02
Satu dari 100 Bayi Berisiko Penyakit Jantung Bawaan, Skrining Dini Harus Dilakukan
Acara diskusi kesehatan memeringati Pekan Kesadaran Penyakit Jantung Bawaan di Jakarta, Kamis (12/2/2026).(Antara)

KETUA Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), dr. Ade Median Ambari, SpJP(K), PhD, FIHA, mengingatkan bahwa penyakit jantung bawaan (PJB) masih menjadi salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak, baik di tingkat global maupun di Indonesia.

Berdasarkan data di kawasan Asia Tenggara, prevalensi PJB mencapai 9–10 kasus per 1.000 kelahiran hidup. Artinya, satu dari setiap 100 bayi yang lahir berisiko mengalami kelainan struktur atau fungsi jantung sejak lahir. Di Indonesia sendiri, diperkirakan terdapat sedikitnya 45 ribu bayi lahir dengan PJB setiap tahunnya. Namun, penelitian Murni dkk. (2021) menunjukkan bahwa keterlambatan deteksi PJB di Indonesia masih mencapai 60,8%.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya deteksi dini masih menjadi tantangan besar dalam penanganan PJB pada anak. Padahal, semakin cepat PJB terdeteksi, semakin besar peluang anak untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan meningkatkan kualitas hidupnya di masa depan,” ujar Ade, Senin (16/2). 

Sebagai upaya menekan angka kesakitan dan kematian anak akibat PJB, PERKI melalui Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan menginisiasi program skrining nasional PJB gratis yang dilaksanakan secara serentak pada 24 Januari hingga 14 Februari 2026 di 22 kota dan tujuh kabupaten di 24 provinsi.

Ketua Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan PERKI, dr. Oktavia Lilyasari, M.Kes, SpJP(K), FIHA, mengatakan bahwa hingga saat ini Indonesia belum memiliki data nasional terkait prevalensi PJB. Oleh karena itu, skrining massal tidak hanya bertujuan menjaring kasus secara dini, tetapi juga menjadi langkah awal dalam pengumpulan data registri nasional PJB.

Program ini dilaksanakan bekerja sama dengan cabang PERKI, departemen kardiologi dan kedokteran vaskular di berbagai rumah sakit, pemerintah daerah, dinas kesehatan, Yayasan Jantung Indonesia, serta dukungan industri teknologi ultrasonografi.

Selama periode skrining, sebanyak 2.702 murid telah menjalani pemeriksaan awal, dengan 2.478 murid di antaranya mendapatkan pemeriksaan lanjutan berupa ekokardiografi. Pemeriksaan meliputi pengukuran antropometri, tanda vital seperti tekanan darah, denyut nadi, dan saturasi oksigen, pemeriksaan fisik jantung, hingga pemeriksaan ultrasonografi jantung.

Dari hasil skrining tersebut, ditemukan sebanyak 53 kasus PJB dengan prevalensi mencapai 2,14 persen, angka yang tercatat lebih tinggi jika dibandingkan dengan prevalensi global maupun di kawasan Asia Tenggara.

Oktavia menambahkan bahwa terdapat kecenderungan kasus PJB lebih banyak ditemukan pada anak-anak dengan faktor risiko tertentu, seperti berat badan rendah, stunting, kebutuhan khusus, maupun kondisi kesehatan lain yang memerlukan perhatian lebih.

“Anak-anak yang teridentifikasi memiliki PJB kemudian diberikan edukasi kepada orang tua agar segera ditindaklanjuti melalui rujukan ke fasilitas kesehatan terdekat. Selain itu, kegiatan ini juga disertai edukasi kepada guru dan orang tua untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala PJB serta mendorong pemeriksaan sejak dini,” jelasnya.

Melalui skrining dini yang dilakukan secara luas dan terintegrasi, diharapkan semakin banyak anak dengan PJB dapat terdeteksi lebih cepat, sehingga peluang untuk mendapatkan penanganan yang optimal dan menjalani kehidupan yang sehat di masa depan menjadi lebih besar. (Ata/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik